
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Setelah Vania tertidur pulas di sebelahnya, Dave beranjak dengan begitu perlahan dari atas ranjang. Dia sengaja menunggu sampai istrinya tertidur, lalu ia dapat pergi ke markas dengan tenang.
Dave bersiap-siap dengan cepat, lalu ke luar dari kamar dan pergi menuju markasnya.
Tak butuh waktu lama untuk Dave sampai di sana. Dave masuk ke dalam markas dan tampak beberapa anak buahnya berpesta dengan begitu gembira. Mereka menyapa Dave dengan hormat saat Dave melangkah masuk ke dalam.
"Akhirnya bos kita datang juga." ujar Ansell menghampiri Dave dengan gelas di tangannya. Ansell menyerahkan minuman tersebut pada Dave.
"Aku tidak minum." ujar Dave dingin.
"Sejak kapan Dave kita sudah menjadi seorang pria baik-baik?" tanya Ansell dengan senyum getir.
"Istriku akan tau jika aku minum." ujar Dave lagi. Dave berjalan melalui Ansell dan duduk di sofa di mana Kenzo duduk dengan tenang.
"Bagaimana dengan kasus Addison?" tanya Dave pada Kenzo.
"Semua bukti penggelapan dana dan data sudah terkumpul. Kita hanya tinggal menyerahkannya ke pengadilan." ujar Kenzo. Dave tersenyum mendengarnya.
"Serahkan semua bukti itu besok!" Kenzo mengangguk paham.
"Lalu, apa langkah selanjutnya?" tanya Kenzo lagi.
"Posisi Presiden Direktur akan kosong, para pemegang saham akan mengadakan rapat untuk menentukan Presdir berikutnya. Maka, istriku yang berhak untuk posisi itu." ujar Dave.
Ansell ikut duduk menghadap Dave dan Kenzo. Ansell tampak mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya ke arah Dave.
Dave mengernyit bingung dengan tingkah Ansell. Hingga akhirnya, Ansell tersenyum dan memperlihatkan hasil fotonya pada Dave. Terlihat Dave dan Kenzo yang duduk di sofa, tidak ada yang aneh dengan gaya mereka, hanya saja terlihat beberapa pajangan senjata api di belakang kedua pria itu, dan terdapat botol minuman keras dan gelas di depan meja mereka.
"Bagaimana jika aku mengirimkan foto ini pada istrimu? Aku berhasil menemukan nomor ponsel istrimu dalam lima detik." ujar Ansell. Rahang Dave mengeras marah.
"Hapus foto sialan itu!" ujar Dave lamat-lamat. Ansell menggidikkan bahu tak peduli.
"Jika foto itu terkirim, aku akan membunuhmu sekarang juga." ancam Dave.
"Berdoalah semoga istriku tidak bangun dan melihatnya!" ucap Dave marah. Ansell tau Dave tidak akan melancarkan ancamannya itu.
"Minumlah bersama kami!" ajak Ansell lagi.
"Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan membuka identitasmu yang sebenarnya pada media." Ansell bergidik ngeri. Sialan! Dave memojokkannya.
"Kau menang Dave." ujar Ansell pasrah sambil meletak gelas tersebut ke atas meja.
"Lagipula aku tidak mengirim foto itu pada istrimu." ujar Ansell kesal.
"Bagus, setelah pesta ini selesai, cepatlah bergerak dan kerjakan tugasmu! Kau harus lebih berguna setelah bekerja dengan Korea Utara." ujar Dave sadis.
Ansell akhirnya menggerutu mengutuki bosnya itu. Dave bangkit berdiri dengan santai.
"Aku pulang. Bersihkan markas seperti semula!" titah Dave sambil beranjak meninggalkan Ansell Dan Kenzo.
"Kenzo, ingat berkas itu besok!" peringat Dave.
"Dave datanglah ke markas lebih sering! Kami tidak ingin datang ke rumahmu untuk membahas mengenai 'itu'." ujar Ansell setengah teriak karena Dave yang lumayan jauh.
"Baiklah, aku akan mencari waktu untuk datang." ujar Dave lagi.
"Waktu berjalan dengan cepat Ansell, bergeraklah lebih cepat! Hanya tersisa beberapa Minggu hingga istriku melahirkan." Ucap Dave sambil menatap Ansell.
"Percayakan itu padaku." ujar Ansell percaya diri.
Dave kembali melangkah menjauh, masuk ke dalam mobilnya dan melaju kembali ke mansionnya.
Bersambung....
Ayo gabung di grup chat Violet Slavny
Note : next Chapter tiga hari kemudian. (8/5).