
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Dikamar, vania bersandar sambil menatap dave yang tengah berdiri dihadapannya lemari bajunya, lalu membuka kaus yang ia pakai dengan gerakan cool. Vania tersenyum malu melihat punggung kokoh telanjang dave dari belakang. Dia merasa sangat beruntung bisa memiliki pria setampan dan segagah dave. Lalu menatap dave yang menggunakan kaus yang baru ia ambil dari dalam lemarinya.
Vania bangkit berdiri menghampiri dave dan menggenggam lengan dave. Vania suka merasakan urat-urat yang timbul dari lengan keras dave, rasanya begitu sexy. Vania menatap wajah dave yang juga menatapnya.
"Ayo aku bantu bercukur. "Ujar vania sambil mengusap lembut lengan dave.
"Kamu bisa? Nanti rahang aku luka gimana? "Tanya dave dengan wajah lucunya.
"Cuman kegores doang masa takut. "Ujar vania dengan wajah mengejek, namun dengan nada bercanda. Dave langsung membalas dengan wajahnya yang seketika berubah datar.
"Baby.. Kamu hati-hati mencukurnya. Nggak masalah aku yang luka, tapi jangan sampai tangan kamu yang luka. Okey? "Ucap dave dengan begitu lembut, lalu menangkup kedua pipi vania dengan tangannya.
"Hmm. "Jawab vania dengan sangat yakin. Lalu vania menarik dave kearah wastafel yang berada didalam kamar mandi.
Setelah meratakan seluruh cream didaerah sekitar rahang, dagu dan sekitaran mulut. Vania mengambil pisau cukur ditangan kanannya dan handuk hangat ditangan kirinya. Dengan begitu hati-hati vania melakukannya, sedangkan Dave hanya menatap vania lekat.
Tangan dave perlahan terulur kepinggang vania dan melingkar Indah disana. Vania terdiam, tak masalah dengan tangan dave. Dave bahkan mulai mengusap-usap pinggang bawah vania dengan gerakan lembut.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu saat dikamar mandi ini? "Tanya dave tiba-tiba. Vania mengangkat wajahnya menatap dave dengan wajah datar.
"Jangan ngomong tiba-tiba dave kau membuatku takut. "Ucap vania kesal karna bisa saja pisau cukur itu menggores rahang dave.
"Aku nggak berniat bunuh diri. Karna saat kejadian itu aku belum makan dari hari sebelumnya jadi aku bangun dengan tanpa tenaga. Saat aku berdiri dan berjalan kekamar mandi, kepalaku pusing dan aku terjatuh, setelah itu gelap. "Panjang lebar vania dengan tatapan fokus ke brewok dave yang sedang ia cukur.
Setelah selesai vania mengusap wajah dave dengan handuk hangat, lalu mengusapnya lagi dengan handuk kering. Vania menatap dave yang juga menatapnya, sampai aksi tatapan ini berlangsung dengan sengit.
"Ayo main sebuah game! "Ajak vania tiba-tiba sambil menatap dave yakin.
"Apa? "Tanya dave mulai tertarik.
"Aku goda kamu selama lima menit, kalau kamu tergoda kamu kalah. Yang kalah turutin permintaan yang menang. Take it or leave it? "Tanya vania dengan mata menantang. Dave menatap vania dengan tatapan geli melihat kedekatan gadisnya ini.
"Take it. "Jawab dave tanpa takut. Vania tersenyum puas lalu mereka beranjak keluar dari kamar mandi dan duduk diranjang.
"Aku mulai. "Ujar vania dengan mata seksualnya. Vania menarik dave lalu mendorong tubuh dave keatas ranjang dan menduduki perut keras dave. Vania menyingkap kaus dave keatas lalu mengelus perut dave dengan begitu lembut. Dengan sengaja vania menggigit bibirnya sendiri, dengan tatapan menggoda kepada dave.
"I want you. "Vania menunduk lalu menggapai bibir penuh dave dan melumatnya dengan gerakan lembut. Vania merasakan sesuatu dibawah sana telah menegang namun dave masih kokoh tak membalas ciuman vania. Bibir vania turun keceruk leher dave dan meninggalkan bekas kemerahan disekitar lehernya. Vania merasakan tubuh dave menegang dan tangan dave terkepal kuat. Dave berusaha menahan erangannya, jika ia tidak ingin kalah.
Sampai akhirnya tangan vania turun dan menggesek gundukan dibawah sana dengan gerakan sensual.
"Agghh. "Erangan dave langsung keluar begitu saja. seharusnya dave tidak menerima tantangan ini, karna ia tau dave tak akan bisa menahan godaan seorang vania dihidupnya.
"Owhh... Kau kalah. "Vania segera bangkit dari perut dave lalu duduk disamping dave yang masih terbaring sambil menatap kearah dave yang masih dipenuhi dengan tatapan penuh gairah.
"Shit. "Erang dave dengan nada tertahan. Dave menatap vania dengan tatapan menginginkan yang besar. Dave bangkit, lalu dengan cepat menarik tengkuk vania dan mencium vania dengan kasar dan membabi buta.
