
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Dave melangkah cepat ke arah ruang interogasinya. Wajahnya tampak datar dan aura membunuh melingkupi tubuhnya. Setelah menyelesaikan tugasnya melakukan skin to skin pada bayi-bayinya, Dave dengan cepat menuju markas miliknya.
Dave membuka pintu besi besar yang berada di bawah tanah markasnya. Suara teriakan nyaring langsung mengisi telinganya. Tampak Reana dan Ibunya di rantai dengan bentuk X bersampingan.
Kenzo tampak menghentikan aksinya yang mencambuki kedua wanita tersebut dengan liar sedangkan Ansell tampak duduk tenang sambil menonton di sofa.
Kenzo menatap Dave yang melangkah ke arah mereka dengan tatapan dingin tak tersentuh. Matanya tajam dan nyalang seperti elang yang siap menerkam.
Memang benar siap menerkam. Tanpa basa-basi Dave langsung mencengkeram leher Reana kuat dan mendorong kepala wanita itu kasar. Memaksanya agar mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk kehilangan tenaga.
Reana menatap sosok Dave dengan wajah takut. Dave seakan siap membunuhnya kapan saja.
"Berani bermain denganku kau Jal*ng Kotor. Kau, Ibumu dan Ayahmu sama menjijikkannya." ujar Dave geram. Rahangnya mengeras saat Reana malah tertawa gembira.
"Bunuh saja kami. Tidak ada lagi yang kami punya di dunia ini. BUNUH SAJA KAMI!" teriak Reana kencang dengan wajah frustasi.
Dave mengeratkan cekikannya dan mendorong kembali kepala Reana.
"Membunuhmu? Tentu saja, dengan senang hati. Namun kau harus merasakan siksaan ini hingga kau gila dan memilih membunuh dirimu sendiri." ucap Dave tajam, lalu melepas cekikannya.
"Bagaimana jika Ibumu lebih dulu?" tanya Dave sambil tersenyum miring dan ikut bergabung di sofa bersama Ansell. Reana menggeleng takut sambil menatap Ibunya yang sudah kehilangan tenaga.
Kenzo bersiap dengan cambuknya dan tersenyum miring ke arah ibu-anak tersebut. Kenzo mengambil ancang-ancang, lalu melibas kencang perut Ibunya.
Teriakan wanita paruh baya itu terdengar begitu keras dan kencang ketika cambukan tersebut menyentuh kulitnya. "HENTIKAN! JANGAN MAMA! AKU SAJA. HENTIKAN KALIAN IBLIS!" teriak Reana sambil menatap ibunya sedih. Reana memberontak hingga rantai yang menjerat tubuhnya berbunyi kencang.
Kenzo tak peduli. Kembali ia layangkan pecutan tersebut kearah punggungnya. Teriakan terus menerus mengisi ruangan tersebut dengan iringan suara tangis Reana.
"Berhenti!" titah Dave.
Kenzo mengehentikan kegiatannya. "Bagaimana? Puas melihat orang yang kau sayangi terluka di depan matamu?" tanya Dave sinis.
Reana menatap Dave tajam. "Mama tidak salah, aku yang salah. Kenapa kalian menghukumnya?" tanya Reana sambil menangis kalut.
"Vania juga tidak salah. Aku yang melengserkan Ayahmu. Kenapa kau melukainya dan anakku?" tanya Dave dengan rahang mengeras. Mengingat istrinya yang terbujur lemah di rumah sakit kembali membuat amarahnya naik.
"Karena aku membencinya. Sejak kecil dia merebut apapun dariku. Termasuk kau, dia merebutmu dariku." teriak Reana sambil memangis tersedu.
"Vania tidak pernah merebut milik orang lain. Dia tidak serakah dan egois sepertimu." ujar Dave dingin.
Reana menangis pilu. "Vania akan membencimu jika kau membunuh kami. Vania akan membenci pembunuh sepertimu." ujar Reana dengan senyum sinis yang tiba-tiba muncul dari wajah sedihnya.
Dia sudah gila. Tiba-tiba tersenyum, tertawa dan sedih. Wajah Dave datar sambil menatap Reana dingin.
