When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 69 - Lewis.



...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...


Dave keluar dari lift dengan rahang mengeras. Kenzo menatap Dave lekat dan melangkah beriringan dengan Dave.


"Kurang dari duapuluh menit mereka berhasil mendapatkan istrimu. Mereka sama sekali tidak basa-basi dan langsung menghabisi seluruh pengawal yang menghalangi. Ada beberapa anak buah mereka yang ikut tewas di sini. Mereka sudah merencanakannya dengan matang, rompi anti peluru untuk meminimalkan serangan." ujar Kenzo panjang lebar, hingga mereka keluar dari rumah.


Dave masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Kenzo di kursi pengemudi.


"Markas!" titah Dave yang langsung diangguki oleh Kenzo, lalu melaju cepat dengan mobilnya.


Dilain sisi.


Dengan mata tertutup dan tangan diikat, Vania merasa ia dituntun turun dari mobil. Vania melangkah dengan pandangan gelap, ia berjalan pasrah mengikuti kemana dia akan dibawa.


Vania mendengar sebuah pintu terbuka, ia melangkah tanpa tau apapun. Suara pintu terbuka kembali, ia melangkah lagi dan akhirnya berhenti entah di mana.


Yang Vania rasakan hanya orang-orang yang menuntunnya, melepaskannya dan pergi begitu saja meninggalkan Vania yang berdiri kaku tanpa tau apapun.


Aroma musk tercium di indra penciumannya. Hingga akhirnya Vania merasakan sentuhan seringan bulu di pipi kirinya. Vania menolak dengan cepat dengan wajah khawatir.


"Siapa?" tanya Vania panik.


"Kamu tidak mengingatku?" Vania mundur sekejab saat terdengar suara laki-laki dengan jarak begitu dekat dengannya.


Vania menelaah jenis suara tersebut, namun Vania yakin tidak mengenali suara ini.


"Siapa? Kau siapa? Aku tidak mengenalmu." ujar Vania kesal.


Vania tersentak kaget saat tubuhnya tiba-tiba ditarik begitu kencang dan tubuhnya jatuh pada benda empuk yaitu ranjang.


Vania mendorong kasar tubuh pria yang kini berada diatasnya. Dengan tangan terikat, Vania berusaha memukul dada pria tersebut.


"Lepas!" teriak Vania. Kakinya ikut bergerak memberontak sekuat tenaga.


"Shhhh... Diam! Atau anak-anakmu tak akan selamat." ucap pria itu dengan bisikan sadis di telinganya.


Vania berhenti memberontak setelah mendengar kata 'anak-anaknya' keluar dari mulut pria di atasnya ini.


"Kenapa? Kenapa kau membawaku?" tanya Vania geram.


"Kenapa ya? Ahhh... Tentu saja karena aku menginginkanmu." jawab pria tersebut.


Vania menggigit bibirnya gemetar. Nada bicara pria ini seperti psychopath.


"Kau siapa?" tanya Vania lagi.


"Ingat aku sayang! Kau pasti mengingatku bukan?" tanya pria itu dengan nada memaksa. Vania merasakan hembusan nafas pria itu di pipinya. Vania memalingkan wajahnya merinding.


"Aku tidak ingat, jika kau bagian masa kecilku, aku mengalami Amnesia." ujar Vania gemetar.


"Aku tau. Amnesia sialanmu itu memang membuatku marah setengah mati. Kau melupakanku, namun aku tetap berusaha membuatmu mengingatku saat itu dan aku berhasil, namun kau kembali melupakanku sekarang." jawab pria itu. Vania mengernyit bingung.


"Lepaskan penutup mata ini!" pinta Vania. Vania benar-benar ingin tau siapa pria yang menculiknya ini.


Vania pikir pria ini akan menolak, namun pria tersebut membuka penutup matanya dengan sukarela.


Matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk, lalu menatap lekat wajah pria di atasnya.


"Kau siapa?" tanya Vania lagi. Dia benar-benar tidak mengenal pria ini.


"KAU BENAR-BENAR TIDAK MENGENALKU." pria tersebut menggoncang bahu Vania kencang dan berteriak kencang di depan wajahnya.


