
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Vania POV
Setelah Dave kembali dari mengejar dokternya, ia kembali mendatangiku dan mengajakku bersantai di taman Mansion, karna dokter menyarankan aku untuk relax dan refreshing, menghilangkan rasa lelah. Namun setelah kami turun tangga, Dave malah berteriak dan memanggil seluruh pelayan yang ada untuk berkumpul.
"KUMPULKAN SELURUH PELAYAN!" Teriak Dave yang berhasil membuatku terkejut kaget sambil memeluk lengannya.
"Maaf membuatmu terkejut sayang." Ucapnya pelan sambil mengelus pipiku lembut dan mencium puncak hidungku sebentar.
"Jangan teriak-teriak!" Titahku.
"Iya maaf."
Setelah seluruh pelayan berkumpul dan berdiri dengan kepala tertunduk, Dave kembali berteriak marah.
"KEKASIHKU SAKIT DAN KALIAN SAMA SEKALI TIDAK MENGABARIKU? KALIAN DIBAYAR UNTUK BEKERJA, TIDAK BECUS!" teriak Dave marah.
"Kalian semua kupecat! Pergi sekarang juga!" Dave mengurangi nada tingginya, namun masih terdengar begitu tegas. Aku mengusap lengannya naik turun dan menggenggam tangannya.
"Mereka tidak tau aku sakit, aku tertidur sayang. Sudah jangan memecat mereka." Ucapku lembut yang dibalas tatapan protes olehnya.
"Tapi.. "
"Mau protes sayang?" Tanyaku dengan nada mengancam dan senyum mengerikan.
Wajah Dave langsung berubah lesu dan pasrah. Aku tersenyum puas dan menariknya menuju tujuan awal kami.
"Bersyukurlah kalian selamat hari ini. Lain kali kupastikan tak akan ada yang bisa menyelamatkan kebodohan dan kelalaian kalian." ucap Dave tajam ke arah para pelayan.
"Kalian bisa kembali, jangan khawatir." Ucapku pada mereka semua dan mereka tersenyum sambil menunduk dan mengangguk kecil.
"Terimakasih Nona." Ucap mereka dengan nada lega dan aku membalas dengan senyum lebar sambil melangkah bersama Dave.
"Jangan marah-marah nanti cepat tua." Ucapku dengan senyum kecil kepadanya yang masih memasang wajah datar.
"Kamu mau saat sweety lahir, kamu kelihatan tua dan tidak jadi hot Daddy?" Tanyaku menggodanya.
"Tentu saja tidak." Jawabnya cepat dan aku terkekeh kecil melihat wajah imutnya.
"Makanya yang sabar sayang!" Ucapku sambil mengelus dadanya. Dave menatapku lembut dan mencium bibirku.
"Baiklah Mommy." Ucapnya dengan senyum lembut dan mata memancarkan kasih sayang.
Dave menuntunku duduk disalah satu bangku taman dan dihadapan kami terdapat labirin yang besar.
Tatapan mataku menatap betapa luasnya taman yang Dave miliki. Berulang kali aku berpikir bagaimana bisa aku sangat beruntung memiliki Dave. Jika saja j*lang mata duitan berada di posisiku, pasti dia akan sangat senang dan tak akan pernah mau putus dengan Dave.
"Dave, rumah sebesar ini apa kamu tidak kesepian?" Tanyaku pelan dan menoleh ke arahnya.
Dave menoleh menatapku. "Tentu saja aku kesepian. Aku menghabiskan waktu untuk bekerja demi menghapus kesepianku." Jawabnya.
"Kamu membangun rumah ini untuk siapa?" Tanyaku lagi.
"Untuk istri dan anak-anakku." Ucapnya yang berhasil membuatku tersenyum senang.
"Percayalah sayang, aku tidak pernah membawa wanita manapun kesini kecuali dirimu." Tambahnya lagi dengan senyum genitnya.
"Benarkah? Ibumu dan tunanganmu?" Tanyaku tak percaya.
"Mereka datang, tetapi aku selalu memerintahkan agar mereka tidak boleh masuk." Ucap Dave marah.
"Tetap saja kamu bohong, jangan lupa seluruh pelayanmu adalah wanita Tuan Raveno." Ucapku geli.
"Sayang, mereka tidak termasuk dalam daftar itu." Jawabnya kesal.
"Tetap saja aku bukan wanita pertama itu." Ucapku sambil mengelus pipinya.
"But, It's okay, i still love you no matter what you have." Ucapku yang berhasil membuatnya tersenyum lebar dan memelukku erat.
