
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Dave dan Vania menatap kedua bayi mereka dengan wajah lembut. Sahabat-sahabatnya telah pamit setelah Dave datang kembali karena menerima kabar dari Lia bahwa Vania sudah sadar.
Dave langsung memeluk istrinya erat dan mengecupi seluruh wajah Vania. Vania ikut tersenyum gembira.
Dan di sinilah mereka sekarang bersama dengan kedua anaknya.
"Kamu bilang sudah mendapatkan nama untuk mereka. Apa nama mereka Dave?" tanya Vania.
Dave mengelus pipi putra pertamanya. "Devian Nathan Raveno."
Lalu mengelus pipi putra keduanya. "Devano Malvin Raveno."
Vania tersenyum mendengarnya. Dia suka nama itu. "Aku suka." ujar Vania sambil menatap suaminya dengan senyum gembira.
Dave menatap istrinya lekat, lalu mengecup bibir Vania penuh kelembutan. "I love you Baby." ujar Dave disela pangutannya. Vania tersenyum dan kembali memangut bibir Dave.
Hingga terdengar suara tangisan Devian yang menginterupsi kegiatan kedua orang tuanya. Vania buru-buru mendorong Dave menjauh, lalu menatap anaknya yang menangis.
"Why Baby? Kamu haus?" tanya Vania lembut dan seketika melupakan keberadaan suaminya.
Dave mendengus namun berusaha bersabar. "Mungkin haus sayang." ujar Dave lembut.
Dave memanggil suster masuk. Menyuruh suster mengangkat anaknya dari box bayi dan menyerahkannya pada Vania untuk disusui.
Kenapa tidak Dave saja yang gendong? Karena Dave tidak pernah berpengalaman dengan anak kecil. Dave tidak berani menggendong anak-anaknya.
Dave menatap Vania yang menyusui Vian sedangkan dirinya menatap putranya satu lagi yang tampak diam. Vano tampak diam walau dia sudah bangun. Anaknya yang satu ini tampak pendiam dan tenang.
"Vano, you want have a drink too hummm?" tanya Dave sambil menatap anaknya.
Vano tampak diam tak membalas dengan ekspresi apapun. Vano tidak rewel seperti Vian, bahkan bayinya itu begitu tenang sambil sesekali memakan jarinya sendiri.
Bayi tidak menangis bukan artinya dia tidak haus. Bayi harus rajin minum agar tidak dehidrasi. Setelah menyusui Vian, Vania berganti menyusui Vano.
Vania menatap anak keduanya dengan lekat. Vania mengusap pipi lembut Vano yang sedang menyusu padanya.
"Vano tampak pendiam." ujar Vania pada Dave. Dave mengangguk menyetujui.
"Vano keluar terlalu lama, sehingga terdapat lendir di area pernapasannya. Vano sempat tidak menangis dan kesulitan bernafas, untungnya dokter dengan cepat menyelamatkannya." Vania menatap Vano lekat dengan pandangan sedih. Vania bersyukur anaknya ini selamat. Vania mengecup kepala Vano lembut.
"Syukurlah." ujar Vania pelan.
Dave melangkah mendekati istrinya, lalu mencium puncak kepala Vania. "Hari ini sudah terlalu banyak kejadian yang membuatku panik setengah mati. Aku berjanji akan menjaga kalian." ucap Dave dengan senyum lembutnya.
Vania tersenyum menatap Dave, lalu mengangguk.
***
Lima hari Vania berada di rumah sakit menjalani masa nifasnya, akhirnya Vania dapat pulang. Walau masih sakit di area perutnya, Vania dengan semangat kembali ke mansion mereka bersama kedua putranya.
Vania mulai dapat bergerak bebas setelah tiga minggu keluar dari rumah sakit. Perutnya juga sudah lumayan enak. Vania dan Dave belajar menjadi orang tua dengan sangat kesulitan.
Tanpa bantuan orang tua mereka yang seharusnya mengajarkan Vania dan Dave menjadi orang tua yang baik, sepasang suami-isteri itu hanya membayar suster khusus untuk mengajari mereka berdua.
