When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 11 - Insane



Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏


Seluruh karyawan Kantor pagi ini dibuat geger dengan sikap atasan mereka yang tidak biasa. Bagaimana tidak, Davin Anthonic Raveno, sang CEO sekaligus pemilik perusahaan Raveno Internasional tersenyum dengan begitu ramah ke seluruh bawahannya. Jika dulu, siapapun yang menyapa sambil membungkuk ke arahnya, Davin tak akan begitu peduli dan akan melewatinya begitu saja. Namun sekarang, Davin membalas sapaan mereka dengan menebar senyum ramahnya.


"Ada apa dengan atasan kita?"


"Wah... Tidak biasa sekali Mr. Raveno seperti ini."


"Lihat, Mr. Raveno tersenyum!"


"Aaa... Mr. Raveno baru saja tersenyum padaku."


"Suasana hati Mr. Raveno begitu cerah hari ini."


"Aaa... Mr. Raveno semakin tampan dengan senyum begitu."


"Lihat tanda-tanda di lehernya!"


"Wah, kurasa dia melewati malam yang liar semalam."


Bisikan-bisikan tersebut bahkan terdengar jelas ditelinga Davin, namun ia tetap melangkah tanpa mengurangi senyumnya. Kenzo yang sejak tadi berjalan di belakangnya, hanya dapat menggeleng bingung melihat Tuannya yang sedang di mabuk cinta.


"Sepertinya hari ini anda benar-benar bahagia." Ujar Kenzo saat ia dan Davin sudah memasuki lift khusus petinggi.


"Kenzo, menurutmu hadiah apa yang akan disukai wanita?" Tanya Dave yang sama sekali tak berhubungan dengan pertanyaan yang Kenzo berikan.


"Saya tidak terlalu berpengamalan tentang Perempuan." jawab Kenzo sambil menunduk sopan.


"Ah iya aku lupa, kau adalah pria tersuram di dunia ini. Ck, Aku salah bertanya padamu." Ujar Dave sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku tau kau sudah mengutukku dalam hatimu. Kita sudah berteman sejak lama, jika kita sedang berdua kau bisa bersikap informal padaku." Ucap Dave sambil menepuk bahu kekar Kenzo.


"Baiklah, aku tidak akan sungkan." Jawab Kenzo dengan begitu santai.


Lift terbuka pada lantai 77. Dave melangkah dengan gagah bersama Kenzo di sampingnya. Dave duduk di kursi kebesarannya, lalu menyadarkan tubuhnya dengan nyaman.


"Bagaimana dengan air yang di minum oleh Vania?" Tanya Dave.


"Aku sudah menyelidikinya dan benar ada obat perangsang di dalamnya." jawab Kenzo.


"Siapa yang melakukannya?" Tanya Dave.


"Pelayanmu berkhianat Vin." Jawab Kenzo sambil mengeluarkan beberapa lembar foto. Di dalamnya terlihat seorang pelayan yang tidak terlalu Dave kenal sedang melakukan aksinya.


"Siapa dia?" Tanya Dave.


"Alia Foska. Dia adalah utusan klan Beagle yang menjadi pelayan di Mansionmu. Sekarang kami sudah menyanderanya di markas." ujar Kenzo sambil duduk santai di sofa ruangan tersebut.


"Klan itu berani bermain-main denganku. Kenzo, siapkan seratus orang dari pasukan khusus! Besok kita akan menyerang sarang mereka dan membasminya sampai habis." Dave menyeringai tajam dengan sarat membunuh.


"Tapi seratus bukankah terlalu sedikit untuk menyerang sarang mereka?" Tanya Kenzo.


"Jangan remehkan pasukan yang telah kubentuk Kenzo, hanya orang tertentu dan terpilih yang masuk dalam pasukan khususku. Seratus orang bahkan lebih dari cukup." Jawab Dave sambil terkekeh sinis pada Kenzo. Kenzo salah sudah meremehkan seorang Davin.


