When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 58 - Addison



...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...


Tok... Tok.. Tok..


"Permisi Nona."


Mata Vania mengerjab perlahan saat seseorang memanggil-manggilnya. Dia bangun dengan terpaksa saat namanya dipanggil berulang kali.


"Ada apa?" tanya Vania masih dengan mata mengantuk.


"Nona, dibawah ada keluarga anda." ucap pelayan tersebut yang berhasil membuat Vania membelalakkan matanya.


"Dimana Dave?" tanya Vania cepat.


"Tuan sedang pergi sebentar ke kantor dan akan kembali secepatnya Nona." Vania mendengus.


"Bantu aku bersiap!"


Vania duduk dengan perlahan, lalu bangkit dari ranjangnya. Pelayan wanita tersebut membantu Vania menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Ia juga membantu Vania mengganti pakaiannya dengan dress ibu hamil yang lebih nyaman, lalu menggunakan sandal rumahnya.


Setelah selesai, Vania dan pelayan wanita tersebut melangkah menuju ruang tamu. Vania menatap jelas, tiga orang yang begitu ia kenal duduk dengan begitu elegan di atas sofa.


"Aku tidak tau kalian berniat datang ketempat tinggalku." ucap Vania sambil duduk di single sofa.


"Perutmu sudah sebesar ini Vania." ucap Rose dengan senyum lembutnya. Vania beralih mengusap perut buncitnya dengan penuh kasih sayang.


"Anakku kembar." ujar Vania sambil menatap Rose dengan senyumnya.


"Pantas saja sebesar itu." tambah Rose dengan senyum kaku.


"Ada tujuan apa kalian datang kemari?" tanya Vania.


"Dimana Davin?" tanya Jason dengan tangan saling bertaut.


"Dia sedang pergi." jawab Vania.


"Sayang sekali suamimu tidak ada disini." ucap Jason. Vania tersenyum miring.


"Kenapa harus mencari suamiku? Jika ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan suamiku, aku wajib mengetahuinya." ucap Vania panjang lebar. Reana tampak dongkol dengan sikap keNyonyaan yang dikeluarkan oleh Vania.


"Vania, sopanlah dengan Papa." peringat Reana.


"Dia adalah papamu Reana, dia sama sekali bukan papaku." ucap Vania dengan senyum sinisnya.


"Papamu sudah mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Sesuatu yang sama sekali tak pantas dia dapatkan." ujar Vania lamat-lamat sambil menatap ketiga orang itu dengan senyum miring.


"Kenapa? Anda tidak setuju?" pancing Vania dengan tampang merendah.


"Kau sama sekali tak pantas mendapatkan Dave, Vania." ucap Reana dengan sorot mata tajam. Vania mendengus sambil terkekeh.


"Katakan apapun yang kau mau Reana! Kau hanya iri denganku." tambah Vania dengan senyum kemenangan. Reana menggeram marah sambil bangkit berdiri. Reana tampak mengangkat tangannya dan hendak melayangkannya.


"Kau...."


"Sentuh istriku sedikit saja, jangan harap kau bisa keluar dari sini dengan selamat." tangan Reana berhenti di udara saat seseorang datang dan memotongnya.


Reana menelan ludahnya takut saat melihat sosok Dave berjalan ke arah mereka dengan wajah dinginnya. Reana menurunkan tangannya perlahan dan melangkah mundur kembali ke tempatnya.


Dave melangkah mendekati istrinya, lalu mencium singkat kening Vania. Dave duduk dalam diam sambil menatap ketiga orang didepannya dengan raut tak suka.


"Apa tujuan kalian?" tanya Dave to the point. Jason tampak tersenyum miring ketika Dave langsung masuk ke dalam topik yang dia inginkan. Dia sama sekali tidak suka berbasa-basi.


"Kau sekarang adalah menantuku, sudah seharusnya kau bekerja sama dengan Addison Corp untuk mengembangkannya." ujar Jason. Dave terkekeh pelan.


"Apa perlu kuingatkan, kau sama sekali tak memiliki hak pada Addison Corp. Satu-satunya yang memiliki hak atasnya adalah istriku." ucap Dave dengan wajah merendahkan. Tangannya terulur memanggil seorang pelayan.


"Ya Tuan?" jawab pelayan yang baru saja datang tersebut.


"Dimana kinerja kalian? Seorang tamu datang dan seharusnya kalian memberikan mereka minum. Ambilkan minum! Biarkan mereka minum sebelum keluar dari sini." ucap Dave. Jason tampak geram mendengarnya.


"Dia adalah kakakku Davin, aku juga berhak atas perusahaannya." ujar Jason marah. Dave melempar tatapan tajamnya.


"Sebelumnya, aku mengurungkan niat untuk merebut Addison Corp karena mengingat istriku. Aku berubah pikiran, setelah kalian kehilangan semuanya, kalian akan terpontang-panting hidup dijalanan."


"Kedatangan kalian kesini adalah keputusan yang salah. Tunggu saja, Addison Corp akan kembali kepada pemiliknya yang sesungguhnya." Vania menatap lekat Dave dengan raut khawatir. Vania khawatir Dave benar-benar melakukannya.


"Usir mereka dari sini!" Dave bertitah dingin kepada pengawal yang ada di penjuru rumah ini.


"DASAR ANAK SIAL! AKU MENYESAL SUDAH MEMBESARKANMU. AKU MENYESAL TIDAK MEMBUNUHMU SAAT ITU JUGA. AKU MENYESAL MENYELAMATKANMU DARI PENCULIKAN ITU. SIAL!!!" Jason berteriak kencang sampai urat-urat lehernya keluar. Jason menatap berang kedua suami-istri itu dengan tatapan tajam. Sedangkan tubuh mereka bertiga digiring dengan paksa keluar dari sini.


Dave membawa Vania kedalam dekapannya, memeluknya dengan erat. Dave tak ingin Vania mendengar ucapan laknat pria tua itu.


Vania mencengkeram lengan baju Dave dengan tangan bergetar. "Jawab aku! Kamu tidak akan melakukannyakan?" tanya Vania.


Dave mengelus punggung istrinya naik-turun. "Setelah kejadian ini, bagaimana aku bisa mengurungkan niatku lagi? Jangan larang aku kali ini saja." ujar Dave lembut. Vania terdiam didalam pelukan Dave. Dia tak tau harus mengatakan apa.


Vania menoleh ke arah pintu utama, menatap keluarganya yang perlahan menghilang ditelan pintu.


Bersambung....