Dave belajar menggendong puteranya dengan takut-takut, walau akhirnya berhasil. Lalu Dave belajar memasang popok mati-matian.
Vania termasuk cepat belajar dan tanggap. Vania tau bagaimana cara menenangkan anaknya jika rewel dan bermain bersama mereka.
Hingga tiga bulan berlalu, Vania dan Dave memutuskan sudah dapat merawat anak-anaknya tanpa bantuan suster.
Hari ini Vania berkumpul bersama sahabat-sahabatnya di mansion. Dave? Dia bekerja.
"Ponakan Aunty gantengnya." ujar Abel sambil menggendong Vian. Abel senang sekali berbicara dengan Vian, bayi itu akan tersenyum saat mendengar pujian-pujian Abel.
"Jadi, kalian memutuskan melanjutkan study ke luar negeri?" tanya Vania sambil mengelus punggung Vano naik turun di gendongannya.
Vano akan menangis jika di gendong oleh orang lain, selain Dave dan Vania. Tidak seperti Vian yang dengan gembira berada di tangan siapapun.
"Iya." jawab Samuel.
"Kenapa tidak di sini? Di sini juga bagus kan?" ujar Vania sedih.
"Masih ada aku dan Liam Vania." cibir Abel.
"Papa menyuruhku berkuliah di tempat yang dia inginkan." ucap Sam. Vania menunduk sedih.
"Lihat Uncle Sam baby, dia jahat dengan Mommy." ujar Vania pada Vano. Samuel terkekeh melihat tingkah Vania.
"Kalian harus sering pulang ke sini dan main ke sini ya?" ujar Vania pada Samuel dan Vico, lalu dibalas anggukan oleh kedua pria itu.
"Maaf kalau nggak bisa anterin kalian ke Bandara."
"It's okay."
Mulai hari itu, sahabatnya mulai jarang main ke Mansion dikarenakan sibuk kuliah, membuat Vania ingin berkuliah juga. Dia tidak ingin hanya lulusan senior high school saja. Namun, anak-anaknya masih terlalu kecil sekarang.Jadi, Vania mengundurnya sampai ia merasa ssiap dan anak-anaknya sudah sedikit besar.
Di ain sisi.
Ansell tampak sibuk dengan komputernya. "Bagaimana pergerakannya?" tanya Dave.
"Musuhmu kali ini kuat Dave. Dia tampak pintar dan licik. Ini beberapa data orang yang bekerja sama dengannya. Mereka semua adalah orang yang memiliki dendam padamu." ujar Ansell menyerahkan lembaran kertas pada Dave.
Dave membuka lembaran demi lembaran kertas tersebut. "Jika mereka bersatu, tentu saja akan sangat kuat." ujar Kenzo angkat suara.
"Siapa dalang dibalik ini semua?" tanya Dave.
"Aku mendapatkan satu data mengejutkan. Kemungkinan besar dialah orangnya." ujar Ansell menyerahkan selembar kertas lagi pada Dave. Dave menatapnya lekat tanpa suara.
"Mengejutkan, aku membongkar identitasnya dalam tiga bulan lebih. Kau tau sendiri paling lama aku membongkar sesuatu hanya dalam satu bulan dan itupun hanya satu kasus tentang Perang Israel dan Palestina. Dia memiliki orang yang sama menakjubkannya seperti diriku." ucap Ansell panjang lebar.
"Pantas saja selama ini keamanan ketat dan canggih buatanku dapat dibobol dengan mudah. Dapatkan orang itu Dave, dia akan sangat berguna." tambah Ansell lagi menyisakan Dave yang terdiam dengan mata menatap lekat kertas di depannya.
***
Usia Vano dan Vian menginjak enam bulan. Vania sudah mulai memberikan makanan penunjang ASI mulai saat ini.
Vania berada di kamarnya bersama Lia dan anak-anaknya. Vania asik bermain dengan Vian dan Vano sambil sesekali mengecup gemas kedua anak tampannya itu. Dave? Dia bekerja lagi.
