
Dave menatap sebuah gedung tinggi yang terbengkalai dihadapannya dengan wajah dingin. Jantungnya berdegup kencang, tak sabat untuk menghabisi orang yabg berani menyentuh miliknya. Dave memasuki gedung tersebut diikuti oleh kenzo, sedangkan pasukannya berjaga dari jauh.
"Kurasa dia hanya penculik kelas kakap yang dibayar oleh seseorang. "Ujar kenzo dengan nada datar.
"Tidak peduli dia siapa, aku akan mengahabisinya sendiri. "Jawab dave dingin.
Setelah melewati banyak anak tangga, akhirnya dave sampai ke rooftop, tempat yang diperintahkan penculik tersebut.
"Jangan!! "
Mata dave membulat melihat gadisnya terbaring diatas lantai berdebu berusaha memberontak saat kedua pria tersebut berusaha untuk menyentuhnya lebih intens. Matanya melihat jelas sudut bibir vania mengeluarkan darah, kakinya terdapat beberapa memar yang memerah, ditambah bajunya yang koyak memperlihatkan dalamannya.
"KUBUNUH KALIAN!! "
Dave langsung berlari cepat, namun kalah cepat saat pria tersebut menyadarinya dan langsung mengeluarkan pisau dari kantongnya dan mengarahkannya keleher vania. Dave berhenti berlari saat melihat pisau tersebut menyentuh leher kekasihnya.
"Aihh, tuan davin kau datang sangat cepat, baru saja kami ingin bersenang-senang. "Ucap pria tersebut dan hanya dibalas tatapan tajam oleh Dave. Ia sadar jika posisi dave terlalu dekat.
"Jangan bergerak sedikitpun, atau kekasihmu ini mati dalam sekejab. "Ucap pria itu sambil melangkah mundur mendekati tepian dinding rooftoop yang memperlihatkan ketinggian gedung tersebut.
"Berikan ceknya! Lepaskan dia sekarang! "Ucap dave dingin, pria itu tersenyum senang melihat sebuah cek yang dikeluarkan oleh kenzo.
"Ini ceknya tuan. "Kenzo pun berjalan mendekat, tanpa terduga pria yang memegang vania langsung berlari mendorong vania kebelakang untuk mengambil cek yang dipegang oleh kenzo.
"Uangku. "Teriak pria tersebut.
"Aaaa.. "
"Vania. "
Tubuh vania terdorong kebelakang dan jatuh dari pembatas dinding tersebut, dengan begitu cepat dave langsung bergerak cepat menggapai tangan vania yang terulur.
"Ah.. Dave. "Ucap vania dengan gemetaran. Sungguh, dia benar-benar takut sekarang. Tubuhnya menggelantung dan hanya dave yang memegangnya. Ditambah tangan dan tubuhnya yang memang lemas, dikarenakan pukulan yang ia terima beberapakali dari pria itu. Ia bahkan tak berani melirik kebawah.
"Jangan lihat kebawah! Sayang lihat aku! "Ucap dave lembut. Dave menggeram merasakan tangan vania yang semakin licin dikarenakan keringat.
"Dave, seharusnya aku mendengarmu untuk tidak pergi. Aku menyusahkanmu, dan aku begitu kekanakan. tubuhku gemetar ketakutan, bahkan kakiku terasa mati rasa jantungku rasanya akan copot. "Ujar vania dengan air mata yang tak bisa ia bendung. Rasanya ia ingin mengucapkan kata terakhirnya, sebelum ia jatuh dan meninggal.
"Ah.. Aku benar-benar ketakutan. "Ucap vania gemetar saat melirik sebentar kebawah.
"Sayang dengarkan aku, semua akan baik-baik saja. "Hibur dave. Vania menatap dave lekat sedangkan dave menatapnya lembut.
"Aku sudah tidak bisa menahannya. "ucap vania menatap dave sedih. jantungnya berdegup begitu kencang, saat ia akan menjemput ajalnya. hatinya sesak melihat wajah dave yang menatapnya begitu lembut. kekasih yang sebentar lagi ia tinggalkan.
"Percaya padaku sayang, kau masih belum boleh pergi meninggalkanku. "ucap dave menatap kekasihnya lekat. tangis vania tak henti-hentinya turun. Hingga tak terduga......
Dave melepas satu tangannya lagi yang tadi ia gunakan untuk menahan tubuhnya didinding pembatas.
Mata vania membulat saat tubuh dave ikut jatuh dari dinding tersebut sehingga kini mereka terjatuh dgn cepat kebawah.
Vania menutup matanya erat saat tubuh dave melingkupi tubuhnya dan tangan dave melingkari kepalanya.
