When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 41 - I want a Meatball



...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...


Vania POV


Akhirnya selesai juga perdebatan panjang antara aku Dave dikarenakan masalah gaun pernikahan. Dave menolak banyak gaun yang kucoba dengan banyak alasan, kurang bahanlah, terlalu norak, ketinggalan jaman, kurang mewah, belum lagi alasannya yang ingin gaun tersebut mengembang lebar seperti gaun tuan Putri, namun tetap ringan dikarenakan aku mengandung.


Bahkan saat aku kelelahan mencoba gaun-gaun tersebut, tetap saja tidak ada satupun yang ia inginkan. Dia memutuskan seorang designer terkenal untuk membuat gaun pernikahanku yang lusa akan diadakan.


"Aku kelelahan dan kamu tetap tidak memilih apapun." Ucapku kesal saat kami sudah memasuki mobil.


Mobil perlahan melaju. "Semua jelek, aku tidak suka." Ucap Dave ikut kesal.


Aku mendengus pasrah dan tak ingin berdebat dengan Dave dan beralih memainkan akun sosialku. Mataku terpaku saat melihat makanan yang sangat menggugah dilayar ponselku.


"Dave aku ingin ini." Ucapku menggoyang lengan Dave yang berada disampingku.


Dave menatap layar ponselku dengan wajah berkerut bingung. "Ini makanan apa?" Tanyanya bingung. Akupun membaca tulisan dibawahnya.



"Bakso Lava, indonesian food sayang." Ucapku setelah membacanya.


"Itu kelihatan sangat pedas." Ucapnya menatapku.


"Hmm dan aku ingin." Ucapku menatapnya dengan mata berbinar.


"Dimana itu bisa didapatkan?" Tanyanya bingung.


"Entah Dave aku juga tidak tau. Tapi aku benar-benar ingin. Aku ngidam sayang, kasihan babies." Ucapku dengan nada sedih sambil mengusap perutku.


Dave terdiam sambil berfikir, lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menelfon Kenzo.


"Ken, carikan indonesian chef di negara ini dan pekerjakan dia di Mansion."


"......."


"Hari ini juga Ken, secepatnya! Istriku ngidam." Ucap Dave sambil menatapku yang tersenyum senang.


Dave menutup telponnya, lalu mencium keningku lembut. "Setelah kita sampai di Mansion, dia pasti sudah ada disana." Ucapnya.


"Terimakasih Dave."


"Sama-sama sayang."


***


Setelah sampai di Mansion, benar saja chef yang dimaksud Dave sudah berada disana. Dave menggandengku menuju ke arah chef tersebut.


"Selamat sore Tuan Nona, ada sesuatu yang ingin saya buatkan?" Tanyanya sopan.


"Tolong buatkan ini." Sambil menunjukkan layar ponselku padanya. Dia menatapnya dan mengangguk mengerti.


"Segera saya buatkan Nona." Ucapnya.


"Terimakasih." Ucapku dengan senyum lebar. Dia berjalan pergi setelah mengucapkan permisi dan aku mengikutinya meninggalkan Dave.


"Sayang, kamu tidak boleh kelelahan." Teriaknya sambil mengejarku yang berlari ke arah dapur.


"Aku ingin tau caranya Dave." Ucapku menatapnya yang kini sudah berada dihadapanku.


Dave mengaitkan rambutku dengan lembut ke belakang telinga dan menatapku lekat.


"Baiklah, aku akan mengganti pakaian sebentar, lalu menemanimu." Ucapnya.


"Baiklah."Jawabku dengan mengangguk pelan.


Dave pergi mengganti pakaiannya dan aku fokus menatap apa yang dilakukan oleh chef tersebut. Beberapa menit kemudian Dave menghampiriku setelah mengganti pakaiannya.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Aku terbatuk saat mencium aroma bumbu yang sedang ditumis. Dave juga ikut terbatuk serasa menusuk ke dalam paru-paru.


"Maaf Tuan Nona, beginilah jika orang Indonesia menumis sambal. Orang Indonesia bilang, jika orang terbatuk saat sedang memasak, itu artinya masakan itu enak." Ucapnya.


"Sayang, sebaiknya kita jangan disini okey." Ucap Dave.


"Bagaimana bisa anda tidak ikut batuk?" Tanyaku bingung sambil terbatuk.


"Saya sudah terbiasa Nona. Sebaiknya Tuan dan Nona pindah saja, karena ini akan sedikit lebih lama." Ucapnya.


