
Vania POV
Kukerjakan ujianku dengan teliti. Entah kenapa tiba-tiba kurasakan nyeri yangย datang secara tiba-tiba dibagian dadaku. "Shh.. "Aku meringis tak tau harus apa. Mencoba memfokuskan pikiranku kembali dan melanjutkan ujianku.
Setelah selesai ujian, aku melangkah ke dalam toilet untuk buang air kecil. Setelah selesai kupijit sedikit bagian bawah dadaku untuk menghilangkan nyerinya, namun saat aku menyentuhnya, rasa sakit itu langsung muncul kembali.
Aku beranjak keluar dari toilet dan bergegas pulang bersama Sammy dan sahabatku.
Setelah sampai di rumah, aku membaringkan tubuhku dikasur dan perlahan mataku tertutup sempurna.
Author POV
Jam menunjukkan pukul 3 sore dan Vania tak kunjung bangun. Abel memasuki kamar Vania dan melihat Vania masih terbaring pulas.
"Van bangun, kamu dari tadi belum makan siang." Ucap Abel sambil mengguncang pelan tubuh Vania.
"Eughh.. "Desah Vania.
"Bangun, Sam marah kamu belum makan siang." Ucapnya lagi.
Vania membuka matanya perlahan dan menatap kearah Abel. "Ayo makan!" Aku menangguk dan perlahan bangkit dibantu Abel menuju ruang makan.
"Kamu sakit? Muka kamu pucat." Ucap sam yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Vania menggeleng pelan dan tersenyum tipis agar Sam tidak khawatir. "I'm okay Sam." Ucap Vania lembut.
"Kamu sakit, aku tau itu. Bilang bagian mana yang sakit?" Tanya Sam kekeh.
"Tidak ada bagian apapun yang sakit aku hanya kelelahan saja Sammy. Tenanglah, sedikit istirahat aku akan pulih." Ucap Vania sambil mengelus lengan Sam yang berada disampingnya.
"Kamu tidur tanpa makan siang, aku akan menyuapimu!" Vania hanya menurut dan membiarkan Sam menyuapinya sampai makanannya habis.
Sekitar 10 menit, Vania menghabiskan makan siangnya senantiasa dengan tatapan Sam yang selalu memperhatikannya. Sam memberikan segelas air pada Vania dan meletakkan kembali ke atas meja.
"Ayo aku antar kamu ke kamar lagi, istirahat disana." Ucap Abel sambil memapah Vania berdiri dan melangkah ke kamarnya meninggalkan Sam yang tak henti menatap ke arah Vania cemas.
"Apa dia tidak tau kekasihnya sakit?" Gerutu Sam marah. Ia mengambil ponselnya dengan cepat untuk mendial nomor Dave.
Jangan tanya dari mana Sam tau nomor Dave, Dave yang menelponnya saat Vania terbaring di rumah sakit, sehingga Sam memiliki nomor pria itu.
Dilain sisi.
Dave yang sedang rapat bersama clientnya tiba-tiba terdiam mendengar suara ponsel yang menggangu rapat mereka. Steve melihat ponsel Dave dan membisikkan nama Sam yang tertera dilayar ponsel kepada Dave.
"Tolak, dan silent!"
"Untuk apa bocah ingusan itu menelfonku, dia pikir aku ingin berteman dekat dengannya." batin Dave jengkel.
Dave kembali memperhatikan rapat yang sedang berlangsung dengan fokus.
Sedangkan Sam menggerutu kesal karna panggilannya ditolak. "Dia ini benar-benar...." Ucap Sam menahan emosi.
"Apa dia tidak mau mengangkat jika aku yang menelfon?" Tanya Sam pada dirinya sendiri.
"Akan kucoba dengan ponsel Zee." Ucapnya lalu beranjak ke kamar Vania. Ia mengetuk pintu pelan dan masuk dengan hati-hati.
Ia melihat Abel yang berbaring duduk di kepala ranjang dan disampingnya Vania sudah tertidur pulas.
"Dia sudah tidur?" Bisik Sam pelan.
"Sudah." Jawab Abel sambil mengangkat jari telunjuknya didepan bibir, mengisyaratkan agar Sam tidak berisik.
"Dimana ponselnya?" Bisik Sam. Abel menoleh ke arah meja nakas dan mengambil ponsel Vania, lalu menyerahkannya pada Sam.
"Ini, cepat pergi! Kau bisa membuatnya bangun." Ucap Abel dengan wajah garangnya. Sam langsung keluar dari kamar dan melangkah ke ruang tamu.
