When DANGEROUS MAN Falling Love

When DANGEROUS MAN Falling Love
Part 62 - Baby Girl



...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...


"Istriku akan melahirkan kira-kira empat  minggu lagi, bisa saja lebih cepat." ujar Dave.


"Istriku akan melahirkan di Rumah Sakit dengan penjagaan ketat." tambahnya lagi dengan wajah serius.


"Musuhmu kali ini besar, kemungkinan yang memiliki dendam padamu." ucap Ansell sambil menatap mata Dave lekat.


"Aku juga berpikir begitu. Mungkin saja orang-orang itu saling berkumpul untuk membalas dendam." ucap Dave sambil mengangguk.


"Dan pastinya ada satu orang yang mendorong mereka semua untuk bersatu." tambah Kenzo. Ansell terdiam dengan pikirannya.


Hingga sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka.


"Dave." Dave yang terkejut langsung menoleh ke sumber suara.


Tampak Vania melangkah pelan memegangi perutnya dengan dibantu oleh Lia. Dave langsung melangkah cepat menghampiri istrinya.


"Sayang, kenapa turun?" tanya Dave khawatir.


"Aku bosan. Aku mau mencari udara segar di taman." balas Vania.


"Baiklah, Lia akan menemanimu." Vania mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Vania melempar senyum saat melihat Kenzo dan satu rekan Dave lagi yang tidak ia kenal.


Dave menatap lekat istinya sampai akhirnya hilang dari pandangannya. Dave kembali duduk.


"Dia cantik, pantas saja kau tergila-gila padanya." ejek Ansell sambil menatap Dave yang kini melempar tatapan tajam pada pria itu.


"Lanjutkan saja pembicaraan ini, aku harus segera menyusul istriku." ujar Dave tak sabar.


"Kita persingkat saja. Aku dan Ansell akan mencari jejak mereka di markas. Kami akan menghubungimu jika sudah mendapatkan celah mereka." ujar Kenzo.


Dave mengangguk setuju begitupun Ansell. "Aku merindukan markas tempat pertama kali aku bekerja." ujar Ansell sambil tersenyum.


"Kau bisa melepas rindumu sepuasnya nanti." ujar Kenzo yang berhasil membuat Ansell terkekeh.


"Sialan, kau sama sekali tidak berubah sejak dulu. Dingin tak tersentuh. Kau tidak akan mendapat kekasih jika seperti itu." ujar Ansell.


"Bukan urusanmu." ucap Kenzo dingin, lalu melangkah pergi dari sana.


Ansell mendecak kesal dan ikut bangkit berdiri hendak menyusul Kenzo.


"Davin, datanglah ke markas malam ini! Aku akan mengadakan pesta penyambutan diriku sendiri." ujar Ansell sambil melangkah mendekati Kenzo.


"Dasar bodoh." desis Dave menatap Ansell. Dia membuat pesta untuk menyambut dirinya sendiri. Benar-benar bodoh.


Dave bangkit dan berjalan menuju taman. Tampak punggung istrinya yang sedang duduk di sebuah bangku taman, sambil memandangi indahnya danau di malam hari.


Dave mendekati istrinya dan duduk di sampingnya. Vania yang menyadari sosok Dave ikut duduk bersamanya, melempar senyum hangat pada suaminya itu.


"Ini sudah malam sayang, jangan terlalu lama di luar." ujar Dave lembut.


Dave menghela nafas pasrah dan menuruti permintaan istri kecilnya itu. Dave membawa tangan Vania ke atas pangkuannya dan menggenggam tangan istrinya erat.


Mereka berdua sama-sama terdiam sambil menikmati indahnya danau dengan air mancur di tengahnya yang dipenuhi dengan lampu taman dan sekitar air mancur tersebut.


Vania tersenyum kecil. "Sebentar lagi akan ada bayi-bayi kecil seperti dirimu." ujar Vania dengan senyum lebar sambil menatap suaminya.


"Aku cemburu, mereka pasti akan terlihat mirip dengan daddynya dibanding aku." tambah Vania lagi.


Dave tersenyum geli, lalu mengecup tangan Vania yang ia genggam. "Maka kita akan membuat lagi yang mirip sepertimu. Gadis kecil menggemaskan sepertimu, bagaimana?" Vania tak dapat menahan senyumnya untuk mengembang sangat lebar dan akhirnya ia tertawa manis.


"Kalau begitu aku bukanlah satu-satunya perempuan yang kamu cintai setelahnya." ujar Vania.


"Bagaimana bisa aku tidak mencintai putri kecil kita." ujar Dave lembut. Vania tersenyum mendengarnya. Mereka sudah membayangkan seorang putri kecil di saat kedua putra mereka bahkan belum lahir.


"Putri kita nanti akan menjadi Princess Raveno. Dia pasti akan sangat cantik dan menggemaskan sepertimu." tambah Dave lagi.


"Sudah hentikan! Bahkan putramu masih belum lahir, kamu sudah membayangkan yang lain." ujar Vania.


"Baiklah, waktu lima menitmu sudah habis Nyonya Raveno." Dave bangkit dari duduknya dan membantu istrinya untuk bangkit berdiri.


Vania melangkah beriringan bersama suaminya masuk ke dalam rumah.


"Setelah melahirkan, aku harus berusaha keras untuk kembali menurunkan berat badan."


"Kenapa? Kau tampak cantik saat berisi."


"Bohong, aku ini gendut Dave."


"Hugh mulai lagi moodnya." batin Dave.


"Kamu kok diam?"


"Aku nggak diam."


"Kamu tadi diam Dave."


"Iyadeh, aku salah."


Sepasang suami-istri itu sibuk berbincang kecil hingga akhirnya sampai ke kamar mereka.


Bersambung...


Ayo gabung di grup chat Violet Slavny. ada QnA para pemain di sana.


Note : Next Chapter tiga hari kemudian(4/5).


bye...😘