"Dave. "Lirih vania dengan mata tertutup sempurna.
Buk.
Vania merasakan tubuhnya berguncang beberapa kali diatas tubuh dave. Apa ini rasanya jatuh dari ketinggian? Kenapa tidak sakit?
"Pendaratan sempurna. "
"Tuan anda baik-baik saja? "
Mata vania perlahan terbuka saat mendengar banyak orang bersuara disekitarnya. Dengan mata yang masih berair dikarenakan air mata, vania terkejut saat melihat beberapa pria dengan baju serba hitam khusus mengerumuninya dan dave. Vania melirik dave yang berada dibawahnya masih terbaring diatas balon besar ini dengan wajah datar.
"DAVE.. "vania langsung histeris memeluk dave yang masih terbaring menatapnya dengan lekat. Ia pikir tidak akan bertemu dengan kekasihnya ini lagi. Lega, ia benar-benar lega melihat dave dihadapannya saat ini.
"Hiks.. Aku.. Aku benar-benar membencinya. Hiks.. Pria bajingan itu, dia baru saja hampir membuat hiks nyawaku menghilang. "Dave membalas memeluk tubuh vania lembut. Namun ia masih tak bisa tersenyum saat ini, karna memikirkan kedua pria itu yang belum habis ditangannya.
Vania masih menangis histeris dipelukan dave, sedangkan dave mencoba duduk dari posisinya yang terbaring. Dalam pelukannya, dave melihat bagaimana rok vania yang koyak hingga memperlihatkan paha gadisnya, begitupun bajunya. Seorang bawahannya mendekat, dan memberikan sebuah selimut kecil kepadanya.
"Sayang pakai ini! "Dave menerima selimut tersebut lalu membelitnya dipinggang vania untuk menutupi pahanya yang terekspos. Dave melepas jasnya lalu memasangnya di pundak kekasihnya. Dave menatap air mata vania yang kian turun dari pelopak matanya dengan wajah dingin.
"Shtt... Sudah okey. Kenapa kau sekarang sangat mudah menangis? "Dave memeluk vania lagi dan mengusap punggung gadisnya dengan lembut.
"Hiks.. Kau ini bodoh ha? Hiks.. Tentu saja karna aku takut tidak bisa melihatmu lagi. "Jawab vania marah dengan tangis yang tak kunjung reda.
Dave tersenyum senang mendengar jawaban vania. Lihat kan, hanya vania yang mampu meredam sisi iblis dalam diri dave. Hanya jawaban sederhana kekasihnya, membuat ia tak bisa menahan senyumnya.
Bahkan para pasukannya dibuat terperangah melihat bosnya tersenyum begitu lebar dan begitu hangat.
"Seharusnya aku yang ketakutan karna tak bisa melihatmu lagi, aku takut kehilanganmu baby. "Ujar dave dengan begitu lembut. Vania kembali menangis semakin keras mendengar perkataan manis dave.
"Sayang, aku yang akan membereskannya. "Ucap dave yang ikut bangkit berdiri. Para pasukan dave hanya berdiri mematung melihat sepasang kekasih ini yang sekarang adu mulut.
"Tidak aku yang akan membereskannya. Aku akan membuatnya menjadi makanan singa. "Teriak vania kesal. Para pria berbaju hitam tersebut bergidik ngeri melihat kekasih tuannya yang begitu mengerikan. Tak kalah dengan tuan mereka sendiri.
"Sayang, dengarkan aku, dia pas... "
"TIDAK! Dia memukulku berulang kali saat aku terikat ditiang pondasi lalu menyeretku kerooftop dan hampir memperkosaku dan memaksa... "
"APA? "Vania berjengit kaget saat mendengar teriakan dave yang begitu mengerikan. Vania menatap wajah dave yang mengeras dengan tatapan tajam. Bahkan para pasukan dave bergidik hanya karna merasakan aura membunuh disekitar mereka.
"Aku yang akan membunuhnya dengan cara paling kejam. "Geram dave. Vania berjalan mendekati dave, lalu tangan kirinya menggenggam tangan kanan dave yang terkepal, sedangkan tangan kanannya mengelus pipi dan rahang dave lembut. Vania mendekat lalu mencium bibir dave lembut, agar kekasihnya kembali tenang.
"Pergilah iblis jangan merasuki kekasihku saat aku ada didepannya, kekasihku adalah orang terlembut didunia ini, mengerti! "Vania memarahi dave seperti memarahi anak kecil didepannya. Dave yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak, tak bisa menahan gejolak diperutnya yang menggelitik.
