When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 22 - NO



Keesokan harinya.


Dave bangun dari tidurnya dengan keadaan tak biasa. Pagi hari pertama dimana ia bangun dan tak mendapati vania disampingnya yang biasanya meringkuk mencari kehangatan. Atau saat dimana gadis itu membangunkannya jika ia bangun terlambat. Dave terduduk dengan tubuh toplessnya dan menatap kearah sebrang ranjangnya, memimpikan bahwa vania ada disana.



Dave keluar dari kamarnya dan melewati kamar kekasihnya. Jam segini biasanya gadisnya itu sudah bangun bersiap kesekolah dan saat libur ia akan bersemangat untuk memasak sarapan. Davin mengurung vania dikamar dan tak membiarkan gadis itu pergi kesekolah, karna bisa saja dia melarikan diri pada sam sahabatnya itu.


Hari ini dia sudah siap dengan setelan kerjanya. Mengingat setiap pagi senyum vania yang menyambutnya, mulai pagi ini senyum itu menghilang. Dave berjalan menuju meja makan untuk sarapan.


"Antarkan sarapan untuk vania! Pastikan keadaannya sampai aku pulang nanti! "Titah dave pada kepala pelayannya yang langsung menunduk patuh.


Setelah selesai sarapan dave langsung pergi menuju kantor dan meninggalkan mansionnya dengan wajah datar.


Vania POV


Aku berdiri diatas balkon dan menatap mobil davin yang baru saja pergi meninggalkan mansion. Aku sudah tak ingin memanggilnya dengan sebutan dave, jangan harap aku ingin memanggil nama itu. Setelah aku bangun aku masih mencoba mengecek pintu kamarku, dan ternyata aku masih dikunci didalam sini.


Tok.. Tok.. Tok


Lamunanku terbuyar lalu menoleh kearah pintu yang terbuka menampilkan sosok pelayan yang membawakan troli sarapan.


"Nona ini sarapan anda. "Ucapnya. Aku menatapnya dengan wajah terdiam dan memilih menoleh kembali menatap pemandangan dari atas balkon.


Aku bisa saja menorobos pelayan wanita yang tampak lemah itu, namun aku yakin tak akan lolos dengan para penjaga yang berjaga 24 jam untukku. Itu akan sangat sia-sia.


"Saya permisi nona. "Kudengar ucapan terakhirnya dan disusul bunyi pintu yang tertutup.


Aku masih berdiri terdiam dan menatap area taman dengan pandangan kosong. Semenjak kejadian kemarin aku benar-benar kembali menjadi sosokku yang pendiam dan datar.


Ponsel? Jangan tanya barang itu! ponselku sudah disita olehnya saat dia meninggalkan kamarku.


Pandangan kosongku perlahan berubah, mataku memanas dan air mataku turun begitu saja. Dadaku sesak seketika mengingat semua kejadian kemarin.


Aku terisak dalam diam mencoba untuk menahan semuanya. Mulutku terkatup dengan bibir bergetar mencoba menahan isakanku keluar. Namun air mataku turun dengan begitu deras dan aku mengusapnya berulang kali.


"Jangan menangis vania! Dia tidak pantas untuk kau tangisi. "Batinku untuk menguatkan diriku sendiri.


Perlahan demi pasti isakanku berhenti dan menyisakan mata sembabku. Aku melangkah keatas ranjang dan berbaring meringkuk disana.


Aku bahkan tak berniat sedikitpun untuk menyentuh sarapanku. Rasa laparku terhempas dengan rasa sakitku saat ini. Yang kubutuhkan saat ini hanya ketenangan dan kedamaian.


Sampai akhirnya tak terasa jam menunjukkan pukul 12 siang dan aku masih bertahan diposisi meringkukku dengan wajah terdiam.


Cklek.


Kudengar bunyi pintu terbuka, dan tak mau menoleh kearahnya. Kudengar suara roda troli dan aku yakin dia mengantarkan makan siangku.


"Nona, anda tidak menyentuh sarapan anda sama sekali. "Ucapnya. Aku masih terdiam, ya memang aku tak menyentuh sarapanku sama sekali bahkan minumpun tidak.


"Nona, tuan menyuruh saya memastikan keadaan anda. Saya mohon makanlah makan siang anda nona. "Ucapnya dengan nada membujuk, aku masih terdiam ditempat dan menghiraukannya.


"Saya permisi nona satu jam lagi saya akan masuk untuk mengecek. "Ucapnya pasrah karna keterdiamanku. Kudengar bunyi-bunyian piring disusul roda troli yang menjauh lalu bunyi pintu yang tertutup.


Aku menoleh keatas meja nakas dan mengambil air putih disana dan meminumnya. Lalu aku kembali meringkuk terdiam.


Satu jam kemudianpun pelayan tersebut datang dan melihat nampan dengan keadaan utuh hanya air mineralnya yang habis.


Pelayan tersebut tak berkomentar apapun dan pergi keluar meninggalkanku. Aku tak tau dia akan melakukan apa mungkin dia akan melapor pada tuannya itu.


Dan benar dugaanku, tak berselang lama pintu kamarku terbuka dengan kasar dan aku hanya terdiam tak mempedulikannya. Aku bisa memastikan dia adalah davin.


