
Doni membereskan dokumen dokumen penting yang akan dia bawa besok, besok dia akan berangkat keluar kota untuk melanjutkan bisinisnya, pikirannya tak tenang, otaknya masih memikirkan natalia yang terus mengatakan kalau dia sedang mual dan tak enak badan, padahal hanya sekali.. Tapi kenapa natalia langsung hamil, wanita ini memang sangat polos..
Doni langsung keluar dari ruangannya dan mengatakan pada sekertarisnya agar menolak semua pertemuan hari ini, entah kenapa dia jadi sangat rindu gadis ini.
Doni melajukan mobilnya menuju apartemen natalia, dia yakin kalau natalia tak akan kemanapun saat sedang mual,
Sampai di apartemen natalia dengan lincahnya dia mengetik pascode apartemen natalia, doni tersenyum setelah berhasil membuka pintu apartemen natalia.
Natalia sibuk dengan makanannya, dia terus memasukkan coklat kemulutnya, doni kaget saat melihat tumpukan coklat di meja natalia.
" Ya Tuhan... Kamu makan semua cokelat ini? "
Tanya doni yang sudah merampas semua coklat yang belum sempat natalia makan.
" jangan.. Jangan di buang, aku gak bisa makan apapun saat mual, aku hanya ingin makanan manis"
Hannah memang belum bisa memakan apapun selama masa ngidam, bahkan dia hanya memakan permen dan coklat saja, karena dia merasa nyaman saat makan semua itu.
" itu tak baik untuk kesehatanmu, ayo kita makan di tempat yang paling enak " ajak doni, tapi natalia menolak karena dia benar benar merasa tak ingin memakan apapun kecuali makanan manis.
" aku gak mau, aku hanya mau permen dan juga es krim " tolak natalia yang sudah membuat doni menggelengkan kepalanya, mana mungkin dia membiarkan natalia memakan makanan tak sehat saat hamil.
" kamu harus makan makanan bergizi, itu baik untukmu dan anak kita " kata doni,
Hati natalia berdesir saat mendengar ucapan doni barusan,
-
-
-
-
" inov, maafkan aku.. Sepertinya aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi " ucap sabrina setelah telepon mereka tersambung, sabrina menangis sejadi jadinya setelah mendengar suara inov di sebrang sana, sabrina tau kalau kali ini dia benar benar sudah tak bisa lagi keluar dari rumah ini.
" kenapa? Apakah bagas bersikap kasar padamu? Aku bisa membantumu keluar dari sana.. " kata inov,
Inov menunggu jawaban dari sabrina, namun hanya ada isakan tangis disana,
" kita tidak akan bisa bersama nov, semua sudah berakhir saat kamu pergi, aku tidak akan pernah bisa kembali padamu " kata sabrina lagi masih dengan tangisannya.
" jangan bicara seperti itu,, aku akan melakukan apapun supaya kita bisa bersama, aku mencintaimu sabrina sampai kapanpun hanya kamu di dalam hatiku.. " jawab inov lagi mencoba menenangkan gadis itu, kali ini sabrina tak menjawab dan memilih untuk mengakhiri telepon mereka, sabrina merasa tak kuat mendengarkan setiap kata yang inov ucapkan, rasanya sangat menyakitkan saat mendengarnya..
Bertahun tahun mereka menciptakan sebuah hubungan dan berakhir karena keegoisannya, dulu sabrina berfikir kalau inov sudah bosan karena sudah tak ada keromantisan di anatara mereka, namun sabrina sadar ketika sehari saja mereka tak berjumpa, rasa kehilangan menyelimuti perasaannya hingga sabrina sadar bahwa memang tak ada orang lain yang dia cintai selain inov, namun harus terjadi sesuatu yang membuat dirinya salah paham dan merusak masa depan kehidupannya, semua itu adalah awal masalah dalam kehidupan mereka,
Keputusannya yang memilih untuk putus adalah kesalahan terbesarnya.