
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Author POV
Dave terbangun saat merasakan cahaya matahari menerpa wajahnya dari sela-sela gorden. Tangannya memencar ke samping, mencari sosok istrinya yang tidur disebelahnya. Namun, ranjang disebelahnya terasa kosong, menandakan bahwa istrinya sudah bangun.
Dave mengerjab beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya. Ia merenggangkan tubuhnya sebentar, lalu beranjak ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi paginya.
Sedangkan Vania, wanita itu sibuk berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Di meja makan, sudah tertata rapi pancake, roti, serta jus dan beberapa potongan buah segar.
Setelah semua makanan tertata rapi, Vania tersenyum bangga menatap sarapan yang ia sajikan.
"Apa Dave masih belum bangun?" Batin Vania bertanya-tanya.
Akhirnya Vania memutuskan untuk beranjak menuju kamar mereka. Dalam waktu singkat, Vania sampai ke kamar, mengingat memang mereka masih berada di hotel dan belum kembali ke Mansion.
"Dave." Panggil Vania saat ia membuka pintu kamarnya. Pandangan Vania memendar saat tak menemukan Dave di atas ranjang.
Matanya menatap ke arah pintu kamar mandi dan yakin bahwa Dave sedang berada di dalam.
Vania melangkah ke arah pintu tersebut dan membukanya dengan santai, memperlihatkan sosok Dave yang berdiri di depan kaca dengan sebuah handuk yang menggantung di pinggulnya.
Vania meneguk ludahnya kasar saat Dave membalikkan tubuhnya, menatap ke arahnya yang mematung di depan pintu.
Mata Vania jelas melihat betapa indahnya tubuh Dave yang masih basah dengan air. Rambut basahnya juga membuatnya semakin kelihatan seksi di bawah pancaran sinar matahari.
Vania masih berdiri kaku, bahkan saat Dave melangkah ke arahnya dengan senyuman geli. Senyum pria itu tak bisa ia tahan ketika melihat istrinya sampai terdiam kaku menatapi tubuhnya.
"Pagi sayang." Ucap Dave dengan nada geli sambil mengecup bibir istrinya yang masih terdiam.
Vania tersadar saat merasakan bibir basah Dave mengecup bibirnya. Bahkan, wangi sabun dan shampoo menguar hebat dari tubuh suaminya.
Vania berdiri kikuk menatap Dave yang tersenyum geli, karena kedapatan menjelajahi tubuh suaminya sendiri.
"Pagi." Jawab Vania. Ia benar-benar tak tahan berdiri di depan Dave dengan wanginya yang begitu menggoda dan tubuhnya yang indah bertelanjang dada hanya dengan sepotong handuk yang pria itu pakai.
Bisa-bisa Vania menerkam suaminya pagi ini dan sarapan mereka akan terlewat karna aktivitas buasnya nanti. Vania mencoba mengontrol hormonnya sendiri yang memang menggejolak setelah ia hamil.
"Pakai baju, lalu turun! Aku sudah menyiapkan sarapan." Ucap Vania cepat dan ingin cepat-cepat melangkah pergi.
Namun Dave mencekal tangannya dan menarik tubuhnya hingga membentur dada telanjang suaminya.
"Tidak ada kiss morning untukku sayang?" Tanya Dave dengan senyum menggoda dan tangannya yang melingkar erat di pinggang istrinya.
"Tadi sudah Dave." Ucap Vania jengah sambil mencoba mendorong tubuh Dave menjauh.
"Aku yang sudah, tapi kamu belum." Ucap Dave lagi. Vania mendengus pasrah, lalu mencium bibir suaminya. Hanya menempel cukup lama, tidak ada gerakan menuntut sama sekali.
Dave tersenyum senang, lalu melepas istrinya. "Aku akan turun sebentar lagi." Ucap Dave. Vania mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.
"Jangan lama!" Titah Vania sebelum menutup pintu kamarnya.
***
Setelah menghabiskan sarapan mereka dengan percakapan ringan, Vania beranjak membawa piring kotor mereka menuju wastafel dan mencucinya dalam diam.
Ditengah kegiatannya, ia merasakan sebuah tangan melingkari perutnya dan memeluknya dari belakang.
"Dave, aku sedang mencuci." Ucap Vania. Sebenarnya ia tak keberatan jika Dave hanya memeluknya saja, namun ia kenyataannya tangan nakal Dave mulai bermain disaat yang tidak tepat.
"Kenapa kamu harus repot sayang, letakkan saja ke dalam dishwasher." Ucap Dave dengan nada bossynya.
"Hanya sedikit saja aku bisa, tak perlu menggunakan dishwasher." Ucap Vania tak mau kalah.
"Kasihan babynya sayang." Ucap Dave sambil mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Aku juga perlu bergerak dave." Ucap Vania kesal, masih sibuk dengan membilas piringnya yang tinggal sedikit.
Vania menyerah dan membiarkan Dave memeluk tubuhnya hinga ia selesai. Namun belum beberapa detik, Dave masih saja menggodanya dengan mengecupi leher Vania yang terekspos bebas.