"Hhhh... Padahal mereka hanya memberikan wanita itu obat perangsang tanpa membuat korban jiwa, namun dia membalasnya dengan seluruh nyawa klan tersebut. Dasar Iblis budak cinta." Desis Ken sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku dengar itu Ken."


"Lagipula kau yang menang banyak dalam kejadian ini." Ujar Kenzo.


"Memang, namun tetap saja karna hal ini Vania hampir membenciku." jawab Dave.


"Terserah mu."


"Anak dari Alberto mulai melakukan gerakan saat tau bahwa ayahnya mati ditanganmu." Tambah Kenzo lagi.


"Tetap awasi dia, jangan sampai ia mendapatkan celah untuk menyakitiku lewat Vania." ujar Dave dingin.


"Sebelum aku lupa, aku juga ingin mengingatkan perjanjianmu dengan Addison akan di mulai besok. Sebaiknya kau katakan pada wanitamu sebelum dia mengetahuinya dari orang lain." Kenzo mengeluarkan sebuah berkas dari belakang badannya, lalu meletakkannya di atas meja depan sofa.


"Dia tak perlu tau hal ini, ini hanya akan membuatnya sedih." Ujar Dave.


"Namun ini juga dapat membuatnya meninggalkanmu." Tambah Kenzo. Kenzo benar-benar tak ingin melihat sahabatnya terpuruk kembali karena orang yang ia sayangi. 


"Aku lebih baik menyimpannya dengan rapat daripada melihatnya sedih." Lirih Davin.


"Jika aku memberitahunya sekarang, mungkin dia akan meninggalkanku. Aku akan memberitahukannya saat waktu sudah tepat." Dave berdiri untuk mengambil berkas berwarna coklat tersebut yang berada di atas meja sofanya.


"Panggilkan Steve, aku ingin bertanya sesuatu!" Titah Dave yang hanya dibalas anggukan oleh Kenzo. Kenzo bangkit berdiri, lalu melangkah keluar ruangan untuk memanggil sekretaris Dave, namun gerakannya berhenti tepat saat tangannya terulur untuk membuka pintu.


"BEDEBAH. Kau memiliki telepon di atas mejamu, kenapa menyuruhku memanggilnya?" Kenzo berbalik sambil membentak ke arah Dave yang kini tertawa keras.


"Hahaha.. Kenzo, kenapa kau sekarang begitu bodoh?" Tanya Dave sambil mengusap ujung matanya yang sedikit berair karena terlalu bersemangat untuk tertawa.


Beberapa detik kemudian pintunya kembali terbuka, menampilkan sosok Sekretarisnya yang masuk kedalam ruangannya.


"Ada apa Sir memanggil saya?" Tanya Steve.


"Menurutmu apa hadiah yang akan disukai oleh wanita?" Tanya Dave yang berhasil membuat Steve terdiam terkikuk.


"Kenapa diam, kau sudah memiliki istri bukan? pastinya kau sering memberikan hadiah pada istrimu. Hadiah apa yang akan disukai wanita?" Tanya Dave lagi dengan tidak sabar.


"Ehm... perhiasan, bunga dan coklat, atau salah satu dari magic cardmu mungkin bisa membuatnya senang Sir." Jawab Steve karna ia selalu melihat wanita manapun selalu senang mendapat magic card dari kekasihnya.


"Ahh, sayangnya wanitaku bukan seseorang yang suka menghamburkan uang dan dia bukanlah wanita yang menyukai barang mewah dan perhiasan mahal seperti wanita lainnya. Dia juga tidak suka bunga, namun dia menyukai makanan yang manis. Apa aku harus membelikan dia pabrik es krim atau pabrik coklat?" Tanya Dave dengan wajah bodohnya. Sedangkan Steven terdiam dengan mulut menganga. Bosnya ini bertanya hadiah, namun hadiah yang keluar dari kepala bosnya begitu besar sampai berfikir untuk membeli sepabrik-pabriknya.


"Kurasa kekasih anda tak akan menyukainya Sir." Ucap Steve.


"Ahh.. Sepertinya dia memang tak akan menyukainya. Jadi, apa yang harus kuberikan?" Tanya Dave gusar.