Ciuman dave berlarut dengan begitu panas, Vania juga tak mau kalah dengan dave. Dave yang berada diatas tubuh vania mencengkram erat tengkuknya dan memperdalam lumatan mereka. Dave suka sensasi ini, begitupun vania yang semakin pusing dibutakan oleh nafsu.
Tangan vania terulur mencengkram punggung liat dave dengan kuat. Dave semakin kalut, dibutakan oleh gairah yang sampai diujung tanduknya. Tidak, dia tidak bisa mundur lagi hari ini.
"Egh.. "Vania mendesah kenikmatan saat menerima kecupan dave yang turun keleher dan pundaknya.
"Terima aku malam ini sayang. " dave berucap parau diperpotongan leher vania dengan suara serak tertahan.
"Ah.. Lakukan. "Vania ikut menyerah dengan gairah yang menyulut didirinya. Ia tak bisa memungkiri bahwa ia menginginkan dave lebih dari ini. Ia ingin dave berada penuh dalam dirinya.
Dave tersenyum gembira, dan langsung menyerang vania dengan segala sentuhan mautnya. Sentuhan yang membuat seluruh wanita berbondong-bondong menjadi teman tidur dave walau hanya sekali. Dua insan ini melewati malam dengan begitu panas dan menggairahkan.
Kubuka mataku perlahan saat merasakan pergerakan kecil yang berada didadaku. Oh Tuhan, pemandangan Indah dipagi hari yang membuat hariku sempurna.
Aku tak pernah merasakan sebahagia ini bersama seseorang. Setiap pagi aku bangun yang kurasakan hanya menjalani hidup kembali seperti robot. Menjadi workaholic adalah alasan menyibukkan diriku sesibuk-sibuknya dikantor. Dan ONS menjadi tempat pelampiasan kesepianku. Ya seperti robot, tak punya tujuan hidup.
Namun saat bertemu gadis dipelukanku ini, aku menemukan tujuan hidupku yang sesungguhnya. Melihatnya, aku ingin terus bersama dengannya selamanya, aku ingin terus hidup hanya untuk melihatnya bahagia bersamaku, dan untuk pertama kalinya aku ingin hidup berkeluarga dengannya, membesarkan anak sampai cucu kami bersama, hingga maut yang memisahkan. Aku begitu mencintainya, aku tak tau harus apa jika ia tak bersamaku didunia ini.
"Ehmm.. "Kudengar erangan halus vania yang bergelut manja didadaku. Tangannya yang berada diatas perutku perlahan berpindah melingkari pinggangku. Matanya masih tetap tertutup mencari kenyaman dari tubuhku.
Senyumku terpatri melihat wajah polosnya, tanganku terulur mengusap pipinya yang lembut dan bibirnya yang menggoda. Dia pasti kelelahan melayani nafsu bejatku. Kami baru selesai berperang saat jam menunjukkan pukul 3 subuh, dan sekarang adalah pukul 8 pagi.
Dan beruntungnya aku, vania tidak mengingat ancamannya saat ia siuman waktu itu. Aku bisa tidur bersamanya seperti biasa.
Kukecup Puncak kepalanya dengan lembut dan memeluk erat tubuhnya. Sejujurnya posisi ini membuatku keringat dingin, karna tubuh kami yang bergesekan tanpa sehelai benang pun.
"Shit. "Erangku kesal karna nafsu binatangku kembali naik.
"Kenapa kau begitu menggoda baby? "Lirihku dengan nada serak tak tertahan. Tanganku menegelus punggung telanjangnya dengan gerakan selembut mungkin.
"Huh.. Tidak. Bisa-bisa aku nanti menerjangnya saat tidur. Lebih baik aku mandi. "Ucapku sambil melenggang dari atas kasur dengan gerakan perlahan agar tak membangunkan vania. Dan beranjak menuju kamar mandi.
Author POV
perlahan mata vania mengerjab merasakan sentuhan dingin dipipinya.
"Eghh... "Vania mengerang sambil merenggangkan badannya yang pegal, lalu menatap dave yang menggunakan bathrope duduk disebelah ranjangnya. Tangan dingin dave membuat vania terbangun dengan sendirinya.
"Dave.. "Lirih vania.
"Hmm"
"Kau akan pergi bekerja? "Tanya vania perlahan.
"Ya,ada sesuatu yang harus kuselesaikan. "Jawab dave lanjut mengusap pipi vania lembut.
"Aku ikut. "Ujar vania sambil mencebikkan bibirnya.
"Jangan! Istirahat saja dirumah, bukannya kamu kecapean? "Tanya dave lembut.
"Tidak, hanya sedikit pegal saja karna semalam. "Ucap vania dengan semburat malu dipipinya, karna memikirkan kegiatan mereka kemarin.
"Sana mandi dulu! "Ucap dave tegas, segera saja vania beranjak dari ranjang tanpa mempedulikan ketelanjangannya, lalu ngibrit kekamar mandi.
"Haih.. Dia membuatku horny saja. "Gumam dave dengan mata tak percaya melihat vania yang berlari cepat menuju kamar mandi tanpa malu.
"BABY... AKU TUNGGU DIBAWAH. " teriak dave.
"IYA. "
Bersambung......