Sam membuka ponsel Vania yang tidak menggunakan pin.Ia tau Vania tidak terlalu suka menggunakan hal-hal ribet seperti itu. Sam langsung mencari kontak Dave dan menelfonnya. Ia yakin kontak bernama 'My Posesive Man' ini adalah nomor Dave.
Dilain sisi, Steve melihat ponsel Dave yang menyala, namun tidak mengeluarkan suara karna memang ia sudah mensilentnya. Ia melihat dan menemukan nama 'My Baby' dilayar ponsel Dave.
"Tuan." Bisik Steve pada Dave ditengah rapat yang masih berlangsung.
"Apa?"
"Nona Addison menelfon." Dave yang mendengarnya langsung berdiri dan mengambil ponselnya cepat.
"Tunggu sebentar, aku harus menerima telfon penting." Dave melenggang keluar ruangan rapat setelah memberitahu para clientnya.
"Halo sayang."
"Sayang kepalamu, kenapa kau tidak mengangkat telfon dariku?"
"Bocah ingusan, beraninya kau berbicara kasar padaku."
"Tentu saja aku berani, memangnya kau siapa?"
"Diam, dimana Vania, kenapa kau menggunakan ponselnya?"
"Kau ini sebenarnya kekasihnya atau bukan? Dia sedang sakit dan terbaring lemah di kamarnya dan kau tidak tau?"
"**, kututup."
Tut.. Tut.. Tut.
Dave menutup telfonnya dengan cepat, lalu melangkah ke ruangannya. Ia melihat Reana yang tepat keluar dari ruangannya dan langsung berpesan.
"Reana, katakan pada Steve di ruang rapat, aku harus pergi karna sesuatu hal yang sangat penting. Katakan dia yang menggantikanku!"
"Baik tuan Raveno."
Dave masuk ke ruangannya dan mengambil jas serta kunci mobilnya. Ia tidak membutuhkan supir saat ini, karna ia akan melaju secepat mungkin menuju Mansionnya.
"Baby, tunggu aku." Bisiknya dalam diam.
***
Dave memasuki mansionnya dengan terburu-buru dan berlari menuju kamar kekasihnya. Dilihatnya vania terbaring lemas di atas ranjang dengan wajah pucat, lalu melangkah mendekatinya.
Abel yang tadi berbaring terduduk langsung beranjak berdiri dan meninggalkan Dave serta Vania di dalam sana.
"Baby." Bisik Dave pelan. Dave duduk di sebelah tubuh Vania dan mengelus lembut rambut kekasihnya lembut. Vania yang terusik mulai membuka matanya dengan perlahan.
"Dave, kamu kenapa cepat pulang?" Tanya Vania dengan suara paraunya.
"Aku hanya kelelahan, kamu jangan khawatir." Ucapnya selembut mungkin dan tersenyum tipis dengan bibir pucatnya.
"Bagaimana aku tidak khawatir. Sekarang kamu pindah ke kamarku dan aku sudah menelfon dokter pribadiku untuk datang." Vania hanya pasrah membiarkan Dave menggendongnya menuju kamar pria itu.
"Bagian mana yang sakit?" Tanya Dave.
"Tidak ada, rasanya aku hanya lelah dan butuh istirahat." Ucap Vania lembut.
"Tetapi dadaku sejak tadi ngilu dan sedikit nyeri." Ucap Vania.
Dave membuka kemeja Vania perlahan. "Biar aku lihat." membuka bra Vania pelan. Vania merasa lebih lega saat bra yang ia pakai dilepas.
Tangan Dave terulur mencoba memijat pelan dada vania. "Shh, sakit. Pelan!" Dave memelankan pijatannya selembut mungkin dan berhasil membuat Vania merasa sedikit nyaman.
"Apa karena kemarin?" Tanya Dave bingung. "Entah." Jawab Vania singkat.
"Sudah berhentilah Dave!" Ucap Vania lemah, menyuruh Dave berhenti memijat dadanya.
Dave menurut dan berganti mengelus perut Vania turun naik. Dave ikut berbaring di sebelah kekasihnya dan Vania langsung menyandarkan kepalanya ke dada Dave.
Tok... Tok... Tok.
"Masuk." Dave menyelimuti tubuh Vania dan berganti duduk di kepala ranjang. Vania mengerjab lemah melihat siapa yang datang. Pintu terbuka dan menunjukkan seorang dokter wanita yang tampak berusia kepala tiga.
"Selamat sore tuan Raveno." Sapanya sopan.
"Sore, cepat periksa keadaan kekasihku." Ucap Dave dengan nada otoriternya.
"Baik Tuan." Dokter tersebut melangkah mendekati Vania dan mengeceknya.
"Nona merasa sakit di bagian mana?" Tanya dokter tersebut.
"Badanku tidak sakit hanya saja rasanya badanku tidak bertenaga." Jawab Vania.
