When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 40 - Embarrassment



...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih๐Ÿ™...


Vania POV


Aku tersenyum lebar ketika melihat bangunan tinggi di depanku, yang adalah perusahaaan milik Dave. Dave berkata aku harus datang ke kantornya setelah makan siang karena kami akan fitting gaun pernikahan.


Aku turun dari mobil dan berjalan melewati lobi dengan banyak sapaan dari karyawan Dave. Aku menekan tombol 77, sampai akhirnya aku memasuki ruangan Dave yang kosong.


"Dave." Panggilku sambil berjalan perlahan.


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh pelosok ruangan Dave yang kosong melompong. Kakiku melangkah pelan ke arah ruangan pribadi Dave dan membukanya.


Cklek.


"Dave." Kutatap Dave yang berbaring santai di atas tempat tidur, tengah sibuk dengan ponsel di tangannya sambil tersenyum lebar.


"Apa yang dia lihat sampai tersenyum selebar itu?" Batinku.


Mendengar panggilanku, Dave langsung terkesiap kaget dan buru-buru menutup ponselnya. Hal itu membuatku semakin curiga dengan sikapnya. Selama ini Dave adalah orang yang tenang. Jika dia mempunyai rahasia, dia pasti akan bersikap tenang dan santai. Namun sekarang, dia kelihatan menyembunyikan sesuatu dengan sangat jelas.


Alis mataku terangkat curiga, lalu melangkah ke arahnya dengan rasa penasaran.


"Apa yang kamu sembunyikan sayang?" tanyaku padanya dengan lembut, namun dengan nada tegas.


"Tidak ada." Jawabnya. Bola mataku berputar kesal, lalu duduk di depannya dengan wajah tak suka.


"Kamu ingin menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanyaku kesal.


"Tidak."


"Bohong, kamu natap ponsel kamu sambil senyum-senyum, kamu selingkuh?" Tanyaku frontal. Dave yang mendengar ucapanku langsung menatapku dengan pandangan mengernyit.


"Bagaimana mungkin aku selingkuh." Jawabnya menatapku lekat.


"lalu apa?" Tanyaku tak sabar.


Dave menghembuskan nafasnya pelan seakan pasrah, lalu memberikan ponselnya padaku. Aku menatapnya sebentar, lalu meraih ponsel tersebut.


Kutatap layar ponselnya yang menyala dan menunjukkan sebuah artikel yang berjudul 'Persiapan menjadi Seorang Ayah'. Mataku membulat tak percaya, lalu menatapnya dengan wajah bersalah.


"Maaf sayang, aku menuduhmu." Ucapku bersalah sambil menggenggam tangannya, lalu menciumnya lembut.


"Tidak apa-apa." Ucapnya sambil mengusap wajahku dengan tatapan lembut dan senyum hangatnya.


"Tapi kenapa kamu sembunyikan?" Tanyaku. Senyum hangatnya langsung pudar berganti dengan wajah kikuk.


"Aku hanya malu, karena tidak tau bagaimana akan menjadi seorang ayah." Jawabnya. Aku menatapnya lembut, lalu mengusap pipinya.


"Tidak apa, kamu sudah berusaha sayang." Ucapku lembut. Dave tersenyum lebar sambil menatapku, lalu menarikku ke pelukannya.


"Aku juga sudah mencari-cari beberapa peralatan bayi untuk babies." Ucapnya semangat dan aku membalas dengan senyum lebar.


"Kita tidak jadi pergi?" Tanyaku sambil melepas pelukan kami.


"Tentu saja jadi, aku akan bersiap sebentar." Ucapnya. aku mengangguk paham, lalu beranjak menjelajah kamar ini selagi menunggu.


Kutatap sebuah lemari besar, lalu membukanya. kutatap beberapa jas, kemeja, celana, dan beberapa dress. Kubuka lacinya dan ada beberapa pakaian dalam disana.


Aku mengernyit bingung. "Kenapa bisa ada disini?" Tanyaku pada Dave yang sedang memasang kaus kakinya.


"apa?" Tanyanya bingung dengan apa yang kumaksud.


"Pakaian dalam wanita dan beberapa dress."


"Tentu saja antisipasi jika hal-hal yang diinginkan terjadi."Jawabnya santai dengan senyuman menggoda dan aku langsung mendengus kesal.


Diinginkan katanya?