Akhirnya aku mengangguk dan mengikuti Dave ke ruang keluarga. Aku berbaring di dada Dave sambil menonton sebuah film action di layar televisi.


"Seharusnya jika dia memukul hidungnya sekencang itu, hidungnya akan patah dan berdarah." Ucap Dave.


"Pembuatan film ini tidak signifikan dan detail." Tambahnya lagi.


"Tembakannya terlihat seperti profesional yang menembak sangat jitu, namun cara memegang pistolnya saja salah." omel Dave lagi.


"Stop it Dave! Ini hanya film, jika ini nyata pasti akan lebih sangat mengerikan dan mencekam." Ucapku.


"Ya kamu benar." Ucapnya membenarkan.


"Permisi Nona Tuan, makanannya sudah jadi." Ucap chef tersebut. Aku langsung berdiri semangat dan berlari kecil menuju meja makan dengan makanan yang sudah tersaji di depanku.


"Wowww... Dave look at this big meatball." Ucapku kagum. Tersedia bakso super besar di dalam piring datar dan kuah terpisah di dalam mangkok.


"Nona, cara memakannya anda harus membelahnya menjadi dua dan dapat dimakan langsung ataupun dengan kuah." Ucapnya.


"Okay, terimakasih." Ucapku dengan senyum lebar.


Dave duduk disebelahku dan bergerak memotong bakso tersebut. Aku menatap antusias dan semakin terpukau saat melihat sesuatu terlihat meleleh dari dalam serta beberapa bakso kecil di dalamnya.


"Wahhhh... I can't wait anymore." Ucapku menatap Dave sedih saat Dave masih memotong bakso tersebut menjadi lebih kecil untuk dapat dikunyah.


"Buka mulut sayang!" Aku langsung menerima suapan Dave dan mengunyahnya dengan semangat.


"Shh... pedas." Ucapku masih sambil mengunyah. Baru gigitan pertama rasa pedas langsung memukul mulutku.


Kuraih sendok dan meminum kuah yang terlihat sangat nikmat ini. "Dave ini benar-benar enak." Ucapku senang.


"Aku senang melihatmu senang sayang." Ucapnya sambil mengelus kepalaku.


"Pedas?" Tanyaku.


"Lumayan." Jawabnya dengan wajah santai. "Mau lagi." Dave langsung menyuapiku lagi dan sesekali aku menyuapinya kuah.


Aku dan Dave menikmati makanan kami sampai bakso besar tersebut habis dan tentu saja Dave lebih banyak makan karna ia bisa menahan rasa pedas tersebut, sedangkan aku harus berhenti beberapa kali lalu melanjutkan lagi.


"Enak." Ucapku senang. Dave mengelus perutku lembut sambil menciumnya.


"Sudah puas babies?" Tanyanya lembut.


"Sudah daddy." Jawabku dengan nada anak kecil.


***


Davin POV


"Dave, seseorang berhasil memboikot sistem keamanan kita."


Kini aku berada di balkon kamarku sambil menatap Vania yang tertidur pulas di atas ranjang. Tanganku memegang ponsel di telinga dan mataku tidak bisa teralihkan oleh sosok Vania.


"Siapa yang melakukannya?" Tanyaku pelan.


"Tidak dapat diselidiki, sistem mereka juga kuat." Jawab Kenzo.


"Sekuat apa sampai tidak bisa kita bobol? Jangan bercanda denganku Kenzo, masalah sekecil ini seharusnya aku tidak perlu ikut campur bukan?" Ujarku dingin.


"Baiklah, kami akan berusaha mencari tau."


"Lakukan jika kau masih ingin terlihat pantas di depanku." Ucapku tajam dan langsung mematikan telponnya. Aku mendengus kasar sambil mencengkram pagar balkon dengan erat.


"Dave." Kudengar lirihan suara Vania memanggil namaku. Aku melangkah ke arahnya dan duduk disebelahnya.


"Aku disini sayang." Lirihku ditelinganya sambil mencium wajahnya yang terlelap.


Kulihat ia menggeliat mendekati tubuhku untuk mencari kenyamanan dan akhirnya aku memutuskan berbaring disampingnya dan meraihnya dalam pelukanku.


***


Keesokan harinya aku memutuskan untuk tidak bekerja dan menyerahkan seluruh pekerjaanku pada Steve. Vania sibuk memakan berbagai cemilan sambil menonton film kesukaannya—baymax dan aku sibuk memastikan seluruh konsep pernikahanku sesuai dengan yang aku inginkan.


