
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Vania POV
Akhirnya hari ini datang. Hari dimana janji suci antara aku dan Dave berlangsung. Pesta pernikahan dimana aku akan berjalan menghampirinya yang berdiri sangat tampan di atas altar.
Pagi tadi aku bangun dengan tubuh segar, ditambah Dave yang bertingkah sangat manis.
Saat ini aku tengah didandani oleh beberapa orang styles terkenal, sedangkan Dave entah pergi kemana. Acara pernikahan akan berlangsung di Hotel dimana kami berada sekarang.
Saat sampai di sini, aku benar-benar terpukau melihat seluruh design yang sudah Dave atur. Dua kata yang langsung terlintas di otakku adalah 'Luxury' and 'Expensive'. Dave benar-benar ingin semuanya sangat istimewa dan berbeda.
"Kalian lihat Dave?" Tanyaku pada mereka.
"Kami tidak melihatnya." Jawab mereka.
Tok.. Tok... Tok
"Gaunnya sudah datang."
"Baiklah akan aku ambil." Salah satu periasku pergi mengambil gaunku.
Aku terpukau saat melihat gaun pengantin di depanku yang mengambang sangat indah dan lebar dengan warna memikat serta motif indahnya.
Dave menyiapkan segalanya dengan sempurna dan aku begitu menyukainya. Setelah menghabiskan beberapa jam hanya untuk menyiapkan diriku, akhirnya semua selasai. Aku berdiri di depan full mirror dan menatap diriku yang terlihat sempurna.
Cklek.
Kutolehkan mataku saat pintu terbuka dan memunculkan sosok Dave yang begitu tampan dengan tuxedo mewahnya serta gaya rambutnya yang rapi. Aku tersenyum menatapnya yang berjalan ke arahku dan para bridesmaid keluar tanpa disuruh.
"Istriku." Lirihnya sambil menarik pinggulku. Aku tersenyum senang dan tanganku mengelus dada bidangnya yang tercetak indah dibalik jasnya.
"Kau begitu cantik." Bisiknya di telingaku. Ia mencium kecil cuping telingaku, sehingga nafasnya terhembus ke dalam telingaku.
"Kau juga sangat tampan." Tambahku, lalu mencium pelipisnya.
"Sayang, kau membuatku ingin memakanmu sekarang juga. Kau benar-benar sempurna." Bisiknya dengan suara seraknya yang terdengar frustasi.
"Sabar Dave, aku sudah menghabiskan waktu berjam-jam, jangan merusak penampilanku yang sempurna ini." Protesku. Kudengar dia tertawa, lalu menatapku lembut.
"Karena kau terlihat sangat sempurna, aku jadi marah memikirkan mereka akan melirikmu dengan tatapan lapar." Ucapnya dan kini aku yang terkekeh.
"I'm always yours. Who dares to take me from you, that means giving his life to the devil." Ucapku menenangkannya dan ia tersenyum setuju.
"Ughh...That's my wife."
***
Author POV
Waktu yang ditunggu pun tiba. Dave berdiri di atas altar dengan sang Pendeta yang berdiri sambil tersenyum. Senyum Dave tak henti-hentinya mengembang dengan tatapan lekat ke arah pintu.
Perlahan muncullah sosok Vania yang mengandeng tangan ayah Sam dengan senyum merekah. Dave menatap lekat wajah Vania, begitupun sebaliknya. Hingga akhirnya Vania sampai di depannya dan Dave beralih mengamit tangan kekasihnya.
"Kalian dapat mengucapkan janji." Ucap sang Pendeta.
"I Davin Anthonic Raveno, take you Vania Iylazee Addison, to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And here to I pledge you my faithfulness." ucap Dave menatap lekat wajah Vania.
"I Vania Iylazee Addison, take you Davin Anthonic Raveno, to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And here to I pledge you my faithfulness." Balas Vania dengan wajah menahan tangis.
"Dengan ini, dihadapan Tuhan, Saudara Davin Anthonic Raveno dan Saudari Vania Iylazee Addison telah bersatu sebagai pasangan suami istri, hidup dalam suka maupun duka, miskin maupun kaya, sehat maupun sakit dan apa yang sudah disatukan oleh Tuhan, tidak dapat dipisahkan oleh manusia." Ucap sang Pendeta.
"Pengantin pria dapat mencium pengantin wanita." Tambah Pendeta tersebut lagi.
