
Bagas menatap tajam ke arah cermin yang memantulkan wajah geramnya,ini bukan kali pertama dirinya merasa sangat marah ketika melihat wanita yang kini menjadi istrinya pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
Selama ini tidak ada wanita yang bisa mengalihkan pandangannya setelah bertemu dengannya,semua wanita akan takluk padanya meskipun hanya sebuah pandangan sekilas saja.
Memang tak bisa di pungkiri,wajah tampan yang sangat menawan sangat jelas menguasai wajahnya,bukan hal yang mustahil jika hanya sebuah pandangan saja membuat wanita tak bisa berpaling.
"Sabrina"
Katanya dengan penuh kegeraman.Ia tidak habis pikir,kenapa wanita itu mampu membuat perasaannya sangat kacau.
Awalnya hanya sebuah ambisi untuk menaklukkan wanita sombong seperti sabrina,namun ternyata wanita itu semakin membuat perasaannya sangat kacau ran campur aduk.
Kasihan,tidak! dia tidak pernah kasihan pada siapapun.
Dendam,mungkin saja ini sebuah dendam.Tapi jika wanita itu tidak ada di hadapannya?
Hampa,kesal,dan rasanya ingin membawa dia kembali kesini secepatnya.
Lalu bagaimana jika sudah berada di satu tempat yang sama?
Hanya pertengkaran yang ada,namun itu membuatnya sedikit terhibur.
"Kau harus jadi milikku sabrina,itu harus!"
Katanya dengan sangat sinis.
****
Laura berjalan tak berdaya menuju kamar apartemen nya,ia tak peduli beberapa orang dilewatinya menatap dengan tatapan sangat aneh.
Pria brengsek! gue ngerasa jadi sangat murahan kalo tau bakalan seperti ini.
Gila! lo pikir gue ***** apa!
setelah nidurin gue,elo malah bilang kita cuman sahabat! mana ada sahabat yang mau di ajak tidur bareng goblok!
Tanpa sadar laura menendang pintu kamar apartemen yang ada di hadapannya,ia juga mulai memukul daun pintu itu dengan tas yang ia pegangi sejak tadi.
"******! Babgst! Anjm!"umpatan kata mutiara mulai ia keluarkan.
Dan tentu saja penghuni di dalam merasa terganggu dan membuka pintu apartemen yang sejak tadi di pukuli laura.
"Hai..ada bisa saya bantu nona?"
Laura kaget melihat seorang pria dengan kemeja putih yang sudah terlihat tidak rapi lagi,dan itu bisa di artikan kalau pria itu adalah pria yang sangat sibuk.
Laura menunduk sambil minta maaf.
"Sorry..gue lagi emosi,jadi.."belum sempat laura melanjutkan perkataanya pria itu memotong.
"Oke fine,lain kali jangan melakukan itu lagi meskipun anda merasa sangat kesal,itu sangat menggangu"kata pria itu dan langsung menutup pintu apartemen begitu saja.
Tentu saja laura menjadi semakin kesal dengan prilaku pria tadi.
emang cowo jaman sekarang gak ada yang bener kali yaa..
Siaaalll...kenapa gini banget hidup guee..
*****
Sabrina duduk sambil menikmati kopi yang di bawa oleh karyawan di restoran miliknya.
"Boss"
Suara alexa mengagetkan dirinya.
"Iya..maaf gue ngelamun"kata sabrina setelah tersadar
"Tadi mas Doni kesini nyariin Boss,ada penting katanya"
"Oh ya? kenapa dia gak nungguin gue aja gitu disini"
"Hmm katanya keburu mau beli makan Natalia,Bu Boss juga belum ketemu Natalia"Tambah alexa lagi.
Sabrina menekan kepalanya lagi,ia kembali berfikir beberapa masalah yang menimpa dirinya dan juga sahabatnya,entah kenapa rasanya cerita mereka jadi sama seperti ini.
"Boss..!" panggil alexa lagi dan itu membuat sabrina kaget lagi.
"Apaan sih lex.."kata sabrina dengan nada sedikit kesal
"Sebenarnya ada apa sih di antara para boss aku ini?,Mereka semua masuk kedalam restoran ini dengan ekspresi wajah yang sama,dan penuh dengan kegelisahan.Ada masalah apa sebenarnya?"tanya alexa.
Sabrina baru sadar kalau permasalahan pribadi sudah ia bawa ke pekerjaannya,dan itu sangat tidak profesional.Bahkan karyawan bisa dengan mudah menyadari kegelisahan dalam dirinya.
"hmmm..Banyak sekali masalah"jawab sabrina sambil menghembuskan nafas dengan berat.
"Terimakasih Alexa,sudah sangat perhatian denganku,tapi sepertinya aku belum bisa bercerita"Tambah sabrina lagi,ia tau vahwa alexa juga akan memasuki kehidupan persahabatan mereka berempat.
"Baiklah Bos,saya kembali bekerja"jawab alexa tanpa rasa kecewa sedikitpun.