"Apa aku membangun Mansion baru saja?" Ucapnya santai dalam pelukannya.
Aku memukul pelan bahunya.
"Jangan coba-coba menghabiskan uangmu dengan hal tidak berguna itu Tuan Raveno!" Ucapku memperingatinya dan ia terkekeh puas.
"Baiklah karna kamu yang meminta." ucapnya.
Aku melepas pelukan kami dan Dave mengamit tanganku erat. Kami menikmati sore hari yang indah bersama sampai senja tertelan oleh langit.
Dilain sisi
Author POV
Sam, Abel, Liam, dan Vico mengabiskan sore hari mereka di ruang Games. Ya, kalian tidak salah baca, Games yang dimaksud adalah games canggih masa kini dengan alat-alat super canggih.
Ruangan ini pertama kali ditemukan oleh Vico, Liam, dan Abel saat mereka kabur ketika sedang belajar bersama. Vico yang menemukannya langsung ternganga kagum dengan fasilitas super canggih disini. Sampai akhirnya Sam dan Vania menemukan mereka di ruangan ini karena menyadari ketiga temannya yang lain sudah tidak bersama mereka.
Tanpa mereka berempat sadari, Lia masuk ke dalam untuk mengantarkan cemilan.
"Permisi Tuan Nona, saya membawa cemilan." Ucap Lia sopan.
"Terimakasih." Ucap Abel dengan senyum lebarnya dan Lia mengangguk dengan senyum kecil.
"Wah.. Seberapa mewah Mansion ini?" Tanya Liam kagum.
"Iya dan lihat alat-alat gaming ini luar biasa canggih." Tambah Vico takjub.
"Benar, apa saja fasilitas di rumah ini?" Tanya Abel pada Lia.
"Kurasa akan sangat panjang." Jawab Lia sopan.
"Tidak apa, kami sudah terlanjur sangat ingin tau." Ucap Abel memaksa.
"Mansion ini terdiri dari 93 ruangan termasuk toilet dapur dan seluruh bagian kamar yang berada di mansion ini. Fasilitas indoor seperti ruang games ini, salon kecantikan, pusat spa, home teater, kamar tamu, Master room, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, ruang makan, luxury bar, ruang anggur, gelanggang bowling, ruang gym, ruang karaoke, ruang bermain anak-anak, perpustakaan, pool indoor yang berada di rooftop, dll. Sedangkan fasilitas outdoor terdapat pool dewasa dan anak-anak, taman labirin, danau dan taman bermain anak-anak, lapangan golf, pacuan kuda, lapangan tenis, basket dan futsal serta landasan helikopter dan basement yang dapat memuat ratusan mobil."
Mereka berempat ternganga kagum dengan mata membulat, sedangkan Lia hanya bisa menunduk.
"Tidak sekalian dia membangun bandara pribadi." Desis Vico terkagum sampai-sampai ia lupa dengan game yang ia mainkan.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap Lia meninggalkan mereka berempat yang masih terdiam meneguk ludah.
"Ikut"
***
Davin POV
Setelah menghabiskan waktu di taman, aku membawa Vania bersantai di ruang tamu sambil menonton. Kami saling berpelukan di dalam selimut karna Vania mengatakan dia kedinginan.
"Vania."
Aku mendengus kesal melihat para bocah ingusan tersebut turun mendekati kami.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya gadis yang kuketahui bernama Abel. Vania mengangguk dengan senyum manis.
"Apa kata dokter? Kamu sakit apa?" Tanya si Sam bocah kurang ajar ini dan aku memutar bola mataku malas.
"Dia kelelahan, kau membuatnya belajar terlalu keras." Jawabku kesal. Kurasakan Vania mencubit perutku dari dalam selimut.
"Shh.. Sakit sayang." Ringisku padanya.
"Bukan salah Sam, aku memang harus belajar biar bisa lulus." Ucapnya dan seperti biasa aku tak bisa membantah pujaan hatiku ini.
"Hanya itu yang dikatakan dokter?" Tanya lagi dan berhasil membuatku muak.
"Dia hamil anakku karna itu dia mudah kelelahan." Ucapku gamblang dan santai.
"APA?" aku terjengit kaget saat mendengar mereka serempak berteriak.
"YA BOCAH, JANGAN BERTERIAK DI DEPAN ANAKKU! DIA BUTUH ALUNAN LEMBUT BUKAN TERIAKAN KALIAN." teriakku marah dan kesal.