Dave mengusap pipi Vania, lalu menarik tengkuk istrinya dan mencium lembut bibir Vania. Vania memejamkan matanya dan disambut dengan tepuk tangan para undangan.
"I love you Baby." Ucap Dave setelah melepas ciuman mereka.
"I love you too." Jawab Vania. Dave merangkul pinggang Vania, lalu menghadap ke arah para tamu dan tersenyum bahagia.
Tepuk tangan dari para tamu terdengar begitu riuh. Hingga akhirnya acara dansa dimulai, dimana Dave dan Vania berdiri berhadapan di tengah hall dan berdansa dengan senyuman yang tak pernah pudar.
Beberapa kali, Dave dan Vania juga menyapa para kolega-kolega Dave yang datang dengan penuh rasa hormat.
"Mr. Raveno dan Mrs. Raveno, selamat atas pernikahan anda."
"Mr. Aliano, senang bertemu denganmu setelah sekian lama." Ucap Dave sopan saat seorang pria yang sangat ia kenali datang menghampirinya bersama seorang wanita di sampingnya.
Sean Matthew Aliano, Salah satu kolega bisnisnya dengan puncak karir gemilang di usianya yang masih muda. Usianya dan usia Dave sama. Aliano Corporation masuk dalam 5 besar Perusahaan paling berpengaruh di Dunia, mengalahkan Addison Inc, perusahaan milik papa Vania.
Vania ikut tersenyum menanggapi ucapan Dave, lalu menatap ke arah wanita cantik di sebelah pria yang di panggil Mr. Aliano tersebut. Vania menebak wanita itu lebih tua darinya, namun lebih muda dari Dave dan Mr. Aliano tersebut.
"Perkenalkan wanita di sampingku, Valerie Vylzia Vasylchenko, Kekasihku." Ucap Sean memperkenalkan wanita di sampingnya.
Dave dan Vania jelas melihat wanita bernama Valerie tersebut menoleh ke arah Sean seakan tak setuju dengan ucapan pria itu.
"Salam kenal Ms. Vasylchenko."
"Salam kenal juga Mr. Raveno, Mrs. Raveno." Ucap Valerie sopan, namun dengan senyum kikuk seakan tak berani mengatakan apapun.
"Apa kali ini kau serius Sean?" Tanya Dave mulai berbicara informal. Bagaimanapun Dave cukup dekat dengan Sean. Dave suka bekerja sama dengan Sean yang sangat terampil dan cekatan, sangat cocok menjadi lawan bisnisnya.
"Apa bedanya kau dan aku dulu Davin? Kita akan sama-sama berubah saat berjumpa dengan wanita yang begitu kita cintai. Namun satu hal yang membedakan kita berdua—" Sean dengan sengaja menggantung perkataan terakhirnya.
"Apa itu?" Tanya Dave ingin tau.
Sean mendekatkan tubuhnya pada Dave, lalu mendekatkan wajahnya ke samping wajah Dave dengan senyum miring.
"Kau menemukan cintamu setelah bermain dengan ratusan wanita, namun aku mencintainya sejak dulu sampai sekarang." Bisik Sean dengan senyum miring khasnya, lalu menjauhkan kembali tubuhnya dengan senyum lebar tak bersalah.
"Kau benar." Jawab Dave menyetujui apa yang di katakan oleh Sean. Vania dan Valerie hanya berdiri kikuk dengan wajah bingung, memikirkan apa yang mereka bisikkan dan benarkan?
"Tapi sepertinya dia tidak menyukaimu Sean." Ucap Dave frontal dengan senyum meremehkan. Sean membalas dengan senyum miring, lalu merangkul pinggang Valerie erat dan menarik wanita itu ke dalam dekapannya.
"Sedang dalam proses menaklukkan Singa Betina." Ucap Sean dengan senyum geli sambil menatap Valerie yang mencebik kesal.
Vania ikut terkikik menatap pasangan di depannya ini. Mereka pasangan yang lucu dan sangat serasi.
"Semangat! Aku sudah menjinakkan singa betinaku lebih dulu. Sekarang dia sedang mengandung dua singa lainnya." Ucap Dave sambil merangkul Vania dan mengelus perut istrinya dengan penuh sayang.
Vania mendengus pasrah menerima perumpamaan yang Dave berikan padanya dan pada anaknya.
"Wah, kembar ya?" Ucap Valerie yang tiba-tiba heboh. Sepertinya gadis ini menyukai anak-anak dan tak tahan untuk tidak membahasnya.