"Jangan tanya konsep seorang Dave Anthonic Raveno, ini adalah pernikahan pria muda terkaya dan tersukses di dunia. Tentu saja semuanya akan sangat mewah dan sangat mengesankan. Jadi beruntunglah Vania menikahi seseorang sepertiku." Batinku bangga. Aku melihat beberapa foto yang dikirim di Tabku, guna melihat apa saja yang kurang dalam konsep tersebut.


"Bagaimana dengan undangannya?" Tanyaku pada kepala WO yang mengurus pernikahanku.


"Undangan sudah terkirim." Jawabnya.


"Pastikan seluruh makanannya enak dan tidak ada yang cacat, ditambah kue pernikahan yang aku inginkan!" Ucapku.


"Baik Tuan, semuanya akan kami pastikan lagi dengan benar." Ujarnya. Aku mengangguk kecil, lalu menyuruhnya untuk pergi.


Aku melangkah mendekati Vania dan duduk disampingnya. Kucium cepat bibirnya yang sedang mengunyah dan Vania langsung menatapku dengan wajah kesal.


"Jangan menggangguku makan, aku sedang menonton." Ucapnya kesal dan kembali melanjutkan makannya.


Aku tersenyum senang dan kembali mencium bibirnya yang sedang mengunyah berulang kali.


Cup... Cup... Cup... Cup.. Cup


Aku menciumnya berulang kali sampai dia tidak bisa menyela.


"Dave." Rengutnya tambah kesal.


"Apa sayang?" Tanyaku dengan wajah manis tanpa nada bersalah.


Kulihat ia bergerak mengambil potongan coklat dan memberikannya padaku. "Buka mulut dan makan ini!" Katanya sambil menunjukkan coklat tersebut di depan mulutku.


Aku membuka mulutku dan dia memasukkan coklat tersebut ke dalam mulutku.


"Sekarang diam dan jangan menggangguku!" Ucapnya dan aku terkekeh senang.


"But I like your lips more than this chocolate, Your lips are sweeter than this." Ucapku menggodanya. Vania langsung menatapku dengan mata memicing namun...


Cup


Dia mencium bibirku sekilas. "Sekarang pasti sangat-sangat manis." Ucapnya sambil menatapku.


"Kombinasi yang sempurna." Ucapku senang sambil memeluknya dari samping dan ikut menonton bersamanya.


Kurasakan tangannya mengelus rambutku naik turun seperti seorang ibu yang menidurkan bayinya. "Calon suamiku sudah bekerja keras." Ucapnya tertawa geli.


Dia mencium puncak kepalaku dan kembali mengelus rambutku. "Tidurlah, wajah kamu kelihatan kelelahan belakang ini." Ya, aku memang merasa lelah dengan masalah kerja, underground, ditambah menjelang pernikahan.


"Babies bagaimana di dalam?" Tanyaku mengelus perut Vania.


"Mereka masih berkembang daddy." Jawab Vania dengan nada gemas. Aku mencium perut Vania berulang kali, lalu memeluk pinggangnya dan menenggelamkan wajahku di perutnya.


"Daddy berjanji akan menjaga kalian dengan baik sweetys." Bisikku dan kurasakan tangan Vania mulai mengelus rambut belakangku naik turun.


"Aku akan tidur sebentar sayang." Ucapku menatapnya sambil membaringkan kepalaku di atas pahanya.


"Hmm,tidurlah!" Jawabnya sambil terus mengusap kepalaku seperti menidurkan seorang anak kecil, namun elusan itu berhasil membuatku jatuh ke dalam alam mimpi.


Bersambung....


Hay.. Hay.. Hay..


Oh iya tentang bakso itu, sebenarnya aku yang pingin banget😢 klau lihat youtuber makan bakso viral ini, aku pasti ngiler😭


Sedih, jadi aku hanya bisa tuangin rasa pingin aku kedalam cerita ini melalui ngidamnya Vania🤣



Dave : Jika aku main ke Indonesia, Aku akan membelikanmu restoran bakso tersebut sebagai ucapan terimakasih. (Katanya tapi tetap dengan wajah bossy.)


Oh iya jangan lupa follow ig violet_slavny supaya klian dapat info kapan aku update dari instastory, jadi klian nunggunya enak.


Dan jangan lupa like, share dan komen sebanyak mungkin.


Bye..... 😘💕