"Kenapa kau begitu menggemaskan? "Tanya dave dengan wajah geram melihat wajah imut vania.
"Pulang yuk! "Vania membalas hanya dengan senyum manis lalu menggenggam tangan dave dan berjalan ke mobil bersama.
***
"Kau sudah membawanya kemarkas? "Tanya dave dengan suara sepelan mungkin. Kini ia berdiri didepan balkon, sambil melihat kearah vania yang tertidur pulas diatas ranjang.
"Sudah vin. Namun aku sudah menghilangkan seluruh kuku kaki mereka dan mengukir pohon dikaki mereka. Aku tak bisa menahan diri melihat mereka meraung kesakitan, rasanya sangat menyenangkan vin. "Ucap kenzo diujung sana.
"Jangan sampai mati! Aku yang akan mencabut nyawa mereka. "Ujar dave dingin, lalu mematikan sambungan telfon secara sepihak.
Dave mendekati ranjang kembali, menatap kekasihnya yang sudah berganti pakaian tidur dengan selimut yang menyelimutinya. Dave menyingkap selimut tersebut dengan pelan, lalu melihat beberapa memar ditubuh vania dengan begitu lekat. Ia menahan amarah sejak mengobati kekasihnya setelah mereka sampai. Mendengar kekasihnya mengerang kesakitan, membuatnya semakin kalut.
"Sayang, aku pastikan mereka tak akan ada lagi didunia ini. "Ucap dave sambil mengusap pipi lembut vania.
"Dave.. "Dave melihat vania yang mengigau namanya dengan begitu lembut. Matanya masih tertutup sempurna namun tubuhnya mendekat kearah dave.
"Dingin. "Ngigau vania lagi. Dave ikut berbaring lalu menyelimuti tubuh mereka dan memeluk vania dalam lingkupannya.
"I love you. "
***
Dave memasuki markasnya dengan wajah dingin dan tajam. Tercium jelas bau anyir darah dan bunyi-bunyian alat yang menandakan tempat ini adalah kesaksian beribu korban yang menyambut dewa kematiannya.
ARGHH...
Terdengar jelas teriakan-teriakan pria yang tersiksa dengan begitu sadis. Dave tersenyum miring, saat melihat dua orang pria yang tergantung membentuk X. Terlihat banyak cucuran darah mengalir dari tubuh mereka.
"Sepertinya kau menyiksa nya terlalu berlebihan Ken." ucap Dave dengan wajah tersenyum mengejek.
"Sudah kukatakan aku tak bisa menahan nya ." kata kenzo dengan wajah santai.
"Tapi ini masih kurang. "Kata dave dengan wajah dinginnya.
"Informasi apa yang kau dapat? "Tanya dave tanpa melihat kearah kenzo.
"Dia adalah peculik suruhan ibumu dan tunanganmu. Mereka menyuruh kedua orang ini untuk membunuh kekasihmu tanpa diketahui olehmu. "Jawab kenzo sambil merogoh kantung jasnya dan mengeluarkan kotak rokok serta pemantik.
"Huh.. Mereka lagi. Ternyata mereka sudah bosan hidup. "Kata dave dengan seringai tajamnya.
"Dimana wanitamu? Kau meninggalkannya? "Tanya kenzo sambil menghidupkan sebatang rokok yang bertengger dimulutnya.
"Dia dirumah tertidur. "Jawab dave singkat. Jangan heran jika kata-kata kenzo terdengar kasar saat memanggil Vania dengan 'wanitamu'. Karena sejak awal, ia tidak suka kehadiran wanita itu yang sedikit demi sedikit mengubah kepribadian dave.
"Aku tau kau tidak menyukai kekasihku, tetapi jangan sampai kau menyakitinya, atau kau tau akibatnya. "Ancam dave yang kini menatap kenzo tajam.
"Ya.. Ya.. Ya.. Aku tau. "Jawab kenzo santai.
"Aku kehilangan selera, siksa mereka sampai mati. Aku tak ingin Vania mencium bau darah ditubuhku saat aku pulang. "Kata dave, lalu melenggang pergi keluar dari ruangan tersebut. Kenzo hanya menatap kepergian dave dengan wajah datar. Tak tau apa yang sedang pria ini pikirkan.
Bersambung....
Hay... hay... hay...
setelah ini gimana ya nasibnya Stacey? terlebih lagi gimana nasib ibu dave dan tunangannya itu??
Dave udah mulai tobat nggak nyentuh korbannya langsung. sedangkan kenzo semakin menggila. 🙄🙄
Jangan lupa like, share, dan komen.
bye.... 😘💕