
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
"Vian, Vano have a swim already?" (Vian, Vano sudah ya berenangnya?) ujar Vania menatap kedua anak laki-lakinya yang masih asik berenang di kolam berenang dengan menggunakan balon.
"Not yet Mommy." Sudah satu jam kedua anak laki-laki itu berenang gembira di kolam berenang dan Vania hanya duduk di kursi sun lounger sambil mengawasi buah hatinya.
Vania melangkah ke tepi kolam, menarik Vano yang begitu dekat dengannya. "No Mommy." ujar Vano dengan wajah muram saat Vania menarik balonnya.
"Tangan Vano sudah berkerut karena berendam terlalu lama." ujar Vania sambil mengusap telapak tangan kecil Vano yang sudah berkerut.
"Done, okey." ujar Vania sambil mengangkat tubuh Vano dari dalam air. Vano terdiam pasrah tidak membantah. Vania meraih handuk kimono berkarakter Dinosaurus dan memakaikannya pada tubuh Vano agar tidak kedinginan.
"Wait here!" ujar Vania pada Vano sambil memberikan roti padanya.
Vania beralih mendapatkan Vian sekarang. "Vian, Get out now!" ujar Vania sambil menyuruh Vian agar mendekati tepi kolam. Vian dan balonnya terdiam di tengah kolam.
"No Mommy." jawab Vian keras kepala sambil menggeleng pasti.
"Daddy's coming home soon." (Sebentar lagi Daddy pulang.) bujuk Vania.
"Really?" tanya Vian dengan raut wajah tak yakin. Vania mengangguk dengan wajah lucu.
"Daddy will be home soon with lots of toys." ujar Vania sambil bertingkah meyakinkan Vian.
Vian tampak tertawa gembira, lalu mengayunkan tangan kecilnya di air untuk menuju ke tepi kolam.
Vania meraih pelan tubuh Vian, menggendong tubuh basahnya dan membawanya mendekati Vano. Vania memakaikan kimono dengan karakter Hiu pada Vian, lalu memberikan roti yang serupa dengan Vano.
Vania dengan lihai mendudukkan satu persatu putranya di kursi yang tersedia dekat dengan kolam. Mengeringkan wajah lembut Vian dan Vano bergantian, lalu memberikan jus pada kedua anak laki-lakinya itu.
"Daddy's home." Vian menoleh cepat mendengar suara Papanya yang menggelegar.
Vian turun dengan susah payah dari atas kursi, lalu berlari menemui Dave dengan langkah kecilnya. "Daddy." Dave menunduk untuk mengambil Vian dan menggendongnya ke udara.
Sedangkan Vano berada digendongan Vania. "Daddy, Where are my toys? Mommy said, daddy's gonna bring me a lot of toys." (Daddy, dimana mainanku? Mommy bilang, Daddy akan membawa banyak mainan.) ujar Vian dengan wajah muram. Dave tampak menatap Vania dengan wajah bertanya. Vania menggidik bahu sambil menunjuk kolam dengan bibirnya.
"Tapi mainan Vian sudah banyak di ruang bermain." ujar Dave pelan.
"Not too Much." ujar Vian sambil menggeleng sedih.
"Vian, Daddy lupa. Besok kita pergi beli bersama Mommy okey?" bujuk Vania sambil mengusap punggung kecil Vian. Vian menggeleng dengan wajah cemberut.
"Daddy lying." ujar Vian dengan wajah berkaca-kaca. Vania langsung menyerahkan Vano pada Dave, lalu mengambil alih Vian.
"Vian, Daddy bekerja agar bisa membeli mainan untuk Vian, kenapa mengatakan hal itu hmm?" tanya Vania menatap Vian dengan wajah menuntut. Vian terdiam dan akhirnya meneteskan air matanya yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya.
"Mommy yang berbohong bukan Daddy. Mommy berbohong supaya Vian berhenti bermain di kolam." Ujar Vania panjang lebar.
Vian menangis di bahu Vania. Dave menatap Vania, mengisyaratkan agar lebih lembut. Dave mengelus punggung Vian yang bergetar.
"Sorry Baby, Daddy forgot." ujar Dave lembut. Vania menggeleng melihat sikap Dave. Vian masih menangis, menutup wajahnya di bahu Vania.
"Mainan Vian sudah sangat banyak dan tidak ada yang rusak, Vian masih bisa memainkannya." ujar Vania dengan nada lembut namun tegas.
"Vano juga masih memainkan mainan yang lama." ujar Vania lagi.
Vian mengangkat kepalanya, menunjukkan wajahnya yang basah dengan air mata.
"Mommy sorry too. Sekarang mandi air hangat sama Daddy ya?" tanya Vania menatap Vian. Vian mengangguk pelan masih mengusap matanya.
"Good boy." ujar Vania sambil tersenyum lembut dan mencium lagi pipi Vian. Vania menyerahkan Vian pada Dave. Dave menggendong kedua anaknya yang sudah berumur dua tahun tersebut dengan mudah. Papa muda itu bahkan terlihat tidak kesulitan.
Dave membawa Vian dan Vano ke kamar mereka, sedangkan Vania melangkah ke dapur dan menyiapkan makan malam bersama dengan pelayan lainnya.
***
Setelah makan malam, Vania menuntun anak-anaknya untuk menyikat gigi dan membawa mereka ke ranjang. Jam menunjukkan pukul delapan malam namun kedua anak laki-lakinya itu sudah tampak lelah. Lelah bermain dan lelah menangis.
Vania mengelus punggung Vian dan Vano bergantian sambil ikut berbaring di ranjang besar tersebut. Vania menatap kedua anaknya yang sudah terlelap dengan pulas. Hari ini tidak butuh waktu lama untuk si kembar tidur.
Terdengar suara pintu terbuka dengan pelan. Dave masuk ke dalam dan menatap istrinya serta anaknya yang sudah terbaring di ranjang.
Dave mendekati istrinya pelan agar tidak membangunkan si kembar. Vania menoleh karena menyadari kedatangan Dave. Dave mencium bibir Vania setelah dekat dengan istrinya itu.
Vania mengernyit dan akhirnya terkejut saat Dave tiba-tiba menggendong tubuhnya. Vania menahan suaranya agar tidak membangunkan anak-anak. Dave mematikan lampu tidur sebelum membawa Vania keluar dari kamar tersebut.
Vania pasrah. Dave membawa Vania ke kamar yang dulu Vania tempati saat pertama kali tinggal di sini.
Dave membaringkan Vania ke atas ranjang diikuti olehnya menimpa tubuh sang istri.
"Aku merindukan waktu berdua kita." bisik Dave di telinga Vania sensual. Vania bergidik. Sudah lama mereka tidak punya waktu berdua.
Si kembar walau sudah ada kamar sendiri, mereka tidak ingin tidur tanpa Vania dan Dave. Alhasil mereka berempat tidur di kasur yang sama, di kamar Vania dan Dave.
Dave merindukan istrinya tentu saja. "How about Baby Girl now?" tanya Dave di depan wajah Vania dengan wajah menggodanya.
Vania terdiam. "Boleh, tapi setelah aku lulus kuliah." ujar Vania yang membuat Dave mengernyit.
"Aku mau kuliah Dave." ujar Vania lagi dengan tampang serius.
"Lalu anak-anak?" tanya Dave. Dave bangkit dari tubuh Vania, lalu duduk di atas ranjang. Vania ikut bangkit dan duduk berhadapan dengan Dave.
"Anak-anak sudah mulai besar. Aku akan mengusahakan untuk kelas Pagi. Jadi, pagi mereka sekolah, aku sekalian kuliah, sore sampai malam udah sama anak-anak." ujar Vania.
"Aku tidak ingin hanya lulusan high school saja Dave. Aku juga ingin menempuh ilmu lebih tinggi." tambah Vania. Dave merenung. Dave merasa egois selama ini. Dia sudah mengambil masa muda Vania dan menjadikan wanita itu sebagai seorang Ibu diusia yang begitu muda.
Vania pasti ingin merasakan bergaul bersama teman-temannya seperti dulu. Dave membuang nafasnya pelan, lalu memeluk Vania di dalam dekapannya.
"Maaf aku mengambil masa mudamu. Aku sadar kalau aku ini egois. Kamu pasti kelelahan merawat Vian dan Vano seorang diri seharian." ujar Dave. Vania menggeleng dan menatap Dave lekat.
"Aku senang, karena ada kamu dan anak-anak di hidupku." ujar Vania sambil mengelus pipi suaminya.
Dave menatap Vania lekat dan kembali memeluk istrinya yang begitu berharga.
"Kamu mau kuliah di mana? Biar aku urus semuanya." ujar Dave yang berhasil membuat Vania tersenyum gembira.
"I love you, Dave." ujar Vania memeluk erat suaminya.
"I love you more, Mi Amor." balas Dave lembut.
Tidak perlu banyak uang untuk bahagia, karena Harta melimpah tidak lebih hanya sebuah titipan untukmu di dunia. Hidup hanya satu kali, selagi kita hidup, lakukan suatu hal yang membuatmu bahagia dan membuat orang-orang yang kamu cintai dan sayangi bahagia.
Extra Part 1 up.