
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Vania tersenyum lebar di depan kaca sambil mengusap perut buncitnya. Tidak terasa kandungannya sudah menginjak usia 8 bulan. Sebentar lagi malaikat-malaikat kecilnya akan terlahir ke dunia.
Vania tersenyum mengingat betapa senang dan susah yang ia dan Dave lalui beberapa bulan ini. Vania mulai mengidam hal-hal aneh dua hari setelah kelamin putra-putranya ketahuan.
Vania membangunkan Dave pagi-pagi buta hanya karena ia ingin meminum susu Vanila dengan Oreo di dalamnya. Belum lagi Vania sering merengek tidak jelas dan ngambek tidak jelas hanya karena masalah kecil.
Vania bahkan pernah menyuruh Dave tidur di kamar lain, hanya karena ia sedang tak ingin tidur dengan suaminya. Tentu saja Dave tak bisa berbuat apa-apa dan menuruti permintaan istrinya.
Paling parahnya lagi, Vania pernah meminta Dave untuk melakukan tarian striptis di depannya.
Dave sudah mulai jarang bekerja ke kantor akhir-akhir ini hanya untuk mengawasi istrinya yang sudah hamil tua. Seperti saat ini, Dave berada di ruang kerjanya dan sibuk dengan laptopnya, karena ia bekerja melalui benda itu.
Vania juga lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar dikarenakan perutnya yang sangat besar dan ia kewalahan membawanya.
Dave juga tidak mengijinkan istrinya banyak berjalan apalagi menuruni anak tangga.
Vania ingat saat ia sudah tidak bisa memakai sepatu dan sandalnya sendiri, semua itu dikarenakan perut buncitnya. Dengan senang hati, Dave yang selalu memakaikan sepatu dan sandalnya.
"Baby." panggil Dave tiba-tiba.
"Hmm." jawab Vania.
"Aku tidak bisa menemukan Flashdiskku. Apa kamu melihatnya?" Tanya Dave.
Vania melangkah pelan menuju ruangan kerja Dave, berjalan ke arah Dave dan berdiri di depan suaminya itu.
"Tidak. Bukannya semalam masih kamu gunakan?" tanya Vania ikut bingung.
"Iya. Aku lupa meletakkannya di mana." ujar Dave sambil membongkar laci mejanya.
Vania ikut memecarkan matanya mencari benda kecil tersebut. Tiba-tiba mata Vania menangkap jelas benda tersebut dan tertawa kecil.
"Dave, flashdisknya sudah tertempel di laptopmu." ujar Vania geli.
Dave mendengus merutuki kebodohannya. "Kamu kurang minum sayang, kamu kelelahan sampai tidak fokus begitu?" ucap Vania lembut sambil mengelus lengan suaminya.
"Beristirahatlah dulu!" ujar Vania beralih mengusap pipi suaminya.
"Baiklah." jawab Vania. Vania memilih duduk di sofa yang tersedia di ruangan kerja Dave sambil menunggu suaminya selesai.
Dave tampak serius dengan laptopnya. Vania tersenyum menatap betapa seriusnya wajah Dave. Vania tidak pernah bosan hanya duduk diam untuk menatapi wajah tampan suaminya itu.
Setelah beberapa menit, akhirnya Dave selesai dengan pekerjaannya. Dave merenggangkan tubuhnya, lalu menatap istrinya dengan wajah lembut.
"Waktunya makan malam." ujar Vania.
"Benarkah?" tanya Dave tidak sadar waktu.
"Hmm." jawab Vania.
Dave beranjak dari kursinya, lalu mengecup kening Vania yang masih duduk. Dave merendahkan tubuhnya hingga wajahnya tepat berada di depan perut buncit Vania.
"How are you Boys?" tanya Dave sambil mengusap perut Vania.
"Maaf, Daddy menghabiskan banyak waktu untuk bekerja hari ini." ucap Dave lagi.
"It's okay Daddy." jawab Vania dengan nada anak kecil buatannya. Dave tersenyum mendengarnya, Dave mencium lama perut Vania, lalu membantu istirnya untuk bangkit berdiri.
Dave membawa Vania ke arah ranjang dan mendudukkan istrinya di atas ranjang mereka.
"Aku mandi dulu." ujar Dave, lalu mengecup bibir Vania dan pergi ke dalam kamar mandi.
Vania tersenyum kecil melihatnya. "Lihat betapa manisnya Daddy kalian." ujar Vania sambil mengusap perutnya naik turun.
Bersambung....
Maaf lama update. Di karenakan tugas menumpuk dan lebih sering update cerita satunya lagi. Tapi sedikit informasi, sebentar lagi Novel ini akhirnya akan tamat.
Ayo gabung di grup Chat Violet Slavny karena aku akan membuka sesi QnA untuk para pemain dan untuk aku juga.
Ayo gabung sekarang.
Bye..😘