When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 64 - Jason



...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...


Jason Addison, pemilik Perusahaan Addison Corp telah ditahan pagi ini oleh pihak jaksa pengadilan sebagai tersangka utama. Jason Addison terbukti telah menggelapkan data dan dana untuk kepentingan pribadi. Jason Addison juga terbukti bukan pewaris sah perusahaan Addison Corp. Beberapa para pemegang saham yang ikut adil dalam penggelapan tersebut telah diproses dan diamankan secara bersamaan. Jason juga terbukti telah memalsukan surat warisan dari kakak kembarnya agar dapat menggantikan posisi saudaranya yang telah meninggal. Saat ini kursi Presiden Direktur kosong dan para pemegang saham yang bertahan akan mengadakan rapat pengganti Presiden Direktur sesegera mungkin.


Vania menatap berita yang ditampilkan di televisi super besarnya dengan pandangan seksama. Tampak cuplikan ayahnya yang diseret dari rumah mereka. Tampak juga Ibu tirinya dan Reana menangis di belakang melihat Jason dibawa ke kantor polisi. Vania ikut sedih melihat hal tersebut.


Vania merasakan sebuah pelukan hangat di sekitar bawah perut buncitnya. Dave terbangun karena bisingnya suara televisi. Namun, telinganya mendengar jelas berita apa yang tersiar di sana. Dave memeluk istrinya, mencium perutnya sekilas, lalu mencium kening Vania lembut.


"Pagi sayang." sapa Dave.


"Kau benar-benar melakukannya." Vania menghiraukan sapaan Dave dan matanya masih fokus melihat layar televisi.


"Aku sudah mengatakan akan melakukannya." ujar Dave menatap Vania yang tidak meliriknya dengan lekat.


"Bagaimana dengan Mama dan Reana sekarang?" tanya Vania beralih menatap Dave.


"Reana bisa bekerja di manapun dia mau dan menghidupi orang tuanya." jawab Dave.


"Bukan itu Dave. Bagaimana jika.... jika... mereka akan membalas dendam? Aku hanya ingin hidup tenang bersamamu dan anak kita. Keluarga kecil kita Dave. Aku takut tidak bisa bersama dengan kalian. Semakin dekat hingga mereka lahir ke dunia, aku semakin takut setiap harinya. Aku bahagia dan ketakutan tanpa sebab." ujar Vania dengan wajah khawatir.


"Aku takut tidak bisa melihat anak-anakku tumbuh." Vania tak dapat lagi menahan air matanya untuk menetes sejak tadi dan akhirnya Vania menangis pilu.


Vania mengusap perutnya yang begitu besar dan menatapnya lembut. "Aku ingin melihat mereka tumbuh dewasa dan kita berdua menua bersama." ujar Vania sambil menatap Dave sendu dengan air mata bercucuran.


Dada Dave ngilu seketika melihat istrinya yang menangis karena dirinya. Belum lagi Dave menyembunyikan semua hal dari istrinya itu. Dave menunduk sedih dan akhirnya membawa Vania dalam pelukannya.


"Aku yang akan memastikan kau akan tetap bersama dengan anak-anak kita. Tidak ada seorangpun yang bisa memisahkanmu dengan anak-anak kita jika aku masih hidup, aku berjanji." ujar Dave sambil memeluk istrinya erat.


Vania menangis di dada bidang suaminya. Ia ingin memercayainya semua kata-kata Dave dan menenangkan hatinya yang sakit.


Dave mematikan televisi dan menenangkan istrinya yang masih menangis pilu.


"Babies juga akan sedih melihat Mommynya sedih." ujar Dave.


"Aku ingin mendengar mereka memanggilku 'Mommy' Dave." lirih Vania di dalam dada Dave.


Mendengar isakan Vania yang begitu mengiris hatinya membuat tekat Dave semakin kuat untuk menghancurkan siapapun yang mencoba mengusik keluarga kecilnya.


Seujung kukupun mereka menyentuh keluarganya, Dave akan membalasnya beribu kali lipat dengan begitu kejam.


Vania duduk menyelonjor di atas ranjang, sedangkan Dave sibuk mengeringkan rambut istrinya yang basah dan mengoleskan skincare pada istrinya itu.


Setelah selesai membereskan istrinya, Dave yang sekarang membereskan dirinya sendiri. Vania bantu memilihkan pakaian yang akan dikenakan Dave. Hari ini Dave kembali tidak bekerja dan menemani Vania di rumah.


Hingga bunyi deringan ponsel membuat Vania buru-buru mengambil ponselnya yang berdering. Tampak nama Reana tertera di atas sana. Vania ragu untuk mengangkatnya. Vania adalah sosok gadis yang pemberani dan tomboy sejak kecil, namun setelah dia akan menjadi seorang ibu, sisi dingin Vania mulai terkikis dengan sisi lembutnya. Perasaannya juga mudah terguncang karena hamil.


Vania dengan ragu mengangkatnya dan meletakkannya di depan telinga. "Halo."


"Vania, aku tau ini semua ulah suamimu. Kenapa? Kenapa kau tidak melepaskan Papa? Bagaimanapun dia yang merawatmu sejak kamu kehilangan kedua orang tuamu." Reana terdengar sangat marah dan frustasi ditambah isakannya yang memilukan.


"Dia tidak pernah merawatku sejak kecil. Dia tidak pernah menganggapku sebagai anaknya. Dia tidak pernah membacakan dongeng pengantar tidur saat malam. Dia tidak pernah datang ke sekolahku saat aku menerima penghargaan apapun. Dia bahkan tidak memelukku saat aku sedih. Dia menyembunyikan identitasku sejak dulu agar semua orang tidak menyadari keberadaanku. Apa itu artinya dia merawatku?" Mata Vania memanas dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.


"Tetap saja dia adalah bagian keluargamu Vania."


"Aku mulai mempertanyakan istilah 'darah lebih kental dari air' karena nyatanya keluargaku sendiri tidak terasa seperti keluarga untukku. Sahabatku, Vico, Liam, Abel, Samuel dan Dave bahkan lebih hangat dan berharga dari kalian. Paman yang melakukan semua kesalahan ini, maka dia yang harus membayarnya." ucap Vania panjang lebar.


"Aku membencimu Vania, benar-benar membencimu." Setelah itu Reana mematikan sambungan telepon dengan sepihak.


Vania meletakkan ponselnya dengan tenang. Setelah mengeluarkan seluruh unek-uneknya, Vania merasa sedikit lebih baik.


Dave ke luar dari dalam Walk in Closet dengan pakaian casualnya. Dave mendengar seluruh ucapan istrinya dan tersenyum bangga. Dave mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Aku mencintaimu." ujar Dave setelah melepas pangutannya.


Vania menatap suaminya lekat dan sadar jika Dave mendengar seluruh ucapannya di telepon dengan Reana.


"I love you too." jawab Vania dengan senyum lembutnya.


Bersambung...


Maaf aku nggak update sesuai jadwal karena tanggal 8 aku ada acara keluarga, jadi malamnya kelupaan karena capek.


Maaf ya.


Note : next Chapter empat hari kemudian. (13/5)


Bye..😘💜