"Cih... Dasar mesum. Tentu saja kau membutuhkan ini karena jalangmu bertebaran dimana-mana." Ucapku kesal sambil menutup lemari tersebut kasar.


"Bohong. Pasti Stacey dan Katherine tunanganmu sudah masuk ke sini." Ucapku sambil merapikan dasinya dengan bibir mencebik.


"Ya.. Mereka memang pernah masuk, tetapi hanya sekedar masuk dan tidak pernah sampai tidur di ranjang ini."Jawabnya tidak setuju. Aku hanya diam tak membalas apapun sambil merapikan kemeja dan jasnya.


"Sudahlah, lupakan saja! Mau mereka masuk dan tidurpun, tetap saja kamu hanya milikku." Ucapku dengan wajah tak mau kalah. Kulihat Dave tersenyum mendengar ucapanku.


"Ughh.... Gemasnya mommy." Ucap Dave sambil mencubit pipiku kecil. Kurasakan pipiku memanas mendengar panggilannya padaku.


"Ayo pergi!" Ajakku sambil melepas cubitannya dari pipiku dan beranjak malu keluar dari ruangan tersebut tanpa menunggu Dave.


"Sayang, jika mau kita bisa mencobanya disini." Kudengar Dave berteriak dengan nada mengejek.


Cih.. Pria ini mau menggodaku.


"Dave mesum, jangan tidur bersamaku selama 2 minggu." Teriakku lagi sambil menutup pintu ruangan pribadinya dengan kuat. Setelah keluar dari ruangan Dave, kusapa Steve yang berada di mejanya.


Bruak


Aku terkejut mendengar gebrakan dari arah belakangku. Kulihat Dave dengan wajah paniknya dan kepalanya yang menggeleng sambil berjalan ke arahku.


"Baby.. Aku tidak setuju dengan ucapanmu tadi. Aku mana bisa tidur tanpa kamu, jadi jangan harap kamu bisa." Ucapnya lantang tanpa mempedulikan sekitarnya.


"Dave, disini ada Steve, kau tidak malu?" Tanyaku dengan nada menekan.


"Ini masalah hidup dan mati, jadi aku tidak akan malu."Jawabnya tegas dan itu malah membuatnya terlihat imut di mataku.


"Hanya dua minggu Dave." Ucapku dengan pandangan tak percaya menatap Dave.


"Mau satu haripun, aku tetap tidak akan mau." Ucapnya tegas. Kulirik Steve yang masih berdiri di tempatnya, lalu menarik Dave menuju lift. Perlahan lift terbuka dan kutarik Dave masuk ke dalam.


Setelah pintu lift tertutup, aku menatap lekat ke arah Dave, sedangkan Dave menatapku dengan wajah tenang, dicampur dengan raut wajahnya yang masih cemberut.


"Wahhh... Kenapa kekasihku ini begitu menggemaskan?" Tanyaku dengan nada frustasi, sedangkan Dave terkekeh mendengar ucapanku.


"Aku hanya menggemaskan di depanmu saja." Ucapnya sambil menangkup pinggangku mendekat ke tubuhnya.


"Ya, memang seharusnya begitu. Coba saja kamu bertingkah seperti ini di depan wanita lain, kurasa dia akan lari karna hilang feeling denganmu." Ucapku ketus dengan tatapan tajam kepadanya.


"Tapi kamu tidak lari." Tambahnya dengan wajah percaya diri.


"Huhhh.. Itulah kenapa ada pepatah 'Cinta itu buta', mau sejelek apapun tingkahmu, aku tetap mencintai pria di depanku ini." Jawabku menatap matanya yang juga menatapku lekat


Cup


Dave mencium bibirku singkat dan kembali menatapku. "Aku benar-benar mencintaimu baby." Ucapnya lembut. Aku tersenyum senang dan ikut menatapnya lembut.


"Aku juga." Balasku senang, lalu memeluknya erat.


bersambung....


hay.. hay.. hay..


Jangan rindu berat, biar dilan aja๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚



Dave : Mau tidur disampingku tidak? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜



Vania : Aku pusing kalau kalian nggak follow Violet_Slavny. Kalian bisa lihat suamiku disana๐Ÿ˜ฉ



Dave : Cepat follow! Aku nggak mau istriku pusing. ๐Ÿ˜ค๐Ÿ˜ค


Bye... ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ’•