When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Extra Part 2



...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...


Vania tersenyum begitu manis sambil menyalam seorang profesor dihadapannya. Vania menoleh ke para tamu saat tali toganya berhasil dipindahkan dari bagian kiri ke kanan.


"Mommy." suara teriakan kedua bocah tersebut membuat para penonton ikut menoleh dengan gemas pada dua bocah yang kini melambai pada Vania dengan semangat.


Vania turun dari atas panggung, lalu kembali ke tempat duduknya. Menunggu hingga acara wisuda tersebut selesai. Setelah selesai, Vania langsung melangkah mencari harta berharganya.


"Mommy, here." Vania tersenyum mendengar teriakan nyaring tersebut. Vania melangkah sedikit berlari mendekati suami dan anaknya.


Vania langsung memeluk Dave erat, bahkan sampai tidak menerima buket yang disodorkan oleh Dave.


"Akhirnya aku lulus." bisik Vania.


"Kamu hebat sayang." bisik Dave sambil mengecup puncak kepala istrinya.


Tiga tahun Vania berjuang untuk membagi waktunya dengan benar. Tidak membuat anaknya kehilangan sosok Ibu dan ia bisa melanjutkan mengejar ilmu disaat bersamaan.


"Mommy, we're here." Vania melepas pelukannya sambil terkekeh mendengar ucapan Vian.


"My Babies." ujar Vania menunduk, lalu memeluk kedua putra menggemaskannya itu. Vania mengecup pipi Vian dan Vano bergantian.


"Congratulations Mommy." ujar Vano sambil mengecup bibir Vania. Vian ikut-ikutan mencium Vania karena melihat Vano.


"Thank you Sweety." ujar Vania.


"Mommy ayo pergi sekarang, Daddy sudah menyiapkan sur...." belum selesai ucapan Vian, Vano langsung menutup mulut saudara kembarnya itu.


Dave sekarang ikut melotot menatap putra pertamanya itu. Gagal sudah. Sudah berulang kali ia mengingatkan agar mereka menutup mulut dan tidak mengatakan apapun pada Vania, namun semua gagal karena kecerewetan Vian.


Vania berdiri, lalu menatap Dave lekat sambil tersenyum menggoda.


"Kita pergi sekarang?" tanya Vania yang dibalas teriakan gembira oleh Vian.


Vania menggenggam tangan Vano dan Vian menuju tempat parkir. Masuk ke dalam mobil dan melaju ke tempat yang sudah Dave siapkan.


Tak butuh waktu lama, Vania turun dari atas mobil sambil membantu kedua putranya keluar. Vania dan putranya masuk ke dalam mansion dan disambut meriah oleh beberapa orang di dalam sana dengan bunyi boom party.


"Happy Graduation." teriak mereka serempak.


Vania tersenyum gembira melihat sahabat-sahabatnya berkumpul, ditambah Lewis, Kenzo, Ansell, dan Lucas.


Dave merangkul pinggang Vania dari samping sambil melempar senyum lembut pada istrinya.


"Kamu menghubungi mereka?" tanya Vania.


"Humm, for you." Vania tersenyum malu dan senang, lalu mengecup bibir suaminya.


"Thank you."


Hari itu, Vania mengadakan party di Mansion dengan kedua putranya yang menggemaskan itu. Putranya yang membuat paman dan bibinya kerepotan.


***


Vania keluar dari dalam kamar mandi dengan gaun tidurnya. Vania menatap Dave yang duduk di atas ranjang sambil menatap lekat ke arah macbooknya.


Vania naik ke atas ranjang, menghampiri Dave, lalu memeluk suaminya itu dari belakang.


Dave tersenyum sambil mengecup lengan Vania yang melingkar di tubuhnya.


"Kamu bisa tidur duluan sayang, kamu pasti lelah." ujar Dave lembut.


Vania menggeleng dan menempelkan pipinya di leher Dave. "Kamu juga pasti lelah, aku akan menemanimu." jawab Vania.


Dave akhirnya membiarkan Vania memeluknya dan menemaninya bekerja. Namun, tak sampai beberapa detik Vania mulai melancarkan aksinya untuk menggoda suaminya itu.


Vania meninggalkan kecupan ringan di sekitar leher Dave, beriringan dengan nafas panas yang menerpa kulitnya.


Tentu saja hal itu mengganggu konsentrasi Dave. Dave dengan sekuat tenaga menahan diri, namun kali ini tangan Vania mengusap naik turun dadanya.


"Sayang, aku tidak bisa fokus." ujar Dave.


Vania seakan tuli dan semakin melancarkan aksinya untuk menggoda Dave. Dave menyerah. Ia meletakkan macbooknya begitu saja dan langsung mendorong Vania berbaring ke atas ranjang.


Dave merangkak ke atas tubuh Vania dengan wajah penuh n*fsu. "How about baby girl now?" tanya Dave dengan senyum miring nakalnya.


