When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 35 - In the Car



Jam menunjukkan pukul 7 malam. Setelah makan siang bersama dave dan randy, dave menyuruhku untuk menunggunya selesai bekerja dan pulang bersama. Sedangkan randy dia kembali ke kantornya setelah makan siang.


Aku duduk manis disebelah dave yang menyetir dengan tenang. Dave sangat jarang menyetir mobilnya sendiri, dia lebih sering menggunakan supirnya. Kulirik dave yang menyetir dengan tangannya yang berurat dan tercetak Indah dibalik suitnya.


Aku suka melihat dave menggunakan tuxedonya, bentuk badan dave tercetak Indah dengan suit resmi seperti itu. Ditambah dadanya yang bidang dan perut kotak-kotaknya yang rata, membuatnya terlibat panas dan seksi. Huh... Pikiranku rusak hanya karna melihatnya tampan seperti ini.



Aku terkadang berfikir kenapa aku bisa memiliki pria setampan dan sesempurna dave sebagai milikku. Dia tampan dan mapan ditambah dia seksi dan panas. Tak heran dia menjadi rebutan ****** diluar sana hanya untuk satu malam mereka.


Tiba-tiba terlintas kejadian dimana dave dan Stacey sedang berciuman liar di ruangannya saat dimana aku memergoki mereka. Dave yang resmi menjadi kekasihku saat itu, aku menjadi jijik karna dia melakukannya saat sedang menjalin hubungan denganku. Aku tidak terlalu mempedulikan masa lalu dave yang liar karna disitu belum terdapat aku.


"Dave. "Panggilku.


"ya baby. "Jawabnya lembut dan menatapku sebentar.


"Bisa kamu jawab pertanyaanku? "Tanyaku pelan.


"Pertanyaan apa? Tanyakan saja! "Ucapnya sambil tersenyum manis.


Aku meneguk ludahku gugup. "apa kamu tidur dengan stacey? "Tanyaku murung.


Dave menatapku heran, mungkin karna tiba-tiba aku menanyakan tentang mantannya itu.


"Ya. "Jawabnya yang membuat hatiku teriris sakit. Tanganku tergenggam kuat dan aku menoleh menatap keluar jendela mobil.


"Kau tidur dengannya setelah ada aku, atau sebelumnya? "Tanyaku tak ingin menatap kearahnya.


"Sebelumnya sayang. "Tak kupungkiri hatiku sedikit membaik mendengarnya, walau hanya sedikit.


Aku terdiam tak ingin membuka suara dan menatap lekat keluar jendela. Kami terdiam tak membuka suara sedikitpun, sampai kurasakan perlahan mobil dave berhenti. Kulirik kedepan, dan ternyata tidak ada lalu lintas yang menghentikan kami. Kulirik sekitar dan menyadari kami berada disebuah jalan yang cukup sepi.


"baby lihat aku! "Kulihat dave yang menatapku dalam diam. Dave melepas sabuk pengamannya dan mendekatkan tubuhnya kearahku.


"Kamu sedih? "Tanyanya, dan aku hanya terdiam menatapnya. Perlahan tangan dave terulur menggenggam kedua tanganku dan mengecupnya lembut.


"Maafkan aku tidak menjadi pria sempurna untukmu. Masa laluku yang liar dan membuatmu jijik, maafkan aku baby. "Aku tersentak mendengar perkataannya dan menggeleng kuat menatapnya.


"Bukan itu. "Ucapku pelan.


"Aku tau, tubuhku tak suci dan tak pantas dengan dirimu yang menjadikan aku sebagai lelaki pertamamu. Itupun karna aku yang memanfaatkan kesempatan disaat kamu meminum obat sialan itu. "Ucap dave dengan wajah sedih. Aku melepas genggamannya dan menangkup wajahnya yang murung dan kusut.



"Aku tidak pernah mempermasalahkan masa lalumu karna disana belum ada aku. Aku hanya marah karna kamu mencium stacey saat berhubungan denganku. Saat itu aku menyesal sudah menjadi salah satu wanita yang jatuh dalam pesonamu. Aku merasa telah menjadi salah satu korbanmu. Aku marah melihat kalian berciuman seperti itu. "Ucapku menumpahkan seluruh kemarahanku saat itu.


"Maaf baby, apa yang harus kulakukan untuk membersihkan seluruh jejak wanita ditubuhku ini? Asal jangan membenciku dan meninggalkanku. "Ucapnya sedih dan menatap kearah manik mataku dengan pandangan bersalah.


"Bibir ini sudah mencium terlalu banyak wanita, dan tubuh ini sudah meniduri banyak wanita. Maafkan aku, katakan apa yang harus kulakukan? "Tanya dave sampai setitik air matanya jatuh dan membasahi tanganku.


Kudekatkan wajahku dan mencium kedua matanya lembut. "Jangan menangis! "Ucapku lembut dan menghapus air matanya.


"Mau kubantu menghilangkannya baby? "Tanyaku lembut dan melempar senyumku. Dave mengangguk pelan dan menatapku senang, pasti dia memikirkan hal-hal mesum dikepalanya.


