When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 49 - Bali



...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...


Soori Hotel


Tabanan, Bali—Indonesia | 09.00 WITA


Setelah menempuh waktu 22 jam di pesawat, hingga akhirnya sampai ke Bali. Selama di pesawat, Vania cepat terbangun dan menghabiskan waktunya berbincang dengan Dave di kamar. Mereka juga makan siang dan makan malam bersama Kenzo dan bodyguard yang ikut makan dengan mereka karena permintaan Vania.


Akhirnya, Jet mereka mendarat mulus di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai pada pukul 06.00 WITA. Dave yang sudah membooking dan mempersiapkan seluruhnya, langsung menggendong istrinya menuju hotel dan beristirahat dengan nyaman di sana.


Sekarang jam menunjukkan pukul 09.00 pagi dan kedua insan ini masih bergelut di bawah selimut dengan saling berpelukan.


Vania yang terbangun pertama kali, menatap wajah suaminya dengan senyum lebar. Suaminya benar-benar sangat mempesona.


Vania mengusap pipi Dave lembut dan mengecup bibirnya cepat.


"Selamat pagi sayang." bisik Vania dengam senyum tulusnya. Vania menatap wajah pulas Dave dengan senyum tertahan.


Suaminya ini sudah bekerja begitu keras. Menggendongnya saat tertidur hingga sampai ke sini, benar-benar suami siaga dan bisa diandalkan. Tidak heran jika Dave tertidur pulas saat ini karena ia tidak bisa tidur dengan tenang di pesawat.


Vania bangkit dari ranjangnya dan masuk ke dalam toilet. Membasuh wajahnya dan menyikat giginya.


Setelah selesai, dia ke luar dari kamarnya dan menyusuri fasilitas hotel Presidential Suite yang sudah dibooking oleh Dave.


Vania cukup takjub dengan fasilitas mewahnya. Begitulah Dave, harus mewah dan indah, mencerminkan dirinya sendiri.


Vania menemukan dapur dengan senyum bahagia karena dia memang berniat untuk memasak sarapan. Dia tidak bisa tenang memasak di Mansion karena banyaknya pelayan yang Dave miliki.


Sekarang, di hotel ini hanya ada dia dan suaminya. Maka dia bisa memasak dengan bebas dan melakukan pekerjaan seorang istri seperti orang kebanyakan.


Setelah melihat bahan-bahan yang tersedia di kulkas, Vania menyibukkan diri dengan memasak nasi goreng yang sudah diajarkan oleh Chef asal Indonesia saat di Mansionnya waktu itu.


Vania juga membuat telur dadar yang di ajarkan Chef tersebut dengan senyum mengembang. Akhirnya jadilah nasi goreng telur dadar buatannya. Aromanya wangi dan menggugah Vania untuk segera menyantapnya.


"Dave, ayo sarapan!" Vania berteriak sambil melepas celemeknya.


Vania melangkah menuju kamarnya, dibukanya pintu tersebut dan mendapati Dave yang masih terbaring dengan selimutnya. Dia imut. Kalian bisa bayangkan pria datar, dingin dan kejam seperti Dave tidur seperti bayi tak berdosa di bawah selimut terlihat begitu menggemaskan.


Vania duduk di ranjang dan mengusap rambut Dave naik turun.


"Ayo sarapan Dave!" ucapku lembut.


Dave tampak menggeliat tak nyaman dan perlahan membuka mata sayunya. Matanya mencoba menyesuaikan dan mendapati istrinya yang juga menatapnya dengan senyum lembut.


"Selamat pagi Daddy." Ucap Vania, lalu mengecup bibir Dave kilat.


Dave tersenyum senang. "Selamat pagi." balasnya.


"Ayo bangun, aku sudah buatkan sarapan ala Indonesia." ucap Vania sambil bangkit dari atas ranjang.


"Cuci muka dulu sana! Gosok gigi! Kamu mau makan di sini atau di ruang makan?" tanya Vania.


"Aku mau makan di sini!" Vania mengangguk paham dan melangkah ke luar untuk membawa sarapan mereka ke dalam kamar.


"Cepat bergerak Dave!" ucap Vania sebelum pergi.


Vania menyiapkan sarapan mereka, secangkir susu bumil, secangkir jus orange dan secangkir air putih.


Dave keluar dari toilet dengan wajah segarnya. Dave naik ke atas ranjang dan menatap sarapan yang dibuat oleh istrinya.


"Pagi hari memakan nasi sayang?" tanya Dave bingung.


"Iya, sarapan ala Indonesia." jawab Vania senang. Dave terkejut dengan perbedaan culture di setiap Negara. Biasanya ia akan sarapan dengan sepotong roti, waffle, atau pancake di pagi hari. Paling berat sarapannya adalah telur dan bacon.


"Sudah, ayo makan Dave, aku sudah tidak sabar." ucap Vania tak sabar dan segera memakan makanannya.


Vania tersenyum senang setelah memakan sesuap nasi tersebut.


"Hummm.." Vania tersenyum bahagia merasakan makanan lezat tersebut. Dave ikut memakan sarapannya dengan senang hati.


"Ini susu ibu hamil?" tanya Dave menatap secangkir susu di atas meja.


Vania mengangguk sambil mengunyah makanannya. "Makan yang pelan!" ucap Dave. Vania tersenyum geli dan memelankan makannya.


"Kita harus mencari kuliner lainnya di sini Dave." ucap Vania.


"Iya." jawab Dave singkat.


"Oh iya, sudah berapa minggu kandunganmu?" tanya Dave.


"Ehmm.. Sudah 14 minggu." jawab Vania dengan wajah berpikir keras.


"Sudah lama kita tidak memeriksanya. Aku akan menjadwalkan pemeriksaan untukmu dan babies." ucap Dave. Vania tersenyum setuju dan melanjutkan sarapan mereka dengan damai.


***


Vania siap dengan dress longgar khusus bumil dan sepatu flatshoesnya. Hari ini honeymoon mereka akan diawali dengan jalan-jalan sore. Vania dan Dave sudah menghabiskan waktu di hotel sampai siang.


Vania yang menggandeng tangan Dave sibuk memancarkan matanya melewati tenda-tenda penjual makanan. Vania menatap dengan wajah tertarik, tetapi Dave selalu memastikan jika tempat tersebut bersih dan higienis.


Hingga malam hari menjelang dan kota kecil itu semakin cantik dengan lampu penerang jalan dan tumbler yang menggantung di beberapa tempat.


Di pertengahan jalan yang sedikiti ramai, seseorang tiba-tiba menyenggol bahu Vania dengan kepala menunduk.


"Maaf." Ucap orang tersebut dengan bahasa Indonesia.


Vania mengangguk tak jelas karena tak mengerti, namun ia yakin kalau orang itu meminta maaf padanya. Sedangkan Dave menatap lekat punggung orang tersebut dengan pandangan tajam.


"Kau tak apa sayang?" tanya Dave sambil mengecek tubuh istrinya dengan teliti. Dia hanya memastikan jika tidak ada alat perekam atau pelacak yang tertempel di tubuh istrinya.


"I'm okay Dave." jawab Vania dengan senyum baik-baik saja.


"Kita pulang saja." ucap Dave sambil merangkul pinggang istrinya possesive.


"Baiklah." jawab Vania pasrah.


Bersambung....


**Vote cerita ini kalau kalian suka


Like dan komen


Follow ig @violet_slavny**