
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Senyum Vania merekah sesaat seteleh kakinya turun dari mobil. "Kita pulang." desis Vania senang sambil mengusap perut buncitnya.
Dave ikut turun dan berdiri di sebelah istrinya. Vania menatap Mansion rumah mereka dengan penuh kerinduan.
"Ayo masuk!" ajak Dave sambil merangkul pinggang istrinya.
Vania mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Para pelayan dan penjaga sudah bersiap dengan barisan rapi untuk menyambut Tuan dan Nyonya mereka.
Vania tersenyum sambil sesekali menyapa mereka. Para pelayan ikut senang melihat kedatangan Tuan rumah mereka.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya." sapa para pelayan dengan senyum senang. Vania membalas dengan senyum senang juga.
Dave membawa Vania ke kamar mereka untuk beristirahat setelah Jet Lag. Vania masuk dan berbaring di ranjangnya. Dave dengan lembut meluruskan kaki Vania dan memijitnya pelan.
Dave sering membaca Blog mengenai kehamilan dan sadar kalau, kaki seorang ibu hamil akan mudah sakit dan lelah karena membawa bayi di perut mereka.
Semakin besar kehamilan, bukan hanya kaki, namun pinggul dan pinggang pun ikut sakit.
Vania tersenyum melihat kelembutan suaminya itu. Setelah perutnya mulai kelihatan buncit, Vania kesusahan melakukan aktivitasnya setiap hari. Seperti menggunakan sepatu atau mengambil sesuatu yang jatuh ke lantai.
Vania bersyukur Dave selalu ada dengannya di manapun dia membutuhkan pria itu.
"Dave kandunganku sudah masuk minggu 18, kita tidak memeriksa mereka dan mengetahui jenis kelaminnya?" tanya Vania antusias.
"Apa sudah bisa di minggu ke-18?" tanya Dave.
"Sudah." jawab Vania.
"Bagaimana kalau besok saja? Kamu harus beristirahat sekarang!" ucap Dave sambil terus memijat kaki Vania.
"Humm.. Baiklah." jawab Vania pasrah. Vania berbaring perlahan di atas ranjang. Tubuhnya lelah dan rasanya ingin tidur sekarang juga.
Dave menatap lekat istrinya yang perlahan mulai tertidur tenang. Setelah itu, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Vania. Lalu, pergi dari sana setelah mengecup kening Vania lembut.
Dave melangkah menyusuri koridor Mansionnya, masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar.
"Siapkan mobil!" titah Dave pada seorang penjaga pria yang mengangguk sebentar dan langsung pergi menjalankan tugas.
"Aku akan pergi sebentar, jaga Istriku dan siapkan makan siang untuknya! Jika dia bangun sebelum aku sampai, katakan aku pergi ke kantor. Telepon aku jika dia bangun! Mengerti?" ucap Dave panjang lebar kepada kepala pelayannya.
"Baik Tuan."
Dave melanjutkan langkahnya menuju luar Mansion di mana mobilnya sudah terparkir rapi di depan.
Di lain sisi,
Kediaman Addison.
"Permisi Tuan." tampak seorang pria masuk ke dalam ruangan remang-remang tersebut dengan kepala menunduk.
Disana duduk seorang Jason Bruce Addison dengan tampang dinginnya.
"Ada apa?" tanya Jason.
"Tuan, aku sudah mendengar bahwa Nona Vania sudah sampai ke Mansion mereka hari ini." Jason mengangkat kepalanya dengan senyum kemenangan.
"Akhirnya mereka pulang juga." ucap Jason dingin.
"Apa yang akan kita lakukan tuan?"
"Siapkan mobil! Aku, Rose dan Reana akan mengunjungi Mansion mereka." ucap Jason dengan senyum lebar.
"Baik Tuan."
***
Dave turun dari mobilnya dan masuk ke dalam markasnya. Kenzo yang sejak tadi berdiri di depan pintu masuk dan menunggu kedatangan Bosnya, ikut melangkah beriringan bersama Dave.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Dave sambil terus melangkah masuk.
"Tidak ada. Masih belum ada pergerakan apapun. Mereka diam dan menunggu dengan tenang." jawab Kenzo ikut melangkah bersama Dave.
"Ansell?" tanya Dave.
"Dia sudah memberi kabar. 3 bulan dari sekarang dia akan ke luar dari Korea Utara." jawab Kenzo.
"Sepertinya dia menunggu sampai istriku melahirkan." ujar Dave dingin dengan langkah mantap.
Dave membuka pintu mewah di depannya, memasukinya dan duduk di sofa dengan wajah lelah. Kenzo ikut duduk di sana.
"Maksudmu, dia benar-benar mengincar istrimu?" tanya Kenzo.
"Benar."
Bersambung.....