When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 31 - jealous.



Vania dan dave sedang menikmati sore hari didepan televisi yang menampilkan film walking dead didalam kamar mereka. Dave bersandar dikepala ranjang sambil membaca buku ditangannya. Sedangkan vania, ia baringkan kepalanya diatas perut dave sambil menonton film yang ia sukai itu.


Satu tangan dave yang bebas, mengusap kepala vania yang berada diatas perutnya dengan gerakan lembut dan pelan. Vania melingkarkan tangannya juga diperut dave dan sesekali mengusapnya.


Entah setan apa yang memasuki dirinya, tiba-tiba saja vania perlahan demi perlahan menyingkap kaos ketat yang menyetak tubuh sempurna dave keatas. Vania melihat perut kotak-kotak dave lalu mengusapnya lembut.


Dave hanya terdiam melanjutkan bacaannya sambil menikmati usapan vania diperutnya. Dave menengang saat merasakan bibir vania mencium perutnya sesekali. Dave melihat dari bawah bukunya, menatap vania yang asik dengan kegiatannya.


"Sayang, jangan pancing aku! "Dave memperingati vania dengan lembut. Vania mengangkat kepalanya sedikit lalu melihat kearah dave sambil terkekeh.


"Aku suka perut kamu, Sama ini juga. "Kata vania sambil meraba dada bidang dave.


"Buka kaos kamu! "Ucap vania dengan nada memelas. Dave langsung semangat membuka kaosnya, menyimpan bukunya lalu ikut berbaring diranjang.


Vania tersenyum senang lalu memeluk dave dan menenggelamkan wajahnya didada bidang dave dan tangannya mengelus perut dave.


"Kamu harus meluk aku lebih erat supaya aku nggak kedinginan. "Ucap dave sambil mengusap punggung vania naik turun. Vania mengangguk lalu menarik selimut menutupi tubuh mereka ditambah vania langsung memeluk kekasihnya dari dalam selimut.


Dave tersenyum senang merasakan kelembutan vania padanya. Vania menutup matanya menikmati setiap waktu yang mereka lewati.


"Dave. "Panggil vania.


"Hmmm.. "


"Apa yang bakalan kamu lakuin kalau kita nggak bisa bersama? "Tanya vania masih dengan mata terpejam.


"Aku akan lakukan apapun agar dapat bersamamu. "Jawab dave singkat.


"Dave kalau seandainya aku pergi jauh dan kamu nggak akan bisa jangkau tempat itu? "Tanya vania lagi sambil menaikkan kepalanya dan menatap dave yang juga menatapnya.


"Dimana tempat didunia ini yang nggak bisa aku jangkau sayang? Dimanapun kamu aku pasti akan tetap menemukanmu. "Ucap dave dengan pandangan mata yakin dan tak gentar.


"Ada sayang, tempat yang nggak akan bisa kamu jangkau. "


"Surga. "Tambah vania lagi sambil tersenyum manis lembut pada dave. Dave yang mendengar ucapan vania, langsung terdiam mendengar perkataan kekasihnya. Dave hanya balas menatap mata vania dalam mengantarkan perasaan mereka melewati tatapan.


"Aku juga akan terus berusaha walaupun kamu disurga, aku akan bersama kamu disurga. "Jawab dave.


"Yakin kamu bisa kesurga? Iblis emang ada disurga? "Ledek vania sambil tersenyum jahil, mencoba mengalihkan pembicaraan mereka yang mulai serius.


Dave mencubit pipi vania kesal, karena perkataan kekasihnya.


Vania mengangkat tubuhnya dan mendekatkan wajahnya kewajah dave. Perlahan vania mengecup bibir dave sambil tersenyum senang. Bibir mereka tertaut bergerak perlahan merasakan kemanisan masing-masing.


Tangan dave mengelus pinggul dan pinggang vania yang melengkung merasakan gairah didalam tubuhnya. Tangan vania mengelus rahang dave lembut dan tangan yang lain menahan tubuhnya agar tak menimpa tubuh dave. Vania merasakan tangan dave merambat memasuki baju yang ia pakai dan mengelus punggung telanjangnya


Vania Pov


Elusan tangan dave ditubuhku membuat gairah perlahan memenuhi akalku. Kepalaku menunduk menuju leher dave, lalu menciumnya dengan rakus, meninggalkan tanda-tanda kissmark dimanapun aku beraksi.