"Ya, dia akan membenciku jika aku membunuh keluarganya. Bahkan setelah dia terlukapun, dia akan memaafkanmu dengan begitu mudah. Kau sudah tau aku tidak akan membunuh kalian. Tetapi bukankah sudah kukatakan? Nikmati siksaan ini, hingga kau tak tahan untuk mengakhiri hidupmu sendiri." ujar Dave dingin, lalu melangkah keluar.
"Kenzo, kau tau apa yang harus dilakukan." ujar Dave yang dibalas anggukan paham oleh Kenzo.
Reana menatap punggung Dave dengan mata memerah tajam. Ia marah mendengar kata-kata Dave.
Dave keluar dari sana dengan suara teriakan yang kembali terdengar. Dave memutuskan untuk ke rumah sakit sekarang.
***
Dave menatap istrinya yang terbaring di ranjang rawat inap dengan selang infus di tangannya. Dave dengan senantiasa berada di samping istrinya dan menatap wajah Vania lekat.
Dave mengelus lembut rambut Vania sambil berbisik nyaring. "Bangun sayang, kamu tidak ingin melihat anak-anak kita?" tanya Dave lembut. Matanya menatap lekat wajah istrinya, lalu mengecup kening istrinya lembut.
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok sahabat-sahabat Vania.
Abel tampak membawa buah-buahan dan meletakkannya di atas meja nakas. Samuel menghampiri Dave, lalu menggenggam bahu Dave.
"Kau pulanglah! Kami akan menjaga Vania di sini. Benahi dirimu! Kau tidak ingin Vania khawatir melihat keadaanmu sekarang bukan?" ujar Samuel.
Dave tak menoleh, namun dia mengiyakan perkataan Samuel dipikirannya.
Dave bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Aku tau bocah. Jaga istriku! Aku akan segera kembali." ujar Dave, lalu melangkah keluar dari sana.
Samuel, Abel, Liam dan Vico senantiasa menunggu Vania dan menjaga sahabatnya itu.
Abel dengan semangat bertanya di mana bayi-bayi mungil Vania berada pada Lia. Lia menjawab sambil tersenyum pada Abel.
Lia mengatakan akan menyuruh perawat membawa bayi kembar Vania kemari. Liapun melangkah keluar dari sana.
"Aku sudah menjadi Aunty." ujar Abel gembira sambil duduk kembali di sofa.
Abel duduk di sebelah Liam sambil memeluk manja kekasihnya itu. Pintu kembali terbuka beberapa saat kemudian, menunjukkan dua troli bayi yang masuk ke dalam ruangan.
Abel dengan semangat bangkit dan melihat bayi-bayi mungil Vania. Saking hebohnya, Abel tak henti-hentinya mengabadikan kedua bayi mungil tersebut dengan ponselnya.
"Jangan berisik Bel, mereka sedang tertidur!" ujar Samuel.
Abel cemberut mendengarnya. Samuel selalu berhasil mengganggu kesenangannya. Abel kembali ke tempat duduknya dengan tak rela, membiarkan perawat membawa kembali keponakan imutnya keluar dari sana.
"Eghh." Hingga suara lenguhan menyadarkan mereka. Samuel buru-buru menghampiri Vania yang perlahan membuka matanya, disusul ketiga sahabatnya yang lain.
"Zee kamu sadar."
"Sakit." desis Vania merasakan sakit di bagian perutnya. Vania mengelus perutnya dan sadar jika perutnya tidak lagi besar.
Seketika Vania panik mengingat kejadian yang menimpanya. "Anak-anakku." ujar Vania panik.
Samuel menahan Vania. "Tenang Zee, Your Babies is save." ucap Samuel menenangkan Vania. Vania mendesah tenang dan kembali meringis merasakan sakit di perutnya.
"Dave?" tanya Vania sambil menatap Samuel.
"Dia akan datang sebentar lagi." jawab Samuel. Vania mengangguk pelan.
Abel mengelus rambut Vania lembut. "You're a best Mommy Van." ujar Abel.
Vania tersenyum mendengarnya. Abel mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto-foto anak Vania.
Vania menatap takjub ponsel Abel. Mengelus foto anak-anaknya lembut.
"My Babies." desis Vania hingga tanpa sadar air matanya luruh. Ini adalah air mata bahagia. Bahagia ketika ia bisa melihat anak-anaknya lahir ke dunia.
Bersambung....
Next : Next 22/5
Bye...😘