
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Aku membuang nafas panjang, menguatkan hatiku sambil menatap sebuah pintu besar di depanku.
"Ready?" Tanya Dave padaku.
"Hmm." Aku mengangguk sambil berdehem. Dave menggenggam erat tanganku dan menarikku memasuki rumah yang telah lama tidak pernah kudatangi lagi. Tidak tau kabar apapun tentang mereka yang tinggal disini.
"Selamat siang Tuan Raveno, Nona muda." Sapa Ronald, kepala pelayan keluarga Addison.
"Hai paman Ronald, lama tidak berjumpa denganmu, kau baik-baik saja?" Tanyaku lembut, dan dia tersenyum ke arahku.
"Selalu baik Nona." Jawabnya.
"Dimana Tuanmu?" Tanya Dave dingin dan aku langsung menatap ke arahnya.
"Sayang, yang sopan! Bagaimanapun, Paman Ronald jauh lebih tua darimu." Nasihatku dan ia hanya mendengus pasrah.
"Tidak masalah Nona, memang seharusnya seperti itu." Ucap Ronald.
"Tidak, mana boleh seperti itu." Ucapku sambil menatap Dave tajam.
"Maaf sayang, keceplosan, Jangan marah okay." Ucapnya sambil mengecup bibirku singkat. Aku mendelik dan kembali menatap Ronald.
"Dimana Papa Paman?" Tanyaku.
"Tuan besar berada di kamarnya. Duduklah dulu Nona, saya akan memanggil Tuan besar." Ucap Ronald.
"Terimakasih paman." Ucapku dan paman Ronald membalas tersenyum sambil berlalu pergi.
Tak perlu menunggu lama, Papa dan Rose—istrinya, turun dengan raut wajah senang.
"Wah.. Selamat siang Mr. Raveno, senang anda datang bertamu di Mansion kami." Ucap Rose dengan senyum lebarnya, tanpa menatap ke arahku.
"Ada apa kira-kira anda dan Vania datang kemari?" Tanya Rose lagi, sambil duduk di samping Papa yang sejak tadi sudah duduk dalam diam.
"Kita langsung ke inti saja, aku dan Vania sudah memutuskan untuk menikah empat hari ke depan." Ucap Dave langsung tepat pada inti pembicaraannya.
"Apa?" Kulihat wajah Rose terkejut sambil menatap ke arahku, sedangkan papaku menatap Dave tanpa ekspresi.
"Tidak bisa." Aku tergelak mendengar ucapan papaku.
"Kau sudah menjual putrimu sendiri. Aku berhak menikahinya bahkan tanpa meminta persetujuan darimu. Aku datang kemari hanya untuk menginformasikan, tidak untuk meminta restu darimu." Ucap Dave masih dengan nada dinginnya.
"Namun kau belum memberikan sepuluh persen sahammu padaku." Ucap papa tajam dan aku hanya bisa tertunduk sedih mendengarnya.
"Vania tidak ingin aku memberikannya kepadamu." Ucap Dave lagi. Aku mengangkat kepalaku dan berteriak berani dalam hati.
Aku harus bisa melewati ini.
"Papa sudah tidak berhak atasku. Kurasa uang hasil penjualan diriku juga sudah setara dengan saham itu. Papa sudah kehilangan hakmu sejak kau menjualku." Ucapku menatap papaku geram, sedangkan papa menatapku tajam.
"Sejak awal kau memang sangat-sangat tidak berguna, anak pembawa sial. Kau membuat kedua orang tuamu meninggal, dasar anak sial." Tubuhku seketika kaku, mataku berair dengan wajah terkejut. Apa maksud perkataannya tadi?
"Apa maksud papa? " Tanyaku. Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Otakku seakan berhenti bekerja setelah mendengar perkataannya barusan.
"Jangan memanggilku papa! Aku bukan papamu." Ucapnya marah sambil menunjuk wajahku.
Hatiku sakit, paru-paruku sesak, air mataku tak lagi dapat dibendung, ditambah rasa sakit di dadaku, seakan ada ribuan batu yang menimpanya.
"Sayang." Lirih Dave sambil menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
"Apa maksudmu?" Tanya Dave dingin dengan tatapan marah.
"Sudah kukatakan aku bukanlah papanya. Kedua orang tuanya meninggal oleh karenanya. Papanya adalah saudara kembarku, dia meninggal saat berkendara bersama istrinya dan anak sial ini. Dia mengalami amnesia dan ibunya koma beberapa bulan hingga akhirnya meninggal menyusul suaminya." Ucapnya marah. Dave menatapku dan mengelus punggungku lembut untuk menenangkanku.
"Hiks... Papa, mama." Aku terisak merasakan dadaku semakin sakit mengetahui kebenaran tersebut. Jadi selama ini aku amnesia, selama ini dia bukanlah papaku yang sesungguhnya, pantas saja dia tak pernah menyayangiku sejak aku kecil.