Dave terengah menikmati kenikmatan yang kuberikan. Kurasakan tangan dave membuka kancing kemejanya yang kupakai hingga menyisakan pakaian dalam senada yang kupakai.


Kulepas tautan bibir kami, lalu aku menduduki tubuh liat dave. Dave menatapku lekat dan tangannya mengelus pinggulku naik turun. Mata dave menyusuri tubuhku dan berhenti tepat didadaku.


******* berhasil keluar dari mulutku, merasakan kenikmatan yang menjalar ditubuhku. Kuturunkan badanku dan mencium bibirnya.


Dave memutar tubuhku sehingga kini tubuh dave yang menimpa tubuhku.


******* dave lepas dan turun menyusuri leher serta pundakku, memberikan tanda disana. Dave melepas tubuhku sebentar menatap wajahku yang kuyakini pasti memerah menahan gairah.


"Dave. "Lirihku seakan mengisyaratkan dave melanjutkan kegiatannya tadi.


"Katakan apa yang kau inginkan sayang? "Tanya dave lembut.


"Kamu. All of you. "Jawabku langsung dengan nafas terengah. Dave dengan wajah tersenyum menggodanya perlahan menurunkan wajahnya kembali. Namun....


Tok.. Tok.. Tok


Aku menggumam kenikmatan, sampai tak sadar seseorang mengetok pintu.


Tok.. Tok.. Tok


"Permisi tuan-nona. Teman-teman nona sudah menunggu dibawah. "Ucap pelayan dari luar sana yang langsung membuat kesadaranku bangkit.


"****. Kenapa harus disaat begini? "Gerutu dave dengan wajah kesal. Aku menatap dave yang masih diatasku sambil menatapku dengan pandangan tak ikhlas.


"Sebentar saja. "Bujuk dave dengan wajah memelas. Aku terkekeh geli melihat sisi dave yang manja seperti ini. Namun tetap saja aku tak bisa membiarkan sahabatku menunggu begitu lama, mereka akan memikirkan yang tidak-tidak.


"Sepertinya lain kali dave, mereka sudah menunggu. "Ucapku selembut mungkin agar ia mengerti.


"Mereka akan menunggu lama sayang. "Ucapku kembali lembut dan sekalian mengusap kepalanya. "Sudah dulu okey. "Namun dave tetap tak iklas dengan wajah kesalnya.


"Kamu tega biarin aku berjuang sendiri? "Tanya dave semakin memelaskan wajahnya.


"Hari ini berjuang sendiri dulu ya sayang. Biasanya juga kamu nahan gairahkan? "Ucapku dengan nada geli seakan menertawakannya.


"Ah.. Dia sedang dikamar mandi. "Batinku saat mendengar *******-******* yang keluar dari arah kamar mandiku. Aku melangkah keluar dari kamar dan berlari menuju lantai bawah dimana sahabatku menunggu.


Kulihat sammy yang pertama kali menyadari kedatanganku dan menatapku lekat dari atas tangga sampai kedepan mereka.


"Ah... Aku merindukan kalian. "Ucapku kencang lalu memeluk abel yang ikutan histeris dengan teriakan cemprengnya.


Aku lanjut memeluk Ilham, viko, dan terakhir sammy dengan begitu erat.


"Aku merindukanmu sammy. "Ucapku lembut sambil menggesek wajahku didada bidangnya. Dada yang selalu menopangku disaat aku terjatuh.


Sammy membalas pelukanku dan tangannya ikut mengelus rambutku dengan lembut. Aku merasakan bagaimana kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya didalam pelukan sammy. Walau aku tau perasaan sammy yang sesungguhnya.


"Lepaskan kekasihku! "Aku mendesah mendengar suara berat dave yang sedang berjalan mendekati kami. Aku melepas pelukanku dan menatap kearah dave dengan sengit.


"Aku merindukan mereka jadi memeluk mereka dengan begitu erat. "Ucapku kesal.


