
Dave menatap ibunya menuruni anak tangga dengan anggun sambil melempar senyumnya seakan tak terjadi apapun.
"Hai son. "Lerry, adalah ibu kandung dave.
"Dimana kekasihku? "Tanya dave dingin.
"Apa maksudmu son? "tanya lerry dengan wajah bingungnya.
"Berpura-pura bodoh? Dimana dia sebelum aku menghabisimu. "Ujar dave dengan mata pembunuhnya.
"DAVIN... "
davin menoleh kearah sumber suara dan mendapati kate turun dari tangga sambil berlari dengan senyum lebarnya. Setelah sampai, kate langsung memeluk tubuh dave dengan erat.
"Lepas! "Dave menghempaskan tubuh kate kasar agar menjauh dari tubuhnya.
"Davin, jangan kasar dengan tunanganmu! "Ujar lerry tegas.
"Diam! Atau aku benar-benar akan meledakkan tempat ini sekarang juga. "Ujar dave dingin.
"Jika kau meledakkan tempat ini, kekasihmu juga akan ikut terbakar davin. "Ujar kate keceplosan dan segera menutup mulutnya. Dave tersenyum sinis lalu melangkah menuju lantai dua.
"Kenapa kau bodoh sekali katherine. "Ujar lerry kesal dan marah menatap calon menantunya yang sangat bodoh itu.
"Baby. "Dave berteriak dan membuka satu persatu pintu yang ia lalui dan mengecek kedalamnya.
Sampai akhirnya pintu ketiga, dave menemukan vania yang terikat diatas ranjang dengan mulut terlakban. Vania menatap kearah dave dengan mata melotot. Dave dengan cepat mendekat dan melepas seluruh tali serta lakban dibibir kekasihnya.
Dave meraih tubuh vania dan membawanya kedalam pelukan. Dave mengecup Puncak kepala vania dengan penuh rindu.
"Aku gila dalam sekejab. "Ujar dave sambil mengusap kepala vania lembut.
"Ibumu yang menculikku? "Ujar vania.
"Ya. "Jawab dave.
"Tenanglah baby. "Jawab dave dengan tenang. Vania menatap dave lekat dan menemukan ketenangan dari mata kekasihnya itu.
"Pulang! "Vania memeluk leher dave dan menenggelamkan wajahnya dilekukan leher dave. Dave dengan perlahan mengangkat tubuh kekasihnya dengan lembut. Vania merasa tenang mencium aroma kekasihnya seperti ini. Menikmati tubuhnya yang terayun-ayun dalam gendongan dave.
Dave melewati ibu nya serta kate dengan begitu dingin. Matanya tak menatap mereka sama sekali. Sedangkan lerry terdiam dengan bibir berkedut menahan amarah.
Dave meletakkan tubuh vania perlahan keatas ranjang takut gadisnya terbangun karna pergerakannya. Dave menatap dalam wajah vania dan tangannya mengusap pipi vania dengan lembut.
"Maafkan aku. "Lirih dave lalu mengecup lembut pipi vania lalu mengecup keningnya perlahan.
Saat dave mengangkat wajahnya untuk menjauh, tubuhnya ditarik kembali oleh tangan Vania yang melingkari tengkuknya. Dave menatap mata Vania yang perlahan terbuka dan membalas tatapannya dengan lembut.
"Jangan pergi! "Dave tersenyum lembut lalu membaringkan tubuhnya disamping kekasihnya. Vania bergerak menghadap dave yang juga tidur menyamping menghadapanya.
Mereka saling menatap lembut seakan berbicara dengan mata. Tangan dave mengusap pipi vania lembut sedangkan vania mengelus rahang dave yang tegas.
Dengan perlahan vania memajukan wajahnya meraih bibir dave dan menciumnya lembut. Dave tersenyum semakin lebar, tangannya beralih memeluk pinggang vania dan menarik tubuh mereka semakin dekat.
Vania melepas pangutannya dengan bibir yang masih saling berdekatan. Dave kini mengambil alih dan beranjak mengurung vania dibawah nya. Dave mendekatkan wajahnya dan mencium vania dengan begitu agresif. Tangan vania terulur meraih rambut lebat dave dan meremasnya gemas.
"Damn.. "Dave mengumpat disela ciumannya saat merasakan nafsu menjalar naik ditubuhnya. Tangannya beralih memasuki atasan vania dan menggerayangi tubuh kekasihnya.
Lumatannya beralih turun keleher vania dan pundaknya yang terekspos karna ia menggunakan atasan dengan model Sabrina. Dave seakan kehilangan pengendalian diri dalam sekejab. Vania pun hanya dapat mengeram menikmati permainan dave pada tubuhnya.
Eghh...
Lenguhan keluar dari bibir manis vania saat merasakan dave menghisap kuat lehernya yang pasti meninggalkan bekas kemerahan disana. Dave terengah berusaha mengumpulkan kesadarannya. Vania menatap dave yang terengah diatasnya, mencoba menahan diri untuk tidak menyentuhnya lebih dalam lagi.
Vania mengusap pelipis dave yang mengeluarkan keringat dengan gerakan lembut. Dave terdiam masih mencoba mengendalikan nafsunya dengan nafas terengah. Vania menatap iba wajah dave yang kalut dengan nafsu namun harus menahannya. Seharusnya vania tidak memulai agar dave tidak tersiksa seperti ini.
Vania menyugar rambut dave yang berantakan kearah belakang. Sehingga menampilkan secara jelas wajah tersiksa dave yang sejak tadi tertutupi oleh rambutnya.
"maafkan aku. Seharusnya aku tidak memulai tadi. "ucap vania dengan perasaan bersalah. Vania masih menatap dave yang berada diatasnya. Dengan gerakan lembut vania kembali menyugar rambut dave kebelakang lalu menahan rambut dave agar tidak kembali jatuh menutupi matanya.
Cup..
Vania mengangkat kepalanya dan mencium kening dave lembut, lalu kembali menatap dave dan sesekali mengusap keringat yang mengucur disekitar pelipis dan keningnya. Dave mengangkat wajahnya lalu menatap vania yang tersenyum manis padanya.
"kau benar-benar kejam. "ujar dave dengan hembusan nafas kasar. Lalu mengecup kening vania lembut dan beranjak dari ranjang.
"jangan menahanku atau aku akan benar-benar hilang kendali. "ujar dave singkat lalu melangkah menuju kamar mandi. Vania terpaku sampai akhirnya ia mendengar suara shower mengalir.
Bersambung.....