"Lalu mengapa kau mengakui dirimu sebagai papanya sejak dulu?" Tanya Dave marah.
"Aku menginginkan seluruh harta Addison yang dimiliki oleh kakak kembarku dan dialah satu-satunya cara terbaik, ditambah dia mengalami amnesia dan ibunya sudah meninggal." Jawabnya senang.
"Papa." Isakku dengan wajah berderai air mata. Tanganku meremas jas Dave kuat untuk menyalurkan ketakutanku.
"Sayang kita pulang." Ucap Dave yang langsung menggendongku ala bridal menuju keluar, tanpa pamit dan memasang wajah mengerikannya.
Dave POV
Sialan, pria tua itu, dia membuat Vania terpuruk menjelang hari bahagia kami yang sudah dekat. Pernikahan yang seharusnya didatangi oleh kedua orang tua dan keluarga, namun kami berdua sama sekali tak memiliki keluarga yang akan mendatangi pernikahan kami.
Kurasakan tubuh Vania yang masih terguncang. Kupeluk tubuhnya semakin erat dan mencium puncak kepalanya lembut. Kami masih dalam perjalanan pulang ke Mansion.
"It's okay babe." Bisikku.
"Hiks.. Dave, apa aku memang pembawa sial?" Tanyanya terisak.
"Tidak sayang, you are my happiness." Ucapku lembut.
"Tapi papa dan mama, hiks, mereka meninggal karna aku."
"Semuanya takdir sayang, begitupun juga dengan kita berdua. Semua sudah terbayar dengan kehadiran bayi kita. Jangan menangis, bayi kita akan ikut menangis jika Ibunya sedih." Ucapku lembut. Perlahan Vania mengangkat wajahnya yang penuh dengan air mata dan menatapku lekat.
Kuambil tissue dan melap seluruh wajahnya dengan lembut dan mengakhirinya dengan ciuman lembut di bibirnya yang masih terisak. Kurapikan rambutnya yang kusut dan mengelusnya halus.
"Hiks, aku ingin ke makam papa dan mama." Ucapnya.
"Iya, aku akan menyuruh anak buahku untuk mencari informasi dimana papamu dimakamkan. Sekarang berhentilah menangis dan kita akan ke rumah sakit untuk mengecek keadaan sweety." Ucapku. Kulihat dia mengangguk setuju. Perlahan isakannya semakin pelan dan hanya menyisakan sesenggukan.
"I'm always here with you honey." Ucapku sambil mengecup keningnya lembut.
***
Flashback On
Aku berdiri was-was menatap wajah Vania, saat kulihat dokter wanita tersebut mengangkat bajunya dan mengoleskan cairan bening di atas perut Vania. Vania terbaring diam menatap ke arah dokter yang mengeceknya.
"Dingin." Ucapnya saat merasakan cairan tersebut bersentuhan dengan kulitnya.
Dengan sigap aku menggenggam tangannya dan menyalurkan seluruh kekuatanku padanya. Aku terlalu gugup karena ini pertama kalinya aku berurusan dengan wanita hamil dan dia adalah calon istriku sendiri, wanita yang sangat kucintai.
Kulihat dokter tersebut mengotak-atik sebuah mesin, lalu tangannya terjulur dengan sebuah alat yang mengarah pada perut Vania. Refleks aku dan Vania ikut menatap ke arah monitor saat dokter tersebut menoleh ke arah sana.
Tangannya berulang kali menggeser alat tersebut di atas perut Vania.
"Lihat dua gumpalan ini, selamat Tuan Nona, anda memiliki anak kembar." ucap dokter tersebut, berhasil membuatku ternganga kaget sambil menatap Vania yang ikut tersenyum tak menyangka menatapku.
"Sayang, baby twins." Ucapku senang ,lalu memeluknya erat, sedangkan Vania ikut tertawa bahagia menatapku.
"I love you." ucapku
Flashback Off
Vania terduduk lelah sambil memejamkan matanya di atas sofa. Kulihat wajahnya lekat dan bergerak untuk menggendongnya ke kamar kami.
Kubaringkan tubuhnya lembut dan ikut berbaring memeluknya.
"Sayang, jangan sedih lagi, mereka berdua akan ikut sedih." Ucapku mengecup keningnya dan mengelus punggungnya.
"Iya." Jawabnya pelan
***
Author POV
Dave dan Vania hari ini akan melayat ke makan papa dan mama Vania serta papa Dave. Menjelang tiga hari lagi pernikahan mereka berlangsung, mereka ingin meminta ijin dengan orang tua mereka yang sudah berada di alam lain.
Vania merangkul bunga di tangannya dan menatap dua buah makan yang saling berdekatan. Selama ini, ia tidak menyadari jika disebelah makam mamanya adalah makan papanya. Disana tertulis nama James Horan A. A sudah pasti adalah Addison, saudara kembar papanya pasti sengaja membuat singkatan A tersebut agar Vania tidak dapat mengenalinya.