"Mandi yang bersih dua kali sehari, gosok gigi tiga kali sehari dan kumur-kumur sampai bersih. "Ucapku dengan senyum lebar. Sedangkan dave langsung menatapku datar.


"Aku melakukannya setiap hari tanpa kamu suruh baby. Tidak ada cara yang lain? "Tanyanya dengan wajah konyol. Aku tertawa sebentar sambil melepas tangkupan tanganku pada wajahnya lalu menatapnya dengan senyum geli.


"Tidak ada, cepat jalan aku harus belajar lagi bersama sammy. "Dave mendengus kesal lalu memasang kembali sabuk pengamannya dan melaju sedang.


Kulirik dave yang masih cemberut dan tanganku terulur kearah pahanya dan mengelusnya naik turun untuk menenangkannya.


"Jangan menggodaku. "Katanya tajam. Aku mengerucutkan bibir dan melepas tanganku.


Namun aku malah melepas sabuk pengamanmu sendiri dan dave menatapku bingung.


"Vania pakai seatbeltmu kembali! "Ucapnya dengan nada memerintah.


Aku menggeleng lalu menarik tangan kanannya yang memegang setir, menyisakan tangan kirinya yang menyetir. Aku beranjak dan duduk dipangkuan dave menghadap kearahnya.


"Baby. "Dave menyetir sedikit terganggu karna aku sempat menutupi penglihatannya disaat aku belum bisa duduk dengan rapi. Kutarik sedikit rokku keatas dan mengekspos pahaku yang menggoda, karna kalau tidak kutarik aku mana bisa duduk nyaman dipangkuan dave.


Beruntung jalanannya sepi sehingga dave tidak terlalu takut untuk menabrak pengguna jalan.


Setelah duduk dengan nyaman dipangkuan dave, aku membenamkan wajahku dilehernya dan ia bersandar dipundakku. "Kamu gadis nakal. "Geramnya dan aku hanya terkekeh.


"Jangan sampai tidak fokus. "Ucapku dengan nada menggoda.


Kubuka kaitan dasinya dan melemparnya kejok belakang, laku membuka kedua kancing atasnya. "Kamu pasti gerahkan? "Tanyaku nakal.


"Tadinya tidak, sekarang iya. Kamu harus tanggung jawab baby. "Aku terkekeh, yaiyalah tidak mungkin didalam mobil berpendingin ini kami kegerahan.


Kurasakan tubuh dave menegang, mungkin karna merasakan hembusan nafasku dilehernya.


"Dave aku menginginkanmu. "Ucap vania dengan wajah memerah malu.


Davin POV


"Dave aku menginginkanmu. "


Aku menggeram dan melajukan mobilku secepat mungkin kearah penthouse terdekatku.


Tubuhnya bergerak tak teratur sepanjang perjalan dan dia berhasil menggodaku dengan tingkahnya yang tiba-tiba seperti itu.


"Dia seperti orang yang meminum obat perangsang. "Batinku heran dan mencoba lebih fokus untuk segera sampai ke penthouse terdekat.


Mataku mencerah melihat gerbang besar berada didepanku, aku memasuki gerbang dan berhenti tepat didepan teras. Kumatikan mesinku dengan cepat dan menatap vania.


"Uhh.. Kita dimana? "Tanyanya.


"Dipenthouseku. "Jawabku. Kutatap matanya yang semakin terlihat linglung.


Dengan gerakan cepat aku membuka pintu mo ilku dan hendak beranjak keluar sambil menggendongnya. Namun vania langsung menginterupsi gerakanku.


"Mau kemana? "tanyanya heran.


"kedalam. "jawabku singkat.


"Aku mau disini sekarang juga. "Ucap vania menatapku menggoda. Aku tersenyum menggoda mendengar jawaban vulgarnya dan menurunkan kursi mobilku.


"As you wish babe. "


Vania langsung menciumku dengan ganas, dia memulainya kali ini. Menghabiskan malam yang panas dan berkeringat didalam mobil adalah suatu pengalaman yang hebat untuknya.


bersambung....


huh... aku merasa berdosa membuat para pembaca ku yang masih polos menjadi ternodai. tapi bagaimana lagi, banyak yang meminta scene ini untuk menguatkan kesan dave dan Vania yang saling dimabuk Cinta.


pasangan paling bucin ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


tapi yasudahlah, kali ini Vania yang liar dan memimpin, sekali-kali wanita yang inisiatif duluan ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


oh iya ada yang minta pictnya Vania nih. tapi, kembali lagi penilaian cantik dan ganteng masing-masing orang berbeda. dan author memilih....


jeng.. jeng.. jeng..



hai all๐Ÿ˜Š aku Vania๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜



Dave is mine, stacey๐Ÿคฌ๐Ÿ˜ 



dave ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ


penutupnya sidave...



touch her you'll die๐Ÿ˜


jangan lupa like, share dan komen.


bye... ๐Ÿ˜˜๐Ÿ’•