"Dia mengatakan dadanya sakit." Ucap Dave. Vania menoleh malu menatap Dave, sedangkan Dave menurunkan selimut yang menutupi dada Vania.
"Kemarin kami bercinta dengan cukup liar. Apa karna hal itu?" Tanya Dave frontal tanpa tau malu, sedangkan Vania hanya dapat tersenyum tipis dan bersikap santai, walau sejujurnya ia sungguh malu saat ini.
Dokter tersebut mengernyit seakan memikirkan sesuatu, lalu mengangguk seakan mendapatkan jawaban di otaknya.
"Sepertinya ada sesuatu yang harus kita pastikan Tuan Nona." ucap dokter tersebut.
"Apa?" Tanya Dave cepat.
"Apa Nona merasa mual?"
"tidak." jawab Vania.
"Maukah Nona mencoba testpack ini?" Tanya dokter tersebut setelah mengeluarkan sebuah benda dari tasnya yang berhasil membuat mereka berdua tercengang.
"Biasanya ibu hamil mengalami nyeri di bagian payudara di trimester pertama dan lebih mudah lelah, lebih baik kita pastikan bersama." Ucap dokter tersebut.
Vania menatap ke arah Dave yang juga menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia mengerti. Vania menatap kembali dokter tersebut dan mengangguk lemah.
Dave berjalan membawa salah satu kemejanya dan memakaikannya pada tubuh atas Vania yang polos. Vania mengambil benda tersebut, lalu berjalan menuju kamar mandi.
20 menit Dave menunggu dengan hati penasaran. Ia tak bisa diam dan terus bolak balik di depan pintu kamar mandi.
Cklek.
Pandangannya teralih dan menatap Vania yang keluar dari kamar mandi. Vania melangkah pelan dan memberikan testpack tersebut kedokter.
"Selamat Nona dan Tuan, anda akan menjadi orang tua." Vania menunduk tak tau harus melakukan apa dan Dave masih terdiam kaku di tempat ia berdiri. Tak ada respon bahagia yang biasanya akan muncul ketika mengetahui wanita yang ia cintai hamil.
"Kau sudah boleh keluar!" Dokter tersebut mengangguk memberikan kembali testpack tersebut kepada Vania dan melenggang keluar kamar.
"Apa kamu marah?" Tanya Vania pelan dan masih berdiri dengan menundukkan kepala. "Kamu tidak suka mendengar aku hamil?" Tanya Vania lagi.
Dave melangkah kehadapan Vania dan menarik wanita itu kepelukannya. "Kamu bicara apa? Untuk apa selama ini kita bercinta dan aku sengaja tidak menggunakan pengaman? Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anak kita." Ucap Dave sambil mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala Vania.
Vania perlahan mengangkat wajahnya dan menatap wajah Dave yang tersenyum padanya. "Serius?" Tanya Vania tak yakin.
"Serius sayang, aku bahagia. Hanya saja aku tak tau bagaimana menyampaikan kebahagiaanku." Ucap Dave.
"Cium aku." Titah Vania.
Dave tersenyum dan mencium lembut bibir Vania, membelai bibir bawah dan atasnya sekaligus. Vania tersenyum senang dan melepas pangutan mereka.
"Sweety lihat Daddymu ini begitu hot. Kamu harus bangga memiliki Daddy sepertinya." Ucap Vania sambil mengelus perutnya yang masih datar.
"Dia pasti bangga punya Ayah sepertiku." Ucap Dave percaya diri. Vania tersenyum lebar sambil mengelus pipi Dave dan kembali menarik Dave untuk meraih bibirnya.
Dave tiba-tiba melepas ciuman mereka. "Ternyata ini yang membuat hormon g*irah kamu akhir-akhir ini memuncak. Sweety, terimakasih kau membuat Daddymu senang." Ucap Dave senang dan Vania hanya bisa memukul lengan Dave memperingati pria itu.
"Ah, aku belum bertanya apakah kita bisa bercinta selama kamu hamil. Aku kejar dia sebelum dia pergi, ini tentang hidup dan matiku. Tunggu aku sayang." Dave mengecup kening Vania kilat dan berlari keluar kamar mencari dokter tersebut, sedangkan Vania hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya itu.
bersambung...
hay.. hay.. hay..
Ekspresi dave yang kesenangan mendengar Vania hamil๐๐
Gue mau jadi daddy woy๐๐
mommy muda. ๐
yuk follow ig khusus untuk para pemain novelku. disana bakalan aku post sedikit spoiler, visual para pemain. Dan cerita baru yang kira-kira akan aku buat. ๐
jangan lupa like, share, dan komen.
bye.... ๐๐