"Kenapa kau tidak memakan makananmu? "Tanyanya tajam dan aku sama sekali tak berkutik bahkan menoleh kearahnya.


Beberapa detik kemudian kurasakan badanku ditarik dengan kuat dan memaksaku menatapnya.


"Kenapa kau tidak memakannya? "


Tanyanya lagi.


"Apa pedulimu? "Tanyaku menatapnya tajam dan menghempaskan tangannya yang menggenggam kuat lenganku.


"Jangan membantahku! "Ucapnya tajam.


"Sudah kukatakan padamu, anggap aku tidak ada disini dan jangan pedulikan aku! Terserahku mau melakukan apapun, bahkan membunuh diriku sendiri. "Aku menekan kata terakhirku dengan mata tajamku. Kulihat dia menatapku tajam, tak kalah tajam denganku.


"Jadi kau ingin mati kelaparan? "Tanyanya dengan nada remeh.


Kulihat tangannya terkepal mencoba menahan amarahnya. Bibirnya berkedut dan matanya memancarkan arti yang tak kumengerti.


"Terserahmu! "Dia berteriak marah dan meninggalkanku disini. Air mataku menetes setelah kepergiannya dan tanganku terkepal mencoba menhan sakit yang kurasakan.


"Lihat dia tak akan mempedulikanmu vania. "Batinku sedih.


Aku terisak panjang dan berhenti dengan sendirinya, aku lelah untuk menangis bahkan aku lelah untuk tetap hidup. Hidup bergelimang harta namun sengsara seperti dineraka.


Sore ini, Aku memutuskan untuk mandi dengan tubuh lemahku. Sejak semalam aku tidak makan sampai hari ini menjelang malam. Aku berjalan dengan kepala sempoyongan dan penglihatanku berkunang-kunang. Aku terdiam sebentar sampai merasa sedikit lebih baik.


Aku melanjutkan langkahku kearah kamar mandi namun saat aku sudah membuka pintu dan menutupnya  kepalaku kembali berdenyut sakit dan mataku kembali berkunang.


Kutahan tubuhku yang akan ambruk didaun pintu namun tetap saja kurasakan kesadaranku seakan tiba-tiba diangkat, dan tubuhku ambruk menyisakan kegelapan.


Bruk..


Author POV


seorang pelayan memasuki kamar vania sambil membawa perlatan pembersih. jam menunjukkan pukul enam sore, dan dia tak menemukan nonanya didalam kamar.


"Nona. "Pelayan tersebut mencoba memanggil dan matanya menatap kearah pintu kamar mandi yang tertutup.


Pelayan tersebut berjalan perlahan dan tak mendengar suara gemericik air sedikitpun dan hanya keheningan. "Nona. "Dia mencoba kembali memanggil dan tak mendapat jawaban apapun, membuat dirinya panik.


Pelayan tersebut memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi dan melihat tubuh vania yang terbaring diatas lantai kamar mandi dengan darah yang mengucur dari kepalanya.


"AAAKKKHHHH... "


Pelayan tersebut berteriak histeris dan berlari keluar kamar.


"TOLONG... NONA MUDA... DIA... TOLONG.. "


Mendengar teriakan wanita ini yang begitu kuat dimansion, Seketika pelayan lainnya ikut datang menghampiri.


Dilain sisi, dave yang sedang berbincang dengan kenzo diruangannya terusik saat pintunya terbuka dengan kuat dan menunjukkan sosok kepala pelayan dengan raut wajah sedih.


Brak.


"Tuan.. Nona vania! Nona... Hiks.. "


Dave seketika merasakan jiwanya terangkat. Berdiri kasar dan berlari secepat mungkin kearah kamar kekasihnya.


Dave POV


Tidak.. Jangan perasaan ini! Vania.. Nafasku memburu cepat menyebutkan namanya berulang kali dihatiku. Aku berlari secepat mungkin dan masuk kekamarnya. Aku menatap beberapa pelayan yang menangis didepan pintu kamar mandi, dan aku langsung memasuki kamar mandi dengan kasar.


Tubuhku menegang dan menatap tubuh kekasihku berbaring kaku diatas lantai kamar mandi dengan darah disana. Tidak terlalu banyak namun tampak sedikit mengering yanga artinya kejadian ini sudah lumayan lama.


"Sayang... "Aku meraih tubuh lemasnya dan menatap wajahnya yang sangat pucat dan tubuhnya yang sangat dingin.


"KENAPA DIAM! SIAPKAN MOBIL SECEPATNYA. "


Kubopong tubuh vania yang begitu pucat dan merutuki dirinya yang begitu bodoh. Apa dia mencoba membunuh diri? Pertanyaan itu seakan terputar dikepalanya.


"Bertahanlah! "batinku.


"Baby, maafkan aku, jangan seperti ini. Aku tak akan sanggup. "Aku membiarkan air mataku turun begitu saja. Dadaku sesak tak sanggup melihat keadaannya.


Aku tak sanggup kehilangannya. Tuhan jangan dia, Kumohon.


Bersambung.....



Hay.. hay.. hay..


Gimana, apa sih yang akan terjadi sama vania. si davenya panik banget ituh... 😂😂


Mau balas dendam nggak sama dave? 😊


Jangan lupa sharr, like dan komen.


bye... 😘😘