"Kamu juga teriak sayang." Ucap Vania dan aku langsung tersadar sambil terkekeh minta maaf.
"Beneran Van?" Tanya si Abel itu lagi.
"Iya aku hamil." Jawab Vania.
"Papamu tau Zee?" Tanya Sam yang berhasil membuat kekasihku yang tadinya tersenyum langsung muram seketika. Kulempar tatapan mematikanku pada Sam, namun bocah itu tetap saja tidak gentar.
"Mereka tidak perlu tau apapun." Ucapku dingin.
"Jika kalian akan menikah, Papamu harus tau Zee." Tambahnya lagi.
"Sudah kubilang dia tidak perlu tau apapun tentang Vania." Ucapku lamat-lamat agar bocah ini menghentikan semua pembahasan tentang keluarga Vania.
"Zee bagaimanapun dia papamu."
"Diam bangs*t! Jangan membahas Ayah sialannya itu. Ayahnya memberi dia padaku untuk kekayaan. Dia sudah menjual putrinya, apa dia layak disebut seorang Ayah?" Ucapku marah.
Kulihat wajah mereka langsung terdiam. Mereka pasti sudah tau tentang kebenaran ini.
"Zee maaf." Ucap Sam merasa bersalah membahas kembali mengenai papanya.
"Tidak apa-apa Sam." Ucap Vania lembut dengan senyum tipis.
"Papamu memang berengsek Van, bagaimana bisa dia menjual putri kandungnya sendiri." Ucap Abel itu ikut kesal.
"Kau butuh bantuanku untuk meneror Papamu Van?"
"Aku juga akan membantu kalau kau mau." Tambah kedua teman laki-lakinya lagi.
"Tidak perlu, Papaku hanya dapat diatasi oleh orang yang tepat dan Dave sangat cocok untuk membuatnya menyesal seumur hidup."
"Kalian tidak perlu berbuat apapun, cukup temani aku dan selalu bersamaku. Aku tak ingin kalian disakiti Papaku." Ucap Vania.
"Lalu aku? Apa kamu tidak takut aku tersakiti?" Tanyaku cemburu. Ya, aku cemburu dan iri mendengar perkataannya.
Vania menoleh ke arahku. "Aku malah khawatir apa yang akan kamu lakukan pada Papaku, bukannya kamu." Celotehnya.
"Tapi bagaimanapun jangan sampai terluka, aku tidak ingin menjadi janda di usia muda." Ucapnya lagi yang berhasil membuatku terkekeh.
Kucium bibirnya kilat saking gemasnya.
"Permisi, sebaiknya kami memanggil paman dengan sebutan apa?" Tanya si Abel itu. Apa katanya? Paman? aku Paman?
"Jangan memanggilku Paman, karna aku tidak pernah menikahi Bibimu." Ucapku kesal, sedangkan Vania terkekeh puas bersama temannya yang lain.
"Umurku 25 tahun dan hanya berbeda 6 tahun dengan kalian. Panggil saja aku Davin, jangan coba-coba memanggilku Dave, karna itu panggilan kesayangan dari Vania, apalagi Paman." Tambahku lagi.
"Kami sempat berkeliling dan menemukan ruang gamingmu dan menanyakan fasilitas yang ada pada kepala pelayan."
"Lalu?" Tanyaku.
"Wah... Mansion ini sungguh menakjubkan. Kenapa kau tidak membuat bandara pribadi juga disini."
"Hehh.. Untuk apa? Aku sudah memiliki bandara? Raveno's Airline. Aku tak ingin rumahku semak dengan deretan jet dan pesawat milikku." Ucapku sombong sambil bergidik.
"Wah gila." Mereka hanya bisa tercengang dan aku memasang wajah biasa saja sambil merangkul Vania dengan senyum bangga.
gue kaya emang masalah buat lo? 😊
bersambung...
hay.. hay.. hay..
jangan lupa like, share dan komen, maaf juga udah membuat kalian menunggu lama.
dan, jangan lupa juga follow ig aku dan tau update-update terbaru mengenai semua cerita ku.
bye.... 😘💕
20092019
sumpah ini udah tanggal 24 dan 4 hari belum keacc sama mangatoonnya.
maaf bagi klian yang menunggu, aku sebenarnya kesal kenapa harus pake direview sama pihak mangatoonnya, kenapa nggak langsung publish aja kyk WP. TAPI APALAH DAYAKU YANG BUKAN SIAPA-SIAPA INI dan hanya bisa marah dengan sebuah tulisan saja😭