"Berikan hadiah yang melambangkan cintamu padanya Sir." Jawab Steve yang berhasil membuat Dave tersenyum senang.


"Baiklah. Apa saja jadwalku hari ini?" Tanya Dave lagi.


"Jadwal anda cukup menumpuk hari ini dikarenakan semalam anda membatalkan seluruh jadwal. Siang nanti ada makan siang dengan Ms. Katherine yang semalam tertunda Sir." Jelas Steve.


"Setelah itu?"


"Berkas anda menumpuk di atas meja Sir. Lalu anda memiliki meeting dengan Aliano Group pukul tiga sore, dilanjutkan meeting direksi pukul 5, dan meeting dengan ambergris Inc pukul 8 malam." Jelas Steve.


"Sial, aku akan lembur hari ini. Batalkan makan siangku dengan Katherine. Aku akan pergi sebentar untuk membeli hadiah." Dave bangkit berdiri sambil merapikan sedikit jasnya yang kusut.


"Baik sir." Steve menunduk saat Dave berjalan melewatinya.


***


Setelah menghabiskan waktu dua jam hanya untuk membeli hadiah untuk kekasihnya, Dave menghempaskan tubuhnya ke atas tempat duduknya dengan wajah lelah.


Dave melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 12.15, lalu membuang nafasnya lelah. Tangannya bergerak melonggarkan dasinya, lalu menyugar rambut legamnya.


Tok.. Tok.. Tok.


"Masuk!"


"Dave."


Bibir Dave tertarik ke atas menerbitkan senyum manisnya. Dave begitu hafal dengan suara ini, suara wanita yang begitu ia rindukan.


Dave menatap Vania yang masuk ke dalam ruangannya dengan sebuah tas di tangan kanannya.


"Aku bawakan kamu makan siang." Vania tersenyum begitu lebar sambil melangkah mendekati meja kerja kekasihnya.


"Huhh.. Kemari!" Dave menepuk pahanya, memberikan intruksi agar Vania duduk di atas pangkuannya. Tanpa berfikir lama Vania mendekati Dave dan duduk di pangkuan kekasihnya.


"Berantakan sekali." Vania menyentuh dasi Dave yang kusut serta rambutnya yang sedikit berantakan.


"Tidak ada gunanya kamu melonggarkan dasi jika tidak membuka kancing atasmu." Vania membuka kancing kemeja pria itu yang paling atas dengan jemari lentiknya. Vania merona merah saat melihat tanda-tanda kemerahan yang ia buat di leher kekasihnya semalam. Setelah selesai, Vania menatap wajah Dave yang berada tepat didepannya.


Tangan lentik Vania bergerak mengusap titik keringat yang mengucur di pelipis Dave tanpa rasa jijik.


"Berikan aku kekuatan." Dave dengan cepat menarik pinggang serta tengkuk Vania dan mendaratkan bibirnya diatas bibir ranum wanita itu. Mengecupnya dengan begitu intens, menyesapnya seakan mendapatkan tenaga tambahan darinya.


"Makan dulu!" Setelah pangutan mereka terlepas, Vania bangkit berdiri dan duduk di atas sofa dengan bekal di tangannya. Sedangkan Dave ikut berdiri dan duduk di samping kekasihnya.


Dave dengan begitu bersemangat memakan makanan buatan Vania yang begitu pas di mulutnya.


"Ahh.. Istri idamanku." Dave tersenyum sambil mengunyah makanan di mulutnya, lalu mendaratkan ciuman di pipi kiri Vania.


"Aku harus segera menikahimu." Ucap Dave.


Brak.


Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar dan berhasil membut Vania tekejut sambil menatap ke arah pintu. Vania menatap seorang wanita cantik masuk dengan wajah memerah padam.


"Kenapa kau membatalkan janji lagi Davin?" Tanya wanita tersebut marah.


Bersambung.....


Kepo nggak siapa cewek yang datang itu?? 😊😊


Stay terus setiap aku up cerita ini, share, like dan comment sebanyak mungkin.


bye. 😘😘💋