
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Dave menggendong istrinya yang tertidur ke dalam kamar hotel mereka. Setelah seharian menghabiskan waktu berjalan-jalan ke manapun yang istrinya inginkan, akhirnya wanita itu terkapar di mobil karena kelelahan.
Dibaringkan tubuh Vania perlahan ke atas ranjang dan menyelimuti tubuh istrinya. Dielus rambut halus Vania perlahan, lalu meninggalkan kecupan hangat di kening istrinya.
Dia tak ingin membangunkan istrinya itu. Setelah ini, dia masih harus mengurus beberapa hal penting bersama Kenzo.
Dia melangkah ke luar dari kamar dengan minim suara. Meraih kunci mobil pribadinya dan meninggalkan hotel dengan tenang.
Dave mengendarai mobilnya, hingga akhirnya sampai ke sebuah tempat yang sudah ia jadikan markas sementara selama ia berada di Indonesia.
Sebuah rumah yang cukup mewah di kawasan elit. Dave menempatkan beberapa orang bawahannya untuk berada di rumah ini. Beberapa orang adalah orang-orang yang mengurus informasi lanjutan mengenai pergerakan musuh mereka.
Selain itu, Dave menempatkan beberapa orang lagi di hotel tempat dia dan istrinya tinggal, terutama Kenzo untuk penjagaan. Dave tidak ingin Vania mengetahui hal ini, makanya Dave meletakkan mereka di rumah ini.
Dave memasuki rumah tersebut dengan santai setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Dave masuk dan langsung bertemu oleh Kenzo dan beberapa bawahan lainnya.
"Ada apa?" tanya Dave frontal sambil duduk di sofa.
"Orang yang semalam kita tangkap ternyata sudah menipu kita." jawab Kenzo.
"Bagaimana bisa?" tanya Dave kesal.
"Dia ditemukan tewas di sungai yeh panahan dengan luka gorok di lehernya dan sayatan berbentuk simbol di lengannya." jawab Kenzo.
"Simbol?" tanya Dave lagi.
"Ya. Terdapat simbol busur dan panah yang tersayat di sana. Aku yakin ini salah satu petunjuknya." jawab Kenzo.
"Jadi maksudmu dia salah satu utusan mereka?" tanya Dave.
"Iya."
"Dia menyenggol istriku. Kupikir dia meletakkan penyadap di tubuh Vania, namun aku sudah mengeceknya dan tak menemukan apapun. Jadi, untuk apa dia melakukan itu?" tanya Dave lagi. Dia benar-benar penasaran dengan jalan pemikiran musuhnya kali ini.
"Dia melakukannya secara terang-terangan. Dia ingin menunjukkan pada kita jika 'dia', selalu mengawasi kita dimanapun kita berada." jelas Kenzo.
"Cukup berani untuk 'dia' yang selalu bersembunyi." lanjut Dave dengan alis mata yang terangkat.
"Menarik." batin Dave. Permainan musuhnya kali ini cukup menarik perhatiannya. Menarik untuk segera dia habisi dan hancurkan hingga rata dengan tanah.
"Aku tak sabar untuk bermain dengannya." ucap Dave lagi. Kenzo menatap sarat membunuh di mata bosnya itu.
"Berapa lama lagi kita akan berada di Indonesia?" tanya Kenzo.
"Ada apa? Kenapa kau menanyakannya?" tanya Dave.
"Sepertinya kita cukup aman berada di negara ini." ucap Kenzo.
"Kurasa dia tidak berani membuat masalah di negara ini." lanjutnya lagi.
"Penjahat memang akan lebih berkuasa di wilayah miliknya." jawab Dave santai.
"Jadi berapa lama kita di negara ini?" tanya Kenzo lagi.
"Satu minggu lagi. Aku tetap tak ingin berlama-lama di negara orang. Akan lebih aman jika kita kembali ke wilayah kita sendiri." ucap Dave yang diangguki oleh Kenzo.
"Lagipula kita akan lebih bebas bergerak di sana." tambah Kenzo.
"Cari tau makna di balik simbol itu. Terus hubungi Ansell dan bawa dia secepatnya ke luar dari Korea Utara." ucap Dave sambil bangkit berdiri.
"Aku akan pulang." lanjutnya sambil melangkah pergi dari rumah tersebut menuju hotel yang ia tempati.
Bersambung.....
Hay.. Hay..
Maap lama up.
Satu kata buat Kenzo dong!
Bye.. 😘💕