Hingga, suara keributan dari bawah berhasil membuat Vania menatap Lia takut. Vania tercengang saat suara tembakan mulai terdengar. Tembakan bertubi-tubi yang memekakan telinga. Lia buru-buru mengunci kamar dengan panik.
"Nyonya, anda harus berlindung!" ucap Lia sangat panik.
"DIMANA NYONYA KALIAN?" teriakan tersebut mulai dekat.
Mereka mencari Vania. Jika mereka bersembunyi di ruang rahasia Dave, besar kemungkinan mereka akan di temukan, mengingat mereka sepertinya adalah orang-orang handal.
Vania menyuruh Lia menggendong Vian dan ia menggendong Vano dengan begitu cepat.
Vania masuk ke arah walk in closet, meraih sebuah tombol di balik baju yang bergelantungan dan terbukalah pintu tersembunyi di sana. Vania dan Lia masuk ke dalam dan tertutuplah pintu tersebut.
Terdengar suara pintu kamarnya terbuka dengan begitu keras. "CARI TEMPAT PERSEMBUNYIAN MEREKA!" Vania keringat dingin saat pintu walk in closet terbuka. Vania panik. Jika mereka menemukan anak-anaknya, Vania tidak tau apa yang akan mereka perbuat pada kedua anaknya.
Vania membuka pintu yang selaras dengan tembok. Ruangan kecil tempat penyimpanan anggur.
"Masuk Lia!" Lia masuk ke dalam dengan patuh. Setelah Lia masuk, Vania menyerahkan Vano dalam gendongannya pada Lia.
"Nyonya." panggil Lia sedih.
"Tolong selamatkan anakku! Mereka tidak akan berhenti sampai mereka berhasil mendapatkanku." Lia menggeleng dengan penuh air mata.
"Nyonya mereka...."
Vania menoleh saat terdengar pintu rahasianya mulai didobrak. Mereka sudah menemukan ruangan tersembunyi ini.
"Jangan bersuara. Selamatkan anakku!" ucap Vania. Vania menatap kedua wajah anaknya sebentar dan tak dapat menahan tangisnya lagi.
Vania buru-buru menutup pintu tersebut dan berdiri sambil meneteskan air matanya. Pintu terbuka keras. Vania menatap orang-orang dengan pakaian serba hitam dan senjata di tangan mereka. Vania dapat melihat bercak-bercak darah di pakaian mereka.
Vania terdiam saat orang-orang tersebut menyeretnya dengan kasar. Vania menatap lantai dasar di mana banyak mayat berjatuhan dengan penuh darah di lantai. Para penjaga dan beberapa pelayan mati mengenaskan.
Bahkan di luar rumah, banyak sekali para pengawal yang tewas dengan simbahan darah.
Vania diseret masuk ke dalam mobil dan membawanya entah kemana. Dia hanya berharap Dave dapat menyelamatkannya.
***
Dilain sisi.
Dave mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Dua puluh menit yang lalu, Ansell menghubunginya dan memberitahu sistem keamanan Mansionnya rusak.
Dave yang sedang meeting langsung saja bergegas, tak peduli dengan pekerjaannya. Begitupula Kenzo yang langsung bergegas menuju Mansion.
Dave menuruni mobilnya dan berlari di antara lautan darah dan orang-orang yang tewas berserakan di lantai.
Dave berlari ke kamarnya dan tak menemui siapapun di sana. Dave beranjak ke ruang rahasianya dengan sangat panik.
"Vania." panggil Dave.
"Tuan." Dave menoleh ke arah pintu penyimpanan anggur dan membukanya dengan cepat.
Tampak Lia bersama anak-anaknya bersembunyi dengan wajah penuh air mata. Dave langsung menggendong Vano di tangannya.
"Nyonya dibawa pergi, Nyonya menyerahkan dirinya Tuan." ucap Lia sambil menangis.
Dave terdiam dengan wajah marah. Dave melangkah ke luar dan membaringkan Vano ke atas ranjang.
"Jaga Vano dan Vian, aku akan mendapatkan Vania kembali." ucap Dave, lalu pergi dari sana.
Bersambung...
Note : update next besok.
Bye...😘