
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Dave memasuki kamar hotelnya dengan Vania digendongannya. Wanita itu tertidur dengan nyenyak di mobil selama perjalan pulang mereka. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Dave membaringkan tubuh istrinya dengan lembut ke atas ranjang.
Menarik selimut hingga dada dan memastikan semuanya aman, Dave mencium kening istrinya lama.
Setelah semua beres, dia melangkah ke luar dari kamarnya dan menutup pintu dengan perlahan. Setelah ke luar, ia mengeluarkan ponselnya dengan cepat dan mendial nomor seseorang.
"Hallo."
"Kau sudah menangkap orang itu?" tanya Dave tajam dan langsung pada intinya.
"Sudah."
"Aku akan segera datang ke sana."
"Baik."
Dave menutup teleponnya dan langsung melangkah cepat ke luar dari kamar hotelnya. Mengendarai mobil yang baru saja ia beli hari ini dengan cepat menuju tempat yang sekarang ia tuju.
Tak butuh waktu lama hingga Dave sampai di sana.
Dave memasuki rumah tua yang tampak mengerikan dengan penerangan minim. Lantai tampak kotor dengan pasir dan beberapa sudut ruang dengan air tergenang.
Tampak kayu-kayuan lapuk juga berada di lantai dengan berantakan. Satu ruangan luas tersebut hanya diterangi oleh sebuah bohlam redup yang hampir mati.
Dave jelas mendengar suara teriakan nyaring memenuhi rumah tua tersebut. Dilihatnya Kenzo berdiri di depan pria yang sedang terikat di tiang rumah dalam keadaan berlumuran darah.
Di tangan Kenzo, terdapat sebatang kayu yang di penuhi oleh darah. Langkah Dave semakin dekat dan akhirnya berdiri tepat di depan pria tersebut.
"Dia orangnya?" tanya Dave dingin.
"Ya. "
"Kau terlalu banyak memukulnya sampai aku tak bisa melihat jelas wajahnya." ucap Dave.
"Dia tidak mengatakan apapun sejak tadi." ucap Kenzo datar tak peduli.
"Dia menutup mulutnya dengan rapat." sambungnya.
"Siapa kau?" tanya Dave. Pria yang tampak sekarat itu mengangkat kepalanya dengan perlahan.
Matanya menatap sayu ke arah Dave. "Kenapa aku disekap di sini?" tanya pria itu dengan bahasa indonesia.
"Apa yang dia katakan?" tanya Dave dan Kenzo menjawab dengan mentranslatekannya ke dalam bahasa inggris.
"Kau menabrak istriku. Kau suruan siapa?" tanya Dave tajam.
"Kalian gila! Gila! Apa yang kulakukan hingga kalian menyekapku di sini?" teriak pria tersebut sambil menangis pilu. Dave mengernyit heran mendengar perkataan yang Kenzo berikan padanya.
Jadi, apa pria ini tidak ada kaitannya dengan orang yang selama ini ia cari?
"Lepaskan aku! Kalian gila! Dasar turis tidak tau diri." teriaknya lagi.
Dave mengusap kepalanya pusing. Dia salah menangkap orang. Dia pikir, pria yang menabrak istrinya tadi tampak mencurigakan dengan dengan jaket di hari yang panas begini.
Pria ini jelas tidak mengerti bahasa inggris. Dave menyugar rambutnya dan melenggang pergi dari sana.
"Lepaskan dia! Lakukan apapun untuk menutup mulutnya!" ucap Dave sebelum menjauh dari sana.
Dave keluar dari rumah tua tersebut dan menatap langit hitam dengan wajah menahan amarah. Dia frustasi memikirkan cara untuk mendapatkan orang yang mengancam kehidupannya.
Dave menutup matanya rapat, membayangkan wajah istrinya yang lembut untuk meredakan emosinya. Dia punya tujuan. Menangkap orang tersebut dan hidup bahagia bersama istri dan anak-anaknya.
Dia lanjut melangkah dan mengendarai mobilnya menuju hotel. Sesampainya di sana, Dave memasuki kamarnya dengan perlahan dan berbaring di samping istrinya yang tertidur damai.
***
Pagi menyapa membangunkan Vania yang terlelap nikmat sejak semalam. Matanya menangkap Dave yang tertidur di sampingnya dengan piyama.
Vania tersenyum menatap wajah suaminya yang tampak polos, lalu mengecup cepat bibir Dave.
Vania terkekeh pelan saat melihat alis mata Dave tampak mengerut setelah ia cium. Vania menjulurkan telunjuknya dan menekan-nekan pipi kiri Dave berkali-kali.
Dave tampak mengeluh dan menjauhkan wajahnya. Vania tak menyerah dan akhirnya mengigiti pipi Dave.
"Vania Iylazee Raveno."
Vania tertawa senang saat Dave membuka matanya dengan wajah kesal. Vania kini tau jika Dave mengucapkan namanya dengan lengkap, itu artinya Dave sedang kesal dan marah.
"Maaf sayang." ucap Vania dengan wajah senang.
Dave menutup matanya untuk kembali tidur.
"Hei bangun!"
"Malas." gumam Dave dengan mata tertutup.
"Aku ingin sarapan." ucap Vania dengan nada manja.
Dave membuka matanya dan menatap istrinya yang duduk di sebelahnya.
"Kamu bisa menelfon pihak hotel untuk mengantar sarapan kemari sayang." ucap Dave lembut.
"Tetapi babies ingin daddynya yang memasak sarapan untuk mereka." ucap Vania merengut.
Dave menarik nafas panjang dan duduk dengan malas. Dave menatap perut buncit Vania dengan lekat, lalu memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di perut istrinya.
"Kenapa harus pagi ini babies? Daddymu sedang malas hari ini." sungut Dave. Vania tertawa dalam hati dengan senyum puas.
"Cepatlah Dave! Aku sudah lapar. Aku mengandung dua bayi sekaligus." ucap Vania kesal dan tak sabar.
"Aku tidak bisa memasak Baby." ucap Dave ikut kesal menatap istrinya.
"Jadi kamu tidak mau memasak untukku dan mereka?" tanya Vania dengan mata mulai berkaca-kaca.
Dave mendesah pasrah, lalu mencium cepat bibir cemberut Vania. "Aku akan membuatnya." Vania kembali tersenyum cerah dengan semangat.
Vania bangkit berdiri setelah mencium gemas pipi Dave. "Aku akan mandi." ucap Vania hingga akhirnya melenggang ke kamar mandi.
Sedangkan Dave beranjak dan berkutat di dapur untuk membuat sarapan mereka. Seorang Taipan kaya yang terbiasa memerintah dan menerima semuanya dalam keadaan beres, kini takluk tak kuasa di bawah istrinya.
Bersambung....
Hay.. Hay.. Hay..
THR tahun baru untuk kalian.
Selamat Tahun Baru 2020 semuanya😊
**AYO UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU UNTUK KARYA INI DAN UNTUKKU😊💕
VOTE JUGA😊
BYE😘💕**