
Mungkin ini alasannya kenapa aku harus pergi dari kehidupan bagas, dia pria kasar juga tak tau aturan, dia juga tak berfikir kalau itu sebuah kriminal, dia menyakitiku, dia juga menamparku karena keinginanku untuk bercerai, bagaimana bisa aku bertahan dengan pria seperti ini? Aku pikir dia akan berubah tapi ternyata tidak sama sekali, tapi aku tau kesalahanku yang tak bisa jujur tentang eros padanya, apa yang akan terjadi lagi kalau aku mengatakan kebenarannya? Saat aku ingin bercerai saja dia sudah melakukan KDRT padaku.
Kejadian semalam membuatku semakin semangat untuk pergi dari rumah ini, tapi tiba tiba bagas sudah masuk ke kamarku masih dengan sikap angkuhnya.
Dan kulihat rahangnya mengeras setelah melihatku sedang mengemasi pakaianku. Ya. Aku harus pergi sekarang.
" siapa yang memberimu ijin pergi? "
Tubuhku terasa sangat berat untuk bergerak saat mendengar suara beratnya bertanya padaku, tentu saja aku masih takut.
Kudengar langkah kaki bagas semakin dekat padaku, aku tak berani melihat wajah orang ini saat sedang marah.
Bagas membalikkan tubuhku dengan kasar, dan dia meremas rahangku, dia menatapku dengan penuh kebencian.
" aku tak akan membiarkanmu pergi " katanya sambil mendorongku keras kebelakang hingga tubuhku menabrak pintu lemari pakaianku.
" kau tau... Ini sebuah krimanal bagas, aku bisa menuntut kamu yang terus melakukan kekerasan padaku " ancamku, meskipun tubuhku sudah bergetar karena takut tapi aku masih memiliki keberanian untuk bicara padanya.
" kau mencoba mengancamku? Polisi tak akan melakukan apapun tanpa kehendakku" jawab bagas dengan sombongnya, dan aku tau itu.. Dia memiliki kuasa penuh. Tapi bagaimanapun caranya aku harus pergi dari sini.
" tolong biarkan aku pergi " kataku tegas, berharap agar di mengerti posisiku ini, aku sedang dilema bagas, antara aku harus menyatukan anakku dengan ayah kandungnya dan jujur padamu tentang siapa eros, apa yang akan kau lakukan jika kau sudah tau kebenarannya..??
Dan benar saja, bagas tak akan pernah membiarkan aku pergi, dia merampas paksