
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Ansell tampak sibuk menarikan jarinya di atas keyboard. Dave menatap lekat ke arah layar besar di depannya.
"Lewis Kolosov putra Albert Kolosov yang mencoba membunuh istrimu saat kecil. Albert telah dibunuh olehku dan kini anaknya yang memimpin klan Kolosov. Yang tidak biasa adalah Lewis sahabat kecil istrimu sebelum ia Amnesia. Dia, Lewis dan Samuel, mereka selalu bertiga." ujar Ansell panjang lebar.
"Dia memiliki beberapa Mansion dan Penthouse atas namanya. Aku kirimkan lokasinya di ponselmu." ujar Ansell. Dave menatap ponselnya yang kini menunjukkan beberapa lokasi Mansion pria tersebut.
"Kira-kira ada tujuh lokasi. Namun, aku yakin lokasi inilah tempat di mana dia mengurung Istrimu." ujar Ansell sambil memfokuskan satu lokasi Mansion.
"Penjagaannya ketat, beberapa CCTV sudah diretas dengan satelit. Beberapa kelompok yang bersatu dan melawanmu akan sampai ke mansion miliknya. Pergilah, aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu." ujar Ansell sambil memberikan ear piece pada Dave.
Dave memakai alat tersebut dengan cepat, lalu melangkah menuju gudang senjata. Membuka sebuah pintu besi berkilat yang tampak indah dan mewah dengan sidik jarinya.
Pintu besi tersebut terbuka dan terpampanglah gudang senjata yang begitu melimpah dan banyak di sana. Jangan lupakan Dave adalah Pemilik Perusahaan pemroduksi senjata api paling besar di Dunia.
Dave mengambil dua buah Desert Eagle miliknya di sebuah kotak kecil di dalam lemari tembok. Sebuah Hand gun yang sudah sejak lama menemaninya.
Dave melangkah keluar dari sana dengan dua senjata di tangannya. Kenzo mengikuti Dave tanpa suara. Semua sudah siap, para pasukan kebanggaan Dave bahkan ia keluarkan.
Kenzo memasuki mobil di bagian pengemudi diikuti Dave di sampingnya. Kenzo melajukan mobilnya dengan cepat menuju lokasi yang dituntun oleh Ansell dari markas mereka.
"Ingat seseorang yang mampu menyaingi kehebatanku? bawa dia kepadaku!" ujar Ansell pada Kenzo dari alat di telinga Kenzo.
Kenzo tak menjawab dan melajukan mobilnya semakin cepat.
***
Vania menatap sosok Lewis yang memasuki kamar dengan nampan di tangannya. Lewis melangkah mendekati Vania dan meletakkan nampan tersebut ke atas nakas.
Lewis melangkah ke area bawah kasur, mengeluarkan kunci dari kantung celananya dan melepas borgol di kedua kakinya.
Vania bersusah payah untuk duduk dengan keadaan tangan terborgol di tiang ranjang.
"Makan, biar aku suapi." ujar Lewis lembut.
Vania tidak membantah. Ia membuka mulutnya dengan sukarela, bahkan tidak menaruh curiga jika makanan tersebut diracuni. Vania mengunyah makanannya dan menatap Lewis lekat.
"Maafkan Dave jika dia membunuh Papamu." ujar Vania pelan. Walau Papa Lewis sudah membuat kenangan paling buruk dihidupnya hingga ia jatuh ke kegelapan, ia bersyukur ada Dave yang mengangkatnya dari kegelapan tersebut.
"Terimakasih sudah menolongku hari itu." ujar Vania lagi.
Lewis menatap mata Vania lekat. "Kau sudah mengingatku?" Vania mengangguk mengiyakan.
Lewis tersenyum gembira mendengarnya. "Sejak kecil aku menyukaimu. Sejak aku melihatmu bermain dengan Samuel di taman dengan rambut panjang indahmu ditambah senyum kecilmu hari itu, membuatku merasa iri dengan Samuel karena bisa berdekatan denganmu." ujar Lewis. Vania yakin Lewis adalah orang yang baik.
"Aku tau kau orang baik Lewis. Lepaskan aku! Aku harus kembali." ujar Vania pelan sambil menatap Lewis teduh.
Lewis menggenggam sendok di tangannya erat setelah mendengar ucapan Vania. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu." Lewis menatap tajam Vania.
Bunyi ketukan pintu memutuskan rasa mencekam di antara Lewis dan Vania. Seorang tangan kanan Lewis masuk dengan kepala menunduk.
"Tuan, rekan-rekan anda sudah berkumpul di ruang pertemuan." ujarnya.
Lewis mengangguk meletakkan kembali mangkuk tersebut ke atas nampan. Lewis bangkit berdiri dan keluar dari sana tanpa membuka mulutnya sedikitpun.
Tak lama setelah kepergian Lewis seorang pelayan wanita masuk dan menggantikan tugas Lewis yang belum selesai.
***
"Bagaimana selanjutnya? Segera balaskan dendamku pada Davin." ujar salah satu pria di sana.
"Tenang saja, kita sudah memiliki kelemahan pria itu." ujar Lewis.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Pintu terbuka dan muncul sosok pria tinggi dengan wajah datar dan dingin. Ia melangkah menuju Lewis dengan tubuh tegap. Ia bahkan tak merasa takut berada di antara para petinggi underground.
"Dia bergerak kemari bersama dengan pasukannya." ujar Pria tersebut. Ia terlihat tampan dengan wajah tanpa ekspresi begitu.
"APA?" Lewis berteriak kaget. Seharusnya dia tau ini akan terjadi secepat ini.
"SIAPKAN PASUKAN KALIAN DAN BAWA KEMARI!" teriak Lewis pada para petinggi tersebut. Mereka semua tampak mengangguk dan buru-buru menelepon untuk memanggil anak buah mereka masing-masing.
"Dasar bodoh." desis pria tampan itu pelan, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Lewis melangkah cepat menuju kamar di mana Vania berada. Vania tampak duduk di atas kasur dengan wajah merenung. Lewis memanggil beberapa anak buahnya untuk berjaga di dalam kamar.
Vania mengernyit saat Lewis memanggil pengawal ke dalam kamarnya. Totalnya ada tujuh pengawal di dalam kamar ini dengan wajah dingin.
Lewis kembali keluar dari kamar tersebut dan mengunci kamar tersebut dari luar.
"Berapa lama lagi mereka sampai kemari?" tanya Lewis pada seseorang di balik alat yang berada di telinganya.
"Sepuluh menit." jawab seseorang di seberang sana. Lewis mengepalkan tangannya dan melangkah menuju ruang pertemuaan.
Lewis mengambil sebuah pistol di bawah mejanya dan menginteruksi yang lainnya untuk memegang senjata mereka.
Yang mereka lawan adalah Dave, sosok pemegang dunia kegelapan. Mereka tidak tau apa yang akan terjadi jika membuat iblis itu marah.
"Mereka sampai." ujar seseorang di balik alat telinga Lewis. Tentu saja Lewis bergetar. Entah kenapa ia bisa merasakan aura kemarahan itu sampai kemari.
Lewis jelas mendengar baku tembak terjadi di luar sana. Luncuran demi luncuran timah panas tersebut terdengar bersahutan.
Dilain sisi.
Vania terkejut saat mendengar suara tembakan di luar. Apa yang terjadi? Apa Dave sudah datang?
Vania menatap para pengawal tersebut dengan wajah berpikir kuat. Apa yang harus ia lakukan untuk mengelabuhi mereka dan melepaskan tangannya.
"Ahhh... Perutku sakit, aku harus ke toilet sekarang. Lepaskan ini!" ujar Vania meringis dengan wajah kesakitan. Para pengawal tersebut tampak menatap Vania ragu.
"Ya Tuhan kenapa kalian hanya menatapku? Aku hanya ke toilet, lagipula aku ini wanita lemah mana bisa melawan kalian semua." wajah pengawal tersebut mulai berubah dan tenang. Akhirnya ia melepaskan borgol di tangan Vania.
Vania mengelus kedua pergelangan tangannya yang memerah. Vania mengambil cepat sebuah vas di atas nakas dan melemparnya tepat di kepala pengawal yang membukakan kuncinya.
Vas tersebut pecah dan pria tersebut tumbang dengan darah mengucur di kepalanya.
Enam pengawal lainnya langsung menatap Vania dan berusaha menyerang wanita itu.
Vania mengelak dengan lincah, menendang kencang perut pria tersebut, memiting lehernya dan menjatuhkannya ke lantai dengan keras.
Lima orang lagi. Vania mengelak tepat waktu saat seorang pria melayangkan tinju tepat di depan wajahnya. Hampir saja wajah cantiknya terkena pukulan pria itu. Vania menatap pria tersebut tajam, lalu menghindar kembali. Vania meraih tangan pria tersebut yang kembali melayang ke arahnya, memelintirnya ke belakang, menjadikan tubuh pria tersebut menjadi tameng saat sebuah kaki pria lain mencoba menendangnya.
Vania melepas lilitan tangan pria tersebut, memutar tubuhnya dan menendang kelaminnya dengan kencang. Pria tersebut meringis menunduk memegang alat vitalnya. Vania tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan menendang wajah pria tersebut dengan lutut kerasnya. Empat orang lagi.
Vania menarik nafas dalam-dalam. Berlari kencang dan melompat ke atas salah satu pria, meraih lehernya dan menyiku tengkuk pria itu hingga tidak sadarkan diri. Tiga orang lagi.
Tiga pria tersebut tampak ketakutan menatap Vania. Vania menatapnya lekat dan memutuskan untuk menyerang lebih dulu.
Vania menendang tinggi kakinya ke arah rahang bawah pria tersebut dan ia langsung tumbang. Vania mengarahkan tangannya ke kedua mata pria yang tersisa dan mereka berdua langsung kesakitan. Vania menendang kelamin kedua pria tersebut bergantian dan menonjok kuat hidung mereka, lalu mengarahkan kedua wajah mereka ke ke lututnya dengan sekuat tenaga.
Habis. Tidak ada yang tersisa, semuanya sudah terkapar di lantai. Vania melangkah ke arah pria pemegang kunci dan membuka kamar, lalu keluar dari sana.
Bersambung....
Next : up next 30/5