"I like it." jawab Vania dengan senyum hangat.


Lima tahun kemudian.


Umur Vian dan Vano kini beranjak 11 tahun. Kedua anak laki-laki itu kini mulai beranjak remaja. Vian dan Vano tumbuh menjadi anak lelaki tampan penuh pesona yang selalu merebut perhatian kaum perempuan.


Sejak kecil mereka memang selalu menjadi perhatian publik. Kerap kali banyak wanita dewasa mendekati mereka hanya untuk mencubit pipi mereka dan mencium mereka karena gemas.


Tak heran dari mana asal ketampanan itu. Davin Raveno, Papa mereka yang selalu dipuja wanita.


"Aku tidak melakukannya."


"Kamu yang melakukannya."


"Bukan."


"Vian, Vano masalah apa kali ini?" Vian dan Vano yang sejak tadi adu mulut langsung menatap ke sumber suara. Disana berdiri Vania dengan tangan di depan dada sambil menatap kedua anaknya tersebut dengan tatapan menuntut jawaban.


"Mom, Vano merusak tanaman kesukaan Mommy saat kami bermain tadi." ujar Vian menunjuk Vano.


Vania menatap ke arah pot tanamannya yang pecah berkeping-keping di atas tanah. Vania menatap Vano yang juga menatapnya lekat.


"Benarkah Vano?" tanya Vania.


"Tidak, Vian yang mendorongku Mom." ujar Vano menatap Vania lekat.


Vania menghela nafas, laku mendekati kedua putranya. "Kalian tidak terluka kan?" tanya Vania meraih kedua tangan anaknya dan menatap seluruh tubuh anaknya dengan teliti.


"Tidak." jawab kedua dengan menundukkan kepala.


"Baguslah." ujar Vania tersenyum lega, lalu mengecup kedua pipi anaknya bergantian.


"Kalau kalian bermain hati-hati okay." Vian dan Vano mengangguk paham.


"Yuk, kita makan siang dulu." Vian dan Vano mengangguk semangat.


Vania menggenggam kedua tangan anaknya dan membawa mereka ke meja makan. Menyajikan makan siang kepada dua anak laki-laki tersebut.


"Mommy." suara teriakan yang terdengar begitu lucu menggema memanggil mamanya yang sedang menatap kedua anak laki-lakinya yang makan dengan lahap.


Mata Vania bergerak menuju sumber suara dan tersenyum lebar ketika mendapati putri kecilnya dalam gendongan Dave.


Queena Angelic Raveno, putri kecil mereka. Satu tahun setelah Vania lulus, lahirlah putri mereka yang cantik. Wajahnya putih dan matanya biru seperti Papanya. Bayi kecil itu terlihat seperti malaikat saat lahir, karena itu Dave menyelipkan nama Angelic. Wajahnya cantik seperti Vania.


Vania bangkit berdiri dan mengambil alih putrinya dari Dave. Vania menghadiahi Dave kecupan singkat di bibir suaminya itu, lalu melangkah kembali ke kursi meja makan dan duduk disana.


"Lelah bermain dengan Daddy?" tanya Vania mengelus rambut putrinya yang begitu halus.


Dave tersenyum dan ikut duduk di kursi meja makan. "Seru Mommy." ujar putrinya itu lucu.


"Daddy jahat hanya membawa Queena saja tanpa memberitahu kami." ujar Vian menatap Dave dengan mata tajam.


Dave tertawa. "Daddy minta maaf okay." ujar Dave tersenyum sambil mengusap kepala Vian.


"Lain kali kita harus bermain tanpa Queena." ujar Vian cemberut.


Queena menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca saat mendengar hal itu. Vano yang melihat hal itu langsung memukul lengan Vian.


"Awss." Queena terdiam melihat hal itu dan menatap Vano dengan mata bulatnya yang bersinar.


"Jangan bercanda." ujar Vano pada Vian yang sedang mengusap lengan sambil menggerutu.


Queena tersenyum sambil terkikik lucu melihat ekspresi wajah Vian yang mengaduh. "Bagaimana kalau kita berlibur bersama?" tanya Dave tiba-tiba.


Vian menatap Dave dengan wajah penuh harap. "Jepang, aku mau ke Jepang." ujar Vian semangat.


"Vano?" tanya Dave.


"Dimanapun tidak masalah." jawab Vano dengan wajah datarnya. Vano memang anak yang terlalu tidak banyak ekspresi dan dingin seperti Dave dulu. Sifat Dave tercetak jelas di dalam diri Vano dan Vania sangat menyadari hal itu.


"Baiklah kita ke Jepang."


"Yeay, Hore." teriak Vian sambil mengangkat tangan ke udara. Queena yang melihat kelakukan kakaknya itu ikut mengangkat tangan dan berteriak kesenangan bersama Vian.


Sedangkan Dave dan Vania hanya terkekeh menatap tingkah lucu anak-anaknya.


The End.