
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Vania melangkah cepat menuju kamarnya, dimana anak-anaknya berada. Vania membuka pintu kamarnya tak sabar, menatap sosok Lia yang tengah menjaga kedua anaknya.
Vania dengan cepat melangkah, lalu memeluk kedua bayinya yang masih berbaring nyaman dengan mata tertutup.
Vania mengecup anaknya bergantian, rasa bahagia membuncah dalam dirinya. Ia pikir dia tidak akan dapat melihat mereka bertumbuh. Dave masuk dalam diam, menyuruh Lia untuk keluar meninggalkan mereka di sana.
Dave mengulurkan tangannya mengusap rambut Vania lembut. Vania tidak menoleh, malah menepis tangan Dave dari kepalanya.
Dave tau Vania pasti marah. "Sayang." panggil Dave pelan. Ia berusaha untuk tidak menganggu bayinya.
"Pergi, aku mau sendiri dulu sama anak-anak." ujar Vania dingin tanpa menoleh pada Dave.
Pundak Dave melemas mendengarnya, bahkan Vania tidak berniat melihatnya sekarang.
"Maaf." lirih Dave putus asa.
"Kenapa harus kamu sembunyikan Dave? Sampai kapan kamu diam kalau tidak ada kejadiannya? Kamu akan jadi pembunuh selamanya?" tanya Vania geram sambil menatap Dave dengan sorot mata tajam.
Dave menatap anak-anaknya yang masih tertidur pulas. "Kita bicarakan di ruanganku oke?" bujuk Dave sambil melirik anaknya. Vania sadar dan akhirnya menatap sebentar buah hatinya.
Vania mengusap kepalanya pusing dan akhirnya melangkah menuju ruangan kerja Dave di kamar mereka. Ia melangkah cepat tanpa mempedulikan Dave.
Dave ikut melangkah masuk dan menutup pintu ruangannya.
"Jelasin!" ujar Vania tak ingin pusing.
Dave terdiam, ia bingung harus menjelaskannya dari mana. "Kamu tau aku dididik Papaku dengan keras sejak kecil, itu semua karena aku mewarisi dunia Underground miliknya. Dia mendidikku untuk berdarah dingin, kalau tidak, aku tidak akan bisa mewarisinya."
"Kami hanya menerima misi sulit dengan bayaran tinggi. Membunuh mereka bukan keinginan pribadiku. Seseorang membayar untuk membunuh orang yang mereka tidak suka. Membunuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan sasarannya ada kelemahannya."
"Kamu pernah membunuh seseorang bukan karena bayaran?" tanya Vania tajam. Dave terdiam. Ya, sering.
Vania tau jawabannya dari keterdiaman Dave. Kepalanya semakin pusing.
"Maaf sayang." ujar Dave sambil menggenggam tangan Vania erat.
"Kamu tau perbuatan kamu itu salah. Aku nggak mau anak-anakku punya Ayah dengan kerjaan mengerikan seperti itu." ucap Vania lirih.
"Aku tau, aku sudah berencana memindahkannya pada Kenzo. Kita bisa memulai hidup yang lebih baik." ujar Dave.
"Dan membuat Kenzo menggantikan kekejamanmu?" ujar Vania geram.
"Percayalah, Kenzo bisa memegangnya. Dia sama sepertiku bahkan lebih. Dia akan berubah jika menemukan kebahagiaannya sama sepertiku." ujar Dave. Vania terdiam, apa lagi yang harus ia lakukan. Semua ini memang jalan hidup suaminya sejak dulu. Yang Vania bisa lakukan hanya membimbing pria itu untuk berubah.
Vania mengangguk pelan. Dave tersenyum senang dan menarik Vania masuk ke dalam dekapannya.
"Terimakasih sayang." lirih Dave tepat di telinga Vania.
Ansell menatap seorang pria yang berdiri tegap di depannya. Kenzo yang membawa pria ini padanya.
"Jadi, kau orangnya?" tanya Ansell dengan senyum miringnya. Pria tersebut mengangguk sombong, lalu duduk di sofa yang tersedia di sana.
"Iya." Ansell ikut duduk di sana sambil menatapnya tajam.
"Jika bekerja di bawah Raveno Internasional, jangan pernah berpikir untuk bermain dibelakang atau kau tidak akan selamat." ujar Ansell dengan sorot membunuh.
Pria tersebut tersenyum mengejek. "Oke, kuharap kalian membayarku setimpal." ujarnya.
"Lucas Hadden Romero, selamat datang." ucap Ansell dengan senyum tak terbaca.
Pria bernama Lucas tersebut ikut tersenyum tak terbaca. "Salam kenal, Aciel Evans Fransisco." Ansell Dan Lucas saking menatap tajam dengan pandangan dingin.
***
Dave membebaskan Reana dan Ibunya atas perintah Vania. Vania marah saat Dave menceritakan mengenai Reana dan Ibunya. Akhirnya atas perintah Vania juga, Dave membeli kembali rumah lama Addison dan membiarkan Reana serta Ibunya tinggal di sana.
Vania juga tidak bosan-bosannya memperingati Dave agar dapat menahan amarahnya. Setelah Mansion mereka kembali bersih dan beberapa perabotan diganti serta beberapa tempat di renovasi dengan cepat, Vania mulai merasa nyaman tinggal di Mansion itu lagi.
Kadang kepalanya terngiang akan pertumpahan darah hari itu, namun ia mulai mencoba menghapusnya perlahan-lahan.
Seiring ingatannya yang kembali, Vania dapat mengingat masa kecil indahnya bersama Papah dan Mamanya dulu.
Abel dan Liam beberapa kali main ke rumah untuk melihat keponakan mereka yang imut. Namun suatu hari, Lewis datang ke rumah dan meminta maaf.
Dave sempat geram dan tidak suka melihat kedatangan Lewis, namun aku menerimanya dengan lapang dada. Aku juga menerima maafnya dan ingin memulai hubungan baik kembali sebagai sahabat.
Dave juga pernah mengajak Kenzo, Ansell Dan satu pria baru lagi bernama Lucas datang ke Mansion. Mereka terpukau melihat betapa kecil dan menggemaskannya Vian serta Vano.
Apalagi Ansell yang tidak dapat menahan untuk tidak mencubit pipi Vian yang tertawa lucu. Vano tampak diam dan menangis saat Ansell ingin menggendongnya.
Vano hanya ingin bermain bersama saudara kembarnya, Vania dan Dave.
Hari-hari berlalu dengan baik setelah semuanya selesai. Dave banyak menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Keluarga kecil dengan penuh kebahagiaan.
The End.
Akhirnya tamat guys.. ditunggu ya extra Chapter nya.
Maaf lama up karena aku sakit dengan gejala mirip virus itu. Tapi akhirnya mendingan walau awalnya aku takut aku beneran kena atau nggak. Semoga kalian sehat-sehat juga ya.
Cerita Kenzo sudah keluar. Judulnya, 'Trapped by the beast'. Cara mudah menemukannya, kalian klik aja profil aku, tekan karya dan cari judul di atas.
ayo mampir!
Bye...😘