Setelah selesai, Vania langsung berbalik menghadap Dave yang menatapnya dengan wajah tampannya.
"Ada apa?" Tanya Vania. Suaminya ini bertingkah sangat aneh akhir-akhir ini. Dave sangat lengket dan bersikap manja padanya. Apa seorang suami juga akan ikut berdampak jika istrinya hamil?
Dave tak menjawab, namun langsung memeluk erat tubuh istrinya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Vania.
"Ke kamar!" gumam Dave di lehernya.
"Yaudah, gimana aku mau jalan, kamunya masih nemplok gini." Ucap Vania dengan begitu lembut. Dave tiba-tiba bersemangat melepas pelukannya, lalu menggendong istrinya dengan begitu mudah.
Begitulah pengantin baru, bawaannya hanya ingin berbaring di atas ranjang dan di bawah selimut untuk saling berbagi kehangatan.
Tak butuh waktu lama, Dave sampai di kamar mereka dan membaringkan tubuh Vania dengan lembut di atas ranjang.
Dave ikut membaringkan tubuhnya dan memeluk Vania dari samping dengan begitu erat. Vania mengelus rambut suaminya naik turun dengan gerakan lembut, seakan seorang ibu yang menidurkan bayi kecilnya.
Terbukti dari Dave yang mulai menutup matanya dan nafasnya yang berlangsung teratur. Padahal ia baru saja bangun tidur, kenapa sekarang tidur lagi?
"Dave aku ingin melahirkan normal." Ucap Vania dengan wajah melamun.
Vania pikir Dave sudah benar-benar tertidur, namun nyatanya ia terkejut saat Dave tiba-tiba membuka matanya dan menatap ke arahnya dengan wajah dingin.
"Tidak." Ucap Dave.
Vania menatap Dave dengan raut sedih. "Kenapa?" Tanya Vania dengan wajah sedih.
"Melahirkan anak kembar dengan normal sangat sulit sayang, ditambah kamu masih sangat muda." Ucap Dave lembut, tak ingin Vania tersakiti oleh kalimat yang ia lontarkan.
Vania mencerna apa yang Dave katakan dengan baik. Kalau itu memang yang terbaik untuk dirinya, asalkan anak-anaknya lahir dengan selamat ia akan melakukan apapun itu.
Vania mengangkat wajahnya menatap Dave, lalu melontarkan senyum tipisnya. "Baiklah Dave." Ucapnya dengan senyum tulus. Ia hanya ingin anak-anaknya selamat dan ia harus mengesampingkan egonya.
Dave membalas dengan tersenyum senang, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya lagi.
"Kita akan membesarkan mereka bersama-sama sayang. Percaya padaku!" Ucap Dave dengan penuh tekat, sedangkan hatinya kini sedang membara dengan amarah karena mengingat musuhnya yang mulai bergerak dengan terang-terangan setelah ia menikah dengan Vania.
Musuhnya pasti akan menggunakan Vania dan calon anaknya untuk melemahkan Dave. Kelemahan yang selama ini musuhnya cari dari dirinya, akhirnya dapat dengan sendirinya. Vania dan anaknya adalah sasaran yang paling empuk untuk menjatuhkan Dave dan melengserkan kekuasannya.
"Dave, kamu masih ingat janji kamu waktu itu kan?" Tanya Vania sambil menatap Dave dengan senyum tipis penuh luka.
Dave ingat janji itu. Janji yang ia setujui bahwa akan menyelamatkan anak-anak mereka apapun yang terjadi. Janji yang membuat hatinya sakit seakan ditimbun oleh berton-ton bebatuan. Janji yang membuatnya harus memilih antara wanita yang ia cintai dan anaknya sendiri.
Dave menatap wajah istrinya lekat. Pandangannya penuh luka seakan tak ingin menguatkan janji itu dihatinya.
"Ya." Jawab Dave pelan dengan nafas tercekat. Vania tersenyum semakin lebar. Ia lega Dave mengatakan itu. Ia lega bisa memastikan anak-anaknya akan lahir ke dunia dengan selamat walau harus mengorbankan dirinya.
Tangan Vania terulur mengusap rambut Dave. "Terimakasih Dave." Ucapnya, lalu mengecup puncak kepala suaminya dengan penuh cinta.
Dave memejamkan matanya, mencoba untuk tak menunjukkan kesedihannya. Ia harus bertekad. Jika ingin istri dan anaknya selamat, maka dia yang akan mengorbankan nyawanya.
Dialah yang membuat semua ini terjadi. Dosanya yang sudah merenggut banyak nyawa, suatu saat akan berbalik padanya. Mereka yang akan merenggut orang yang Dave sayangi.
Bersambung....
Hay.. Hay... Hay...
Sehat kan??
Akhirnya up lagi disela-sela kesuntukan belajarku😭😭
Yang rindu babang dave bisa mampir ke IG violet_slavny.
Jangan lupa like, share dan komen.
Bye... 😘💕