
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
"Indonesia?"
"Iya sayang, kita akan ke Bali." Ucap Dave sambil mengusap kepala Vania dengan penuh kasih sayang.
"Ahh Bali. Aku tau Bali." Ucap Vania semangat.
"Benarkah kita akan ke sana? Berapa lama?" Tanya Vania antusias sambil menggoyang lengan Dave.
"Seberapa lama yang kamu inginkan." Jawab Dave. Vania langsung menerjang Dave dan memberikan pelukan erat pada suaminya itu.
"Babies menyukainya." Ucap Vania senang sambil mengusap perutnya yang mulai buncit.
"Mommy tidak menyukainya?" Tanya Dave dengan wajah menggoda.
"Aku juga menyukainya." Balas Vania dengan senyum lebar tak tertahan. Vania kembali memeluk Dave, lalu melepasnya dan bangkit berdiri dengan cepat.
"Kita harus berbelanja Dave." Ucap Vania heboh sambil berdiri menatap Dave.
"Belanja apa?" Tanya Dave bingung.
"Tentu saja bikini dan beberapa baju Dave." Ucap Vania kesal. Bagaimana Dave bisa tidak tau hal itu?
"Tidak ada bikini sayang. Lagipula, bukankah kau tidak suka mandi dan berjemur di pantai?" Ucap Dave.
"Memang tidak suka. Tetapi, memakai bikini di pantai itu sudah hukumnya Dave, ayo kita pergi!" Vania merengek sambil menarik-narik tangan Dave untuk ikut berdiri.
"Tidak. Aku tidak mau kalau bikini, aku tidak suka kau memakai bikini di tempat umum." Ucap Dave kesal ketika membayangkan tubuh istrinya dilihat oleh penghuni pantai terutama laki-laki, berhasil membuat kepala Dave panas karena tak rela.
"Babies menginginkannya." Ucap Vania cemberut. Inilah satu-satunya cara untuk membujuk Dave.
"Maafkan Mommymu ini sayang, karena membuat kalian menjadi alasan agar keinginan Mommy terwujud." Batin Vania bersalah.
"Kamu yang menginginkannya sayang. Babies pasti tidak ingin Mommynya dilihat oleh lelaki lain selain Daddy." Ucap Dave sambil mengusap perut Vania lembut.
Vania mendengus kecewa. Rencananya untuk berkeliaran di pantai dengan bikini sudah gagal total. Vania pasrah.
Dave menatap wajah kecewa istrinya dengan perasaan bersalah, namun ia tetap tidak akan mewujudkan hal itu.
"Kita akan berbelanja sepuasnya di sana. Kita akan berlibur dan bermain sepuasnya. Kita tidak hanya ke Bali sayang, kita akan ke pulau lainnya juga." Ucap Dave dengan nada membujuk sambil menarik lengan Vania agar duduk bersamanya.
Kepala Vania yang menunduk perlahan terangkat menatap wajah Dave. Vania diam sebentar lalu mengangguk pelan.
Dave tersenyum melihatnya namun terasa janggal. "Senyum sayang! "Ucap Dave sambil mencubit gemas bibir Vania. Vania mengaduh sakit, lalu memukul lengan Dave kesal.
"Sakit." Ucap Vania kesal.
Dave mengecup bibir istrinya dengan senyum bahagia.
"Sudah hilang?" Tanya Dave menggoda.
Vania ikut tersenyum melihat tingkah Dave, lalu ia menggeleng. Dave tersenyum lebar dan kembali mengecup bibir Vania berulang kali.
Vania tertawa merasakan kecupan kilat namun bertubi-tubi itu di seluruh wajahnya.
"Waktunya tidur siang Mommy."
Vania tersenyum simpul dan memutuskan tidur dengan nyaman dipelukan suaminya untuk meraih mimpi di siang bolong.
***
Dave sudah menyiapkan segalanya. Mulai dari Bodyguard dan penjagaan ketat untuk berjaga-jaga sesuatu yang tidak diinginkan.
Dave bahkan mengajak Kenzo untuk ikut bersamanya ke Indonesia. Perusahaan? Dia mempercayainya pada Chris dan dia akan mengontrol dari jauh.
Reana? Sudah lama Reana bekerja dengannya dan tak menunjukkan pergerakan mencurigakan apapun. Walau dia masih sering menggodanya di kantor, namun Dave juga tak menggubrisnya barang sekali.
Hingga akhirnya tiga hari kemudian, dimana hari keberangkatan mereka menuju Indonesia. Kenzo sudah menyiapkan Private Jet milik Davin untuk keberangkatannya.
Dave ingin Vania nyaman di dalam pesawat selama 22 jam penerbangan hingga sampai ke Bali. Dave tidak ingin istrinya itu merasa lelah duduk di penerbangan Commercial.
Kini Dave sedang menggendong istrinya turun dari mobil untuk menaiki Jet miliknya. Vania masih dalam keadaan tertidur ketika mereka ingin berangkat. Dave yang tidak tega membangunkannyapun memutuskan untuk menggendong istrinya itu ke mobil dan menjaganya hingga sampai ke bandara.
Dave melewati beberapa Pramugari yang menuntunnya menuju kamar. Dave memasuki area kamar dan membaringkan tubuh Vania di atas ranjang empuk tersebut. Dave mengecup kening istrinya lama, lalu bangkit keluar dari kamar tersebut.
Dave melangkah menuju area galeri cabin dimana Kenzo duduk dengan tenang di atas sofa panjang mewah berwarna monokrom dengan tab di tangannya.
Dave ikut duduk di samping Kenzo.
"Bagaimana? Apa dia bergerak?" Tanya Dave.
"Tidak. Orang ini benar-benar hanya diam saat ini. Dia bahkan berhenti menerobos sistem kita walau semua data sudah diarsipkan dengan aman." Ucap Kenzo.
"Baguslah. Biarkan dia diam untuk saat ini. Kita hanya perlu menunggu kedatangan Ansell untuk menyelesaikan ini semua." Tambah Dave yang dibalas anggukan oleh Kenzo.
"Kau sudah sebaiknya mencari pasangan hidup Kenzo, berhenti membenci wanita dan menyalahkan cinta hanya karena wanita itu." Ucap Dave.
Kenzo terdiam dengan wajah datar. Seketika wajah Kenzo berubah dingin saat mengingat kembali wanita yang dibahas oleh Dave.
"Jangan membahasnya di depanku!" Ucap Kenzo dingin.
"Baiklah. Kau hanya perlu ingat, masa lalu tidak akan dapat kembali. Jangan merusak masa depanmu hanya karena masa lalumu!" Ucap Dave panjang lebar, lalu bangkit dari duduknya.
Ia melangkah pergi setelah menepuk pundak Kenzo sebanyak dua kali, lalu menjauh meninggalkan Kenzo dengan wajah dinginnya.
Bersambung....
Like, komen dan share.
JANGAN LUPA LIKEEEEE...
Follow @violet_slavny
BYE.. 😘💕