Selama ini Vania selalu menghiraukan makan disebelah mamanya dan tak pernah sekalipun menggubrisnya. Hal itu membuat tangisnya tak dapat ia tahan. Ia bahkan tak dapat mengingat satupun kenangannya bersama papa dan mamanya dulu.
Dulu, Vania hanya diberitahukan bahwa ibunya sakit dan tak dapat bangun lagi. Ia harus menunggu sampai ibunya bangun. Vania datang setiap saat untuk bertemu dengan ibunya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Pantas saja ayahnya terlihat sangat tidak peduli dengan ibunya dulu, ternyata dia hanya ingin memanfaatkan kejatuhan keluarga Vania.
"Hiks... Papa, maafin Vania." Vania terisak sedih dan terduduk di depan makan papanya sambil meletakkan bunga tersebut di atas makan papanya.
"Maaf.. Hiks... Vania melupakan papa. Vania merindukan papa, hiks.. Tetapi Vania tidak bisa mengingat apapun tentang papa. Hiks... Maafin Vania." Dave tak tega melihat kekasihnya terduduk sambil terisak menghadapi ini semua. Cukup dia yang melalui hal-hal sulit sejak kecil, mengapa wanitanya juga harus mengalami ini.
"Sayang." Panggil Dave pelan. Vania mengangkat wajahnya menatap Dave dan berdiri memeluk kekasihnya itu.
"Hiks... Aku rindu papa Dave." Ucapnya dalam dekapan Dave. Tangannya meremas jas hitam Dave untuk menahan rasa sesak di dadanya.
"Aku tau, papa juga pasti merindukanmu dan dia tak ingin melihat putrinya menangis." Ucap Dave sambil mengelus punggung Vania naik turun.
Dave menatap kedua makam di depannya dengan lekat. "Kami datang untuk meminta ijin. Ijinkan aku menjaga putri kalian dengan seluruh jiwa ragaku. Aku yang akan menjadi rumahnya, dimana tempat ia bisa pulang. Putri kalian adalah kebahagiaanku, jadi ijinkan aku untuk menikahinya dan menjadikan dia sebagai ibu dari anak-anakku." Ucap Dave panjang lebar, sambil memeluk Vania hingga tangis wanita itu perlahan demi perlahan mulai mereda.
"Sekarang kita ke makan papaku okay?" Tanya Dave sambil mengusap pipi wanitanya dengan lembut. Vania mengangguk sambil mengusap sisa air matanya.
"Sudah sayang, matamu sampai memerah begini." Ucap Dave sambil mengecup kedua mata Vania lembut.
"Papa mama, Vania akan datang lagi. Datanglah ke mimpi Vania, Vania rindu." Ucap Vania menatap makam kedua orang tuanya.
"Vania pergi." Vania pamit dan pergi bersama Dave menuju makan papanya.
Setelah sampai, Vania menatap satu makam dengan nama Frederick Chilton Revano. Vania menatap Dave yang hanya berdiri menatap ke arah makan papanya dengan wajah datar.
"Dave, ada apa?" Tanya Vania.
"Aku hanya mengingat semua kenanganku dengannya." Jawab Dave tanpa beralih menatap Vania.
"Hai calon papa mertua, aku Vania Iylazee Addison, calon istri putramu. Ijinkan aku menemani hari-harinya walau sedih, susah, senang, dan mengerikan. Bagaimanapun, aku mencintai putra iblismu ini dan sekarang aku sedang mengandung anaknya di luar pernikahan. Cucumu kembar dan mereka berkembang dengan baik." Dave sejak tadi menatap kekasihnya lekat, sampai akhirnya terkekeh mendengar kata-kata iblis dan anak. Dave mencium pelipis Vania lembut, lalu merangkulnya.
"Papa, aku sudah mendapatkan kebahagiaanku. Maafkan aku yang dulu membencimu. Setelah kau tiada, aku mulai mengerti mengapa kau melakukan itu semua padaku. Aku akan mendidik anak-anakku dengan baik. Maaf aku jarang mendatangimu." Dave menatap makan papanya sedih dan Vania hanya bisa mengelus lengan kekasihnya lembut.
"Kami pulang." Ucap Dave dan berjalan bersama Vania untuk kembali pulang.
bersambung...
hay.. hay.. hay
aku rindu kalian hiks, babang Dave juga rindu pengen muncul.
Dave : Aku bakalan sedih kalau kalian nggak like dan komen sebanyak mungkin.
Dave : Apa aku harus berikan kalian mobil satu-satu supaya semangat mendukungku dikolam komentar? 🤨😒
Dave : Jangan lupa follow Violet_slavny, aku mau pamer kekayaanku, bye😑😑
Jangan lupa mampir guys
bye.. 😘💕