"JUST TELL YOUR FUC*ING NAME!" balas Vania berteriak marah. Dia benar-benar kesal dengan tingkah gila pria di depannya ini.


"Who is that fuc*ing Lewis?" batin Vania berteriak kesal.


Vania memutar matanya kesal. "Aku benar-benar tidak mengenalmu." ucap Vania kesal.


Pria bernama Lewis tersebut menggeram marah dengan wajah memerah. Lewis mencengkeram rahang Vania kencang dengan rahang mengeras.


"Aku menunggu hingga selama ini untuk mendapatkanmu dan dengan seenaknya kau melupakanku?" ujar Lewis geram di depan wajah Vania. Vania meringis merasakan dagunya yang sakit.


"I don't know who you are and why did you do this to me?" ujar Vania dengan susah payah.


"Kau seharusnya mengingatku, aku yang selalu berada di sisimu sejak kecil." ujar Lewis semakin geram.


"But it was a long time ago, how can I remember you?" ujar Vania frustasi. Lewis melepas cengkeraman tangannya pada Vania. Vania meringis sambil mengusap rahangnya.


Lewis melangkah entah kemana, mengambil sebuah barang dan membawanya kehadapan Vania.


Vania bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di atas ranjang. Sebuah album foto jatuh di depan kakinya yang terlipat.


Vania dengan ragu membuka album tersebut dengan tangan terikat, sedangkan Lewis berdiri dengan kaku.


Vania menatap lembaran-lembaran foto dirinya yang masih kecil bersama dengan seorang anak laki-laki kecil. Vania membuka lembaran demi lembaran dan menatap sosok Samuel yang juga ikut bersama mereka.


Vania kecil tampak bermain gembira bersama Samuel dan Lewis. Vania yakin foto-foto kebersamaan ini sebelum ia hilang ingatan. Karena setelah hilang ingatan, yang Vania ingat hanya Samuel yang selalu bersamanya. Setelah kejadian penculikannya, Vania berubah menjadi sosok yang pendiam dan dingin dengan teman-temannya yang lain. Vania menjadi anti sosial dan memilih menyendiri.


"Ini buktinya. Kau seharusnya mengenalku Zee." ujar Lewis angkat bicara.


"Baiklah, aku pernah mengenalmu dan itu sudah sangat lama ditambah aku mengalami amnesia. Tetapi kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Vania menatap Lewis lekat.


"Aku menginginkanmu. Apa alasan itu tidak cukup?" ujar Lewis geram.


"Tentu saja tidak. Aku sudah memiliki anak dan suami, aku sudah memiliki keluarga kecilku." ujar Vania marah.


"Tidak apa, kau bisa memiliki anak dariku dan aku menjadi suamimu." ujar Lewis santai.


"Kau gila." ujar Vania tak habis pikir.


"Ya aku gila karenamu. Suami sialanmu juga yang telah membunuh Papaku. Suamimu sudah membunuh banyak orang dengan tangannya. Suamimu adalah Iblis." Lewis membisikkan kalimat terakhir tepat di telinga Vania.


Vania terdiam kaku mendengar ucapan Lewis. Dave memang sosok dingin sejak pertama kali ia mengenal pria itu. Bahkan Dave pernah menembak musuh sekolahnya tepat di depan matanya. Vania selalu menepis pikiran buruknya tentang Dave walau ia kadang ragu.


Vania yakin Dave pasti tidak akan menyembunyikan apapun darinya.


"Papaku yang menculikmu dulu dan hampir membunuhmu."


Kepala Vania seketika sakit, pandangannya buram dan kepalanya berdenyut pusing. Sekitarnya seperti berputar-putar.


Vania menekan kepalanya kuat. "Arghh..." Vania meringis kesakitan merasakan sakit yang menusuk-nusuk otaknya. Kelebat hitam muncul di pikirannya. Kelebat masa lalu yang mengerikan itu.


Vania berteriak keras merasakan kepalanya yang ingin pecah.


Bersambungg....


I'm sorry kemarin nggak update, karena WiFiku tiba-tiba rusak tanpa alasan, seharian. Jadinya hari ini aku beli kuota deh. Dan update deh.


Sebentar lagi menuju end, moga happy ending.


Note : next chapter 26/5


Bye...😘