"Kamu baru saja bertemu mereka 2 hari yang lalu, saat mengantar kamu pulang dari rumah sakit, baby. "Jawab dave sambil mengusap pipiku lembut.


"Dave, sudah kubilang jangan memanggilku begitu. "Ucapku dengan pipi memanas sambil menatap kearah abel yang tersenyum mengejek.


"Kamu menyukainya saat kita sedang berdua. "Tambah dave lagi dengan senyum lebarnya, dan berhasil membuat aku semakin malu didepan sahabatku.


Aku menunduk malu, lalu berbalik memeluk sammy dan menyembunyikan wajahku didadanya.


"Sayang, apa yang... "


"Diam! Ini semua karna kamu. "Bantahku cepat tanpa melihat kearahnya dan kearah sahabtku yang lain.


"Jangan menyentuhnya! "Kudengar dave menggeram dan pastinya dia sedang menatap sammy tajam. Kurasakan tangan dave menarik tubuhku, dan menyembunyikanku dipelukannya.


"Kalau mau bersembunyi ada aku disini. "Ucap dave sambil mengelus kepalaku naik turun dan mencium Puncak kepalaku sebentar.


Bukannya mendingan, aku semakin dibuat malu dengan tingkah dave yang seperti ini.


"Bodoh. "Ucapku kesal, lalu menonjok perut dave kuat. Dan berhasil membuat dave meringis kesakitan.


"Owhh... "Ucap Ilham dan viko seakan merasakan kesakitan yang sama.


"Ayo ikut aku! "Ucapku menatap keempat sahabatku, lalu pergi meninggalkan dave yang masih meringis.


"Sayang.. Owh.. "Kudengar dave yang memanggilku sambil merintih namun aku masih melanjutkan langkahku.


***


"Disini banyak tersedia kamar tamu. Jadi kalian bisa menempati satu kamar perorang. "Ucapku senang.


"Woah... Mansion kekasihmu benar-benar besar. "Ucao abel dengan pandangan takjub.


"Aku bahkan belum pernah selesai memutari mansion ini dari sejak aku tinggal disini. "Ucapku dengan pandangan sedih.


"Aku kesepian dirumah sebesar ini. Pulang sekolah, tidak ada siapapun dirumah ini yang bisa kuajak curhat seperti dengan kalian. Sedangkan dave masih bekerja dikantornya. "Ucapku sedih. Namun jika dibandingkan dengan tinggal dimansion keluarga Addison, ini sudah jauh lebih baik.


"Seharusnya kamu tinggal dimansionku zee. Tidak baik tinggal berdua dengan laki-laki saja. "Ucap sammy sambil mengacak rambutku.


"Apa bedanya? Kau juga laki-laki. "Ucap Ilham. Kami tertawa geli, sedangkan sammy memberenggut kesal.


"Disana masih ada mommy yang menemaninya. "Tambah sammy lagi.


"Aku merindukan mommy. "Ucapku sambil mengingat betapa dekatnya aku dengan mommy sammy yang seakan menggantikan peran mommyku yang sudah tiada.


"Mommy juga. Mainlah jika kamu senggang. "Ucap sammy yang kubalas dengan anggukan.


"Sebentar lagi waktunya makan malam. Kalian berberaslah dulu. Aku juga ingin mandi. "Ucapku.


"Vania aku ingin tidur denganmu. Aku tidak suka tidur sendirian dikamar yang masih asing. "Ucap abel dengan wajah memelas. Aku menimbang sebentar, mengingat dave yang selalu tidur bersamaku dikamarku.


"Oke deh, yuk. "Ucapku sambil tersenyum senang. Aku akan memikirkan cara untuk membujuk dave nantinya.


"Yes. "Adel bersorak kegirangan lalu mengikutiku.


bersambung.....


hay.. hay.. hay..


kangen nggak sama dave dan vania? sekarang konfliknya belum ada kok masih ringan2 aja nih cerita. karna banyak yang minta adegan romantis gitu antara dave dan vania jadi aku ngebuat ini ringan dulu.


jangan lupa like, share dan komen.


bye


24082019