
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Dave berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan wajah memucat. Masih dengan berbalut pakaian kantornya, Dave berhenti tepat di depan ruang operasi.
Terdapat Lia yang menangis tersedu-sedu dengan wajah khawatir.
Dave merengkuh bahu wanita itu dengan kasar. "Apa yang terjadi pada Vania?" tanya Dave dengan wajah pucat dan khawatir setengah mati.
"Tu..tuan.. Nona Vania.. hiks.. hiks.. darah." Lia tidak bisa melanjutkan perkataannya, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu terjadi tepat di depan matanya, Lia tidak dapat berkata apapun.
Cengkeraman tangan Dave mengerat, menuntut lebih banyak jawaban. Namun, kekuatan tangannya seakan melemah saat wajah Vania terlintas di pikirannya.
Senyum wanitanya serta tawa Vania terngiang di kepalanya. Dave melepas cengkeraman tangannya pada bahu Lia dan menunduk kalut.
Di dalam sana terbaring lemah istrinya antara hidup dan mati. Sakit. Benar-benar sakit di bagian dadanya. Rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh benda kasat mata. Dave ingin berada di samping istrinya, menggenggam tangannya, dan menyemangatinya.
Rasanya Dave rela menggantikan posisi Vania saat ini. Dia tidak ingin kehilangan sosok Vania dalam hidupnya yang gelap. Vania adalah penerangnya. Vania adalah hidupnya. Vania benar-benar nafasnya untuk tetap berada di dunia.
Tanpa dapat ditahan, air mata perlahan menetes di kedua mata pria itu. Dave menangis. Untuk pertama kalinya ia menangis, setelah 22 tahun dia tidak menangis. Terakhir kali Dave menangis saat umurnya lima tahun, dikarenakan bimbingan Papanya yang begitu keras.
Dave mengusap air matanya. Sekarang bukan saatnya ia menangis. Vania pasti akan kembali padanya. Vania berjanji akan selalu bersama dengannya hingga tua.
Dave mengangkat kepalanya. Reana. Wanita itu penyebab semua ini. Dave meraih ponselnya dan menghubungi Kenzo.
"Bawa dia dan orang tuanya ke markas! Kau tau apa yang harus kau lakukan." titah Dave dingin. Dalam diri Dave seakan bangkit sosok iblis yang belakangan ini tertidur tenang.
Seorang Dokter berlari menuju Dave dengan wajah takut.
"Tuan Raveno, anda dapat masuk ke dalam ruang operasi sekarang." ujar Dokter tersebut.
Dave mengangguk, lalu mengikuti dokter tersebut. Menuntunnya untuk mencuci tangannya hingga bersih, lalu menggunakan jubah operasi dan penutup kepala.
Dave masuk ke dalam ruang operasi dan menemukan tubuh istrinya terbaring tak berdaya dengan selang penutup hidung di wajahnya. Terdapat selang infus serta selang darah terpasang di tubuh istrinya.
Belum lagi perban yang menutup kepala Vania. Dave kalut melihat istrinya terbaring di sana dengan mata tertutup rapat.
"I know you can do it, Baby. I'm right here. Everything will be Alright. You and our babies." bisik Dave sambil menatap wajah Vania lekat dan duduk di kursi sebelah Vania. (Aku tau kamu bisa melakukannya, Baby. Aku di sini. Semua akan baik-baik saja. Kamu dan bayi-bayi kita.)
Tubuh Vania bergeser ke kanan ke kiri saat dokter berusaha mengeluarkan Bayi di dalam perut Vania.
Hingga akhirnya suara tangis bayi menggelegar kencang di seluruh ruang operasi. Dave menatap putranya yang masih berlumuran darah menangis dengan begitu kencang. Bayinya itu diberikan pada perawat untuk dibersihkan.
Dave menggenggam erat tangan Vania. Dave merasa bersalah karena Vania tidak dapat mendengar suara tangis putra mereka saat menyambut dunia.
Tubuh Vania kembali bergeser dan akhirnya bayi kedua ke luar untuk menyambut dunia.
Namun, senyum Dave berganti khawatir saat tak terdengar suara tangisan dari bayi keduanya.
Dave bangkit berdiri sangking paniknya. Sang Dokter menggosok punggung bayinya berulang kali namun tidak berhasil. Dokter tersebut mengusap tubuh bayinya hingga bersih, lalu menghisap cairan dari hidung dan mulut bayi tersebut.
Dave menunggu dengan penuh harap. Satu kali. Dua kali. Bayinya belum juga menangis.
Hingga ketiga kalinya, akhirnya bayinya menangis dengan begitu kencang. Dave membuang nafas lega dan kembali duduk.
Dave mengecup punggung tangan istrinya. "Anak kita sudah lahir ke dunia." batin Dave gembira.
Dokter tersebut memberikan bayi kedua Dave pada perawat untuk dibersihkan. Dokter melanjutkan pekerjaannya untuk menjahit perut Vania dengan telaten.
"Silahkan Tuan Raveno melakukan skin to skin pada putra anda." ujar sang Dokter.
"Baik." jawab Dave, lalu bangkit berdiri sambil menatap lembut istrinya.
"Istriku, dia akan baik-baik saja bukan?" tanya Dave sambil menatap Dokter tersebut dengan mata tajam.
"Istri anda akan baik-baik saja Tuan." jawab Dokter tersebut yakin. Dave mengangguk, lalu pergi mengikuti perawat yang menuntunnya.
Bersambung....
Note : Next 19/5