"Iya kembar." Jawab Vania dengan senyum lebar sambil mengusap perutnya. Sepertinya kedua gadis ini cocok satu sama lain.
"Aku juga pengen punya anak kembar, tapi nggak ada gen kembar kan susah." Ucap Valerie, namun dengan cepat Sean menimpali.
"Kita program saja sayang, beres." Timpalnya.
"Memangnya kamu siapa?" Desis Valerie sambil mencebik kesal pada Sean.
Vania tersenyum geli dan membiarkan Valerie mengelus-elus perutnya yang masih rata.
"Semoga proses melahirkannya lancar ya." Ucap Valerie senang.
"Iya, terimakasih." Ucap Vania ikut tersenyum dan kembali berbincang-bincang ringan dengan tamu yang lain.
***
Pernikahan dan resepsi berjalan dengan lancar, hingga semua acara selesai. Dave menggendong istrinya yang kelelahan menuju kamar hotel mereka, lalu membaringkan istrinya disana.
"Mandi dulu biar segar." Ucap Dave sambil mengusap wajah istrinya.
"Humm." Balas Vania malas.
"Mau aku mandiin?" Tanya Dave menatap istrinya menggoda.
"Mau." Namun jawaban Vania benar-benar diluar prediksinya. Ia kira istrinya ini akan menolak dengan wajah kesal.
"Aku mau berendam di jacuzzi." Tambah Vania. Dave tersenyum senang, lalu melepas jasnya dengan semangat.
"Ayo!" Ajak Dave dengan wajah bodohnya.
Vania berdiri dan melepas riasan rambutnya, lalu menghapus make upnya dengan micellar water.
"Lama sayang." Rungut Dave sambil memeluk Vania dari belakang dengan wajah tak sabar. Dave sudah benar-benar telanjang dan siap untuk mandi, sedangkan Vania masih sibuk membersihkan wajahnya.
"Yaudah, aku bantu lepasin gaun kamu." Ucap Dave. Tanpa menunggu persetujuan Vania, ia membuka resleting gaunnya sehingga gaun tersebut meluncur bebas dari tubuhnya dan hanya menyisakan pakaian dalamnya.
Vania menatap wajah Dave yang terpantul dari cermin, lalu memutar tubuhnya saat ia selesai menghapus make upnya.
Dave tersenyum senang, lalu menggendong Vania dengan cepat dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Setelah menghabiskan beberapa jam di kamar mandi dengan kegiatan menyelam sambil minum air ala Dave. Mereka keluar dengan mengenakan jubah mandi dan Dave yang menggendong tubuh Vania yang tampak kelelahan.
Kepala Vania bersandar lelah dibahu Dave, lalu Dave membaringkan tubuh mereka di atas ranjang dengan lembut.
Vania menatap suaminya yang begitu sempurna. Sempurna rupa, sempurna materi, ditambah sempurna kegagahan bermain ranjangnya. Apalagi yang kurang dari suaminya?
Dave memeluk erat tubuh Vania, bahkan saking gemasnya Dave membaringkan tubuh Vania di atas tubuhnya. Ia tak merasa keberatan sama sekali dengan bobot tubuh Vania. Untung saja perut Vania masih datar. Vania yang lelah hanya pasrah sambil menikmati harum tubuh suaminya yang menguar setelah selesai mandi.
"I love you baby." Ucap Dave mencium puncak kepala Vania.
"I love you too hubby." Jawab Vania dengan mata yang mulai tertutup karena kantuk yang tak bisa lagi ia tahan.
Bersambung....
Yeayy.... Akhirnya mereka nikah juga guys, senang deh😊😊
Oh iya kalian penasaran sama cerita Sean dan Valerie? Mampir ke profilku dan baca ceritaku yang berjudul The Overprotective Man.
Jangan lupa follow IGku agar klian tau kapan aku update dan rindu dengan para pict pemain ceritaku. Aku post mereka disana, dan beberapa spoiler dan cerita baru yang akan segera aku publish setelah cerita ini selesai.
Beserta jika klian mau post yang bersangkutan tentang ceritaku di Instastory, kalian bisa tag IGku dan akan aku repost juga😘😘💕
Jangan lupa like share dan komen. Ngomong-ngomong, Hari ini pictnya dave lagi kosong, mampir aja ke IG untuk lihat mukanya dia.
Bye... 😘💕