When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 59 - Boys?



...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...


Vania terdiam di balkon sambil menikmati semilir angin malam yang menusuk kulitnya.


Vania tak terusik sedikitpun dengan sejuknya angin yang menerpa tubuhnya yang hanya terbalut gaun tidur tipis.


Vania tampak terdiam dan bergulat dengan pikirannya. Hingga tak menyadari pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Dave dengan jubah mandinya.


Dave menatap punggung istrinya yang terdiam di balkon. Dengan perlahan Dave melangkah mendekati istrinya.


Vania tersentak kaget saat sebuah tangan melingkari perutnya. "Angin malam tidak bagus untukmu." ujar Dave.


Vania terdiam dan ikut memeluk lengan Dave yang berada di perut buncitnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Dave.


Vania menggeleng sambil mengusap lengan Dave. "Aku hanya khawatir." ujar Vania pelan.


"Khawatir apa? Keluargamu?" tanya Dave.


Vania terdiam sejenak dan akhirnya mengangguk. Dave membuang nafas kasar mengetahuinya.


"Berhenti memikirkan banyak hal Vania, kamu tidak boleh stress! Itu akan mengganggu kehamilanmu." ujar Dave.


Vania menunduk sedih. "Bagaimana nasib mereka jika mereka terlulu-lantang di jalanan?" ujar Vania. Dave mendengus, lalu memutar tubuh Vania untuk menghadap padanya.


"Aku akan merebut Addison's untukmu. Jika kamu mengkhawatirkan mereka, aku akan menyisakan beberapa persen saham untuk mereka. Namun, Addison akan tetap kembali pada pemilik yang sesungguhnya." ujar Dave. Vania tersenyum mendengarnya. Setidaknya dia lega mendengar kalau keluarganya itu tidak akan terbuang di jalanan.


Valerie memang membenci mereka, namun dia bukanlah orang yang suka membalas dendam. Membuat Jason kehilangan hak atas Addison's sudah cukup untuknya.


Vale memeluk leher Dave dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dave.


"Terimakasih." bisik Vania. Dave tersenyum dan balas memeluk istrinya walau kesusahan karena perut buncitnya.


"Kamu harus tidur sekarang!" ujar Dave. Vania mengangguk dan melangkah ke dalam kamarnya. Dave menutup pintu balkon, lalu menyusul istrinya yang mencoba berbaring dengan perlahan.


Dave memeluk Vania sambil mengusap perut Vania.


"Jadilah anak yang berbakti! Ingat, Mommy kalian benar-benar kesulitan harus membawa kalian ke mana-mana." ujar Dave. Vania tersenyum mendengarnya.


"Tidak apa-apa, itu karena Mommy mencintai kalian." ucap Vania.


"Mommy tidak sabar bertemu dengan kalian." tambah Vania lagi.


Hingga akhirnya, kantuk menyerang mereka dan membawa mereka ke alam bawah sadar.


***


Vania bangkit berdiri dari sofa ruang keluarga sambil membawa sebuah gelas di tangannya. Vania tampak menyeduh jus jeruk ke dalam gelasnya.


Setelah itu kembali duduk di sofa. Vania menatap Dave yang sibuk dengan laptopnya, sedangkan dia sejak tadi sibuk menonton televisi.


"Dave, pukul berapa kita akan konsultasi?" tanya Vania sambil mengusap perutnya.


Dave menoleh menatap Vania, lalu melirik jam di tangannya.


"Pukul 2 siang." jawab Dave. Dengan cepat Vania menatap jam di tangannya.


"Sekarang pukul 1, aku akan bersiap-siap." ujar Vania sambil bangkit berdiri. Dave tersenyum tipis melihat tingkah antusias istrinya.


Ya bagaimana tidak? Hari ini mereka akan mengecek kelamin anak kembar mereka.


Vania siap dengan gaun biru langitnya yang tampak Indah di tubuh Vania walau dia sedang berbadan tiga. Lalu flatshoes putih dengan hiasan kupu-kupu biru di sekitarnya.


Dave bangkit berdiri setelah melihat istrinya menghampirinya dengan senyum merekah. Dave menarik kepala Vania dan mencium bibir istrinya yang tampak menggoda.


Istrinya ini benar-benar menggoda saat sedang hamil.


Vania tersenyum saat Dave mencium lama dirinya. Dave tampak tak ingin melepas tautan mereka. Vania mendorong bahu Dave dan menatap Dave dengan senyum geli.


"Bersiaplah!" ujar Vania dengan semburat merah di pipinya.


Dave menatapnya lekat, lalu pergi setelah mengecup pipi merah Vania.


Tak butuh waktu lama, Dave turun dengan baju casualnya, namun tampak rapi dan bergaya di tubuhnya. Setelah selesai bersiap, Dave dan Vania pergi ke rumah sakit dengan mobil mereka.


Rumah Sakit


Vania masuk ke dalam ruang khusus kandungan. Vania disuruh berbaring oleh salah satu perawat wanita di sana. Lalu, dokter kandungan wanita tersebut tampak mengoleskan cairan dingin ke perut buncit Vania.


Ia meletakkan sebuah alat di atas perut Vania, menggesernya beberapa kali sambil menatap ke arah monitor.


"Kedua janin tumbuh normal, beberapa bagian tubuhnya sudah mulai lengkap satu-persatu." ujar dokter. Vania dan Dave melempar senyum satu sama lain.


"Bagaimana dengan jenis kelaminnya dokter?" tanya Vania antusias.


"Keduanya laki-laki." jawab Dokter tersebut sambil melempar senyum pada Vania.


Dave tampak tersenyum senang. Dugaannya benar. Kedua anak mereka adalah laki-laki. Vania tersenyum bahagia sambil terus menatap monitor yang menunjukkan pergerakan buah hatinya.


Hatinya menghangat, kedua anaknya tumbuh dengan baik di dalam dirinya.


Bersambung...


Ohh iya, Mangatoon ngupdate versi lebih baik lagi loh. Ayo cobain fitur Chat dengan penulis cerita. Ayo gabung di grup Chatku Violet Slavny.


Kalian bisa saling menyapa sesama pembaca dan mengajukan pertanyaan apapun. Kalian bisa berkeluh kesah di sana tentang cerita ini. Bisa tanya-tanya juga kalau kalian bingung.


Ayo gabung😊😊