
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Vania POV
Setelah ujian selesai dan sahabat-sahabatku pulang ke rumah mereka masing-masing, aku beristirahat di kamar Dave. Semenjak sahabatku menginap disini, aku menjadi lebih suka tidur di kamar Dave. Ditambah aromanya yang khas memenuhi ruangan ini.
Semenjak aku hamil, Dave yang sudah protektif menjadi sangat-sangat overprotektif. Dia pulang lebih cepat dari jam kerjanya, bahkan terkadang ia memilih tidak bekerja dan menemaniku di rumah. Memikirkannya saja membuatku membayangkan Dave disini bersamaku.
Memang benar kata Dave, setelah hamil, aku menjadi sangat agresif saat kami bercinta dan untungnya pria itu tidak keberatan dan malah kesenangan. Tanpa angin tanpa hujan aku bisa tiba-tiba bernafsu begitu saja.
Hari ini setelah Dave pulang dari kantor pukul 3 sore, kini Aku dan Dave sedang berbaring santai di atas ranjang sambil menonton film. Tangan Dave sibuk mengelus perutku dan aku bersandar di dadanya.
"Dave."
"Hmmm.."
"Seandainya sesuatu terjadi antara aku dan sweety, berjanjilah untuk menyelamatkannya!" Ucapku perlahan. Elusan tangan Dave seketika berhenti dan menatapku tajam.
"Aku tak suka kamu membicarakan ini sayang. Kamu dan sweety akan baik-baik saja." Ucapnya sambil menangkup pipiku.
Aku tersenyum tipis. "Aku tetap harus mengatakan ini, berjanjilah Dave! Utamakan sweety dari padaku." Ucapku balas menatap matanya. Dave menggeleng dengan raut sedih, lalu mencium keningku.
"Sayang, semua akan baik-baik saja, sweety lebih membutuhkanmu, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak!" Tekannya.
"Aku hanya ingin mendengar kau berjanji Dave, maka aku akan tenang. Aku juga tak ingin berpisah dengan sweety tapi, apapun bisa terjadi suatu saat nanti. Berjanjilah padaku!" Ucapku menggenggam tangannya yang berada di pipiku. Kulihat wajahnya tampak berfikir, lalu menatapku lekat.
"Aku berjanji." Ucapnya. Aku tersenyum dan memeluknya erat.
"Terimakasih sayang." Ucapku sambil mengecup pelipisnya dan Dave tak bereaksi sama sekali, namun tangannya memeluk pinggangku erat seakan takut kehilangan.
"Lima hari lagi kita menikah." Aku terkejut mendengar ucapannya dan sontak melepas pelukannya, lalu menatapnya kaget.
"Serius?" Tanyaku tak yakin.
"Sejak kapan aku tidak serius sayang?" Tanyanya lagi. Aku terkekeh kecil, namun langsung cemberut menekuk bibir.
"Ada apa? Kenapa cemberut hum?" Tanyanya sambil mencolek pipiku.
"Kau belum melamarku, belum tentu aku mau menikah denganmu." Ucapku cemberut.
Dave tersenyum, lalu menarikku ke pelukannya. "Jika tidak bersamaku, kau akan menikah dengan siapa hum?" Tanyanya dengan nada mengejek.
Kupukul bahunya kesal. "Kamu pikir tidak ada yang ingin menikah denganku hah?" Tanyaku kesal.
"Siapa pria itu? Ini anakku dan aku daddynya. Siapa yang berani menikahimu hum, beritahu aku!" Aku tertawa dan memeluknya erat.
"Tidak ada yang berani kurasa, mereka tidak sepemberani dan segagah suamiku ini." Ucapku yang membuat Dave terkekeh.
"Istriku." Ucapnya lembut sambil mengelus rambutku.
Namun disela kesenanganku, aku langsung teringat dengan keluargaku. "Bagaimana dengan papa?" Tanyaku perlahan dengan wajah menunduk.
Dave menatapku lekat dan mengelus pipiku lembut. "Semua tergantung padamu sayang. Kau ingin papamu datang atau tidak, aku tidak ingin memaksamu." Ucapnya lembut dan akhirnya aku tersenyum mendengarnya.
"Bagaimanapun mereka keluargaku." Ucapku padanya dan ia mengangguk pelan.
"Besok kita akan menemui keluargamu." Ucapnya dan aku mengangguk setuju.
"Lalu bagaimana dengan ibumu?" Tanyaku lagi.
"Baiklah, terserahmu." Ucapku sambil mengusap lengannya.
"Kira-kira, sweety laki-laki atau perempuan ya?" Tanyaku pada Dave dengan wajah saling menatap.
"Percaya padaku, dia seorang jagoan." Ucapnya percaya diri, namun aku juga merasa setuju entah kenapa.
"Kurasa juga begitu." Ucapku.
Dave menuntunku untuk duduk di pangkuannya dan ia meraih tubuhku untuk bersandar di tubuhnya yang kekar.
"Beristirahatlah sayang." Ucapnya sambil mengecup pelipisku berulang kali dan mengusap kepalaku agar aku tertidur. Semakin lama, kurasakan pandanganku semakin memberat merasakan setiap elusan Dave. Sampai akhirnya, aku tertidur dipelukannya.
"Sweet dream mommy and you too sweety." Itulah kalimat terakhir yang menggema ditelingaku, seakan menjadi lagu pengantar tidurku.
***
"Sudah sayang?" Tanya Dave yang sedang memperhatikanku berdandan di meja rias kamarku. Kami akan bersiap menuju Mansion keluargaku.
"Just the lipstik babe, i need more minutes." Ucapku grasak grusuk di depan cermin, sedangkan Dave yang berada di belakangku hanya bisa menggelengkan kepala.
"You always beautiful honey, we only meet your family." Ucapnya. Aku mendesis mendengar kata-kata pujiannya dengan bibir mencebik.
"I have to show them that I'm better at being with you." Ucapku sambil memoles sedikit blush di pipiku agar lebih tampak sehat.
"Okey babe, i give up and you always win." Ucapnya pasrah. Aku tersenyum senang dan menoleh ke arahnya setelah selesai memoles wajahku senatural mungkin.
"How i look?" Tanyaku padanya. Dave menatapku lekat dari bawah ke atas.
"Always same babe, beautiful everytime." Jawabnya. Aku tersenyum senang dan merangkul lengannya sambil pergi menuju tempat yang akan kami datangi.
mau ketemu mertua😂😂
bersambung.....
hay... hay... hay...
aku lanjutin lagi part ke 39 ini ditanggal 24 aku post. Dan part 38-rich, belum juga ke acc sampe sekarang dari tanggal 20 aku up.
jadi aku up part berharap, agar pihak mangatoon menjadi cepat upnya, dan sebagai permintaan maaf juga bagi kalian yang menunggu lama dan akhirnya aku up 2 chapter sekaligus.
walau aku nggak tau ini bakalan cepat diacc sama pihak mangatoonnya atau enggak.
jadi, semoga kalian enjoy sama ceritanya, jangan lupa like, share dan komen.
bye... 😘💕
24092019
oh iya jangan lupa follow ig violet_slavny agar klian dapat update terbaru tentang semua cerita aku, kapan aku post dan alasan kenapa lama up, biasanya aku share di IG.
disana juga aku dah post castnya sean loh dari lapak sebelah 😂😂
ayok mampir😊😘