
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Dave melangkah menyusuri mansion tersebut, menghiraukan suara sahutan tembakan yang memenuhi telinganya. Dave naik ke atas tangga, melangkah beriringan dengan Kenzo yang setia di sampingnya, dan pasukan di belakang mereka, lalu matanya menangkap pintu besar mencolok.
Kenzo mendorong pintu tersebut dan membiarkan Dave masuk ke dalam. Para pasukan khususnya langsung masuk mengepung sambil mengangkat senapan mereka. Dave menatap para kumpulan musuh-musuhnya dengan mata tajam. Mereka jelas ketakutan, namun tetap mencari masalah dengannya.
Dalang dibalik ini pasti hanya satu orang itu. Dave menatap sosok pria yang langsung membuat rahangnya mengeras.
Lewis berdiri dengan satu orang pengawal yang meletakkan senapan di kepalanya. Mendorong senapan tersebut, mengisyaratkan agar ia melangkah mendekati Dave.
Lewis sampai di depan Dave dan mereka saling melempar tatapan tajam.
"Di mana istriku?" tanya Dave tanpa basa-basi.
Lewis tersenyum miring "Istrimu? Kau tau dia tidak ingin bersamamu semenjak ia tau kau adalah pembunuh berdarah dingin." ujar Lewis menatap Dave mengejek.
Dave menggeram sambil mengepalkan tangannya. Vania akhirnya tau.
Dave dengan begitu cepat mencekik leher Lewis dengan sarat mata membunuh.
"Katakan di mana istriku!" Ancam Dave dengan gertakan giginya yang saling bertabrakan.
Lewis mencengkeram tangan Dave yang mencekiknya. Dia kesulitan bernafas dan berbicara. Dave melepas cekikannya dan melempar tubuh Lewis ke lantai.
"Tanpa jawabanmu aku bisa mencarinya." ujar Dave dingin.
"Bunuh semua yang ada di sini!"
Mereka langsung membelalak kaget mendengarnya. "Kami memohon ampun tuan Raveno. Ampuni kami." ujar salah tau pria paruh baya di sana sambil berlutut cepat.
Temannya yang lain ikut berlutut melihat pria itu berlutut, meminta ampun dan belas kasihan seorang Davin Raveno.
"Kalian berani bermain dengan api dan kalian yang akan terbakar." ujar Dave sambil menatap mereka semua tajam.
"Bunuh!"
"JANGAN!" Dave menoleh ke sumber suara, melihat Vania melangkah ke arahnya dengan raut panik.
"Vania." Dave memeluk Vania cepat saat gadis itu sampai di depannya.
Vania ikut membalas pelukan suaminya walau hanya sekejab. Vania melepas pelukan Dave cepat dan menatap Dave tajam. "Jangan membunuh seseorang lagi dengan tangan bahkan dengan mulutmu!" ujar Vania menatap Dave lekat.
"Jangan menambah dosaku semakin banyak Dave, ingat anak-anak kita. Wajar jika mereka ingin membalas dendam jika sesuatu yang berharga dari mereka direnggut dengan hal tidak wajar. Kau pasti akan melakukannya juga jika kau kehilanganku bukan? Hentikan ini Dave!" ujar Vania panjang lebar sambil menatap Dave dengan wajah memohon.
Dave menatap Vania dan mengecup kening istrinya lembut. "Baiklah, tapi tidak dengan Lewis." ujar Dave. Vania menggeleng tidak setuju.
"Tetapi dia menyukaimu Vania." ujar Dave kesal.
Vania beralih menatap Lewis lekat. "Lewis hentikan semua ini, aku minta maaf atas nama suamiku. Bisakah kita kembali seperti dulu saja?" Vania menatap Lewis dalam. Suara lembutnya berhasil membuat Lewis merasa tertekan dengan wajah bersalah.
"Kau sama berharganya dengan Sam di dalam hidupku." ujar Vania sambil mencengkeram bahu Lewis yang terduduk di lantai.
"Tetapi aku mencintaimu lebih dari sahabat." ujar Lewis pedih.
"Sam juga mencintaiku lebih dari sahabat selama ini. Aku bukan orang yang tepat untukmu. Kau memiliki kebahagiaanmu jika kau mencarinya." ujar Vania. Lewis menatap Vania lekat. Pria itu tersentuh, sampai akhirnya ia sadar jika semua ini dilanjutkan, rantai balas dendam tidak akan pernah habis.
Dave tiba-tiba menarik tangan Vania padanya. "Ayo pulang, anak-anak menunggu di rumah." Dave langsung menggendong Vania ala bridal, lalu pergi menjauh dari sana.
Mereka pun dilepaskan. Pasukan Dave ikut mundur. Berbeda dengan Kenzo, ia melangkah menyusuri Mansion tersebut dengan wajah dinginnya.
Kenzo membuka sebuah pintu dan terdiam kaku saat sebuah benda dingin berada di kepalanya.
"Kenzo Edzard Duanovic." ujar seseorang yang menodongkan senjata padanya dan perlahan menunjukkan sosoknya dirinya dari belakang pria itu.
Kenzo menatap sosok pria di depannya. "Kau orang yang dicari Ansell?" Pria tersebut tampak terkekeh geli.
"Iya mungkin." jawabnya singkat.
"Bekerjalah dengan kami!" ujar Kenzo sambil menatap lekat mata pria tersebut.
Pria tersebut smirk, lalu menurunkan pistolnya. "Tentu saja menarik bekerja di bawah seorang Raveno. Apa kalian sanggup membayarku?" Kenzo mengangkat satu bibirnya mengejek.
"Tidak ada yang lebih memuaskan dari Raveno Internasional." ujar Kenzo sombong.
Pria tersebut tampak tersenyum lebar. "Deal."
Bersambung....
Hey..hey..
Cerita Kenzo sudah keluar. Judulnya, 'Trapped by the beast'. Cara mudah menemukannya, kalian klik aja profil aku, tekan karya dan cari judul di atas.
Cover masih bawaan Mangatoon. Entah kenapa cover buatanku ditolak. I don't know why.
Tapi kalian bisa lihat-lihat dulu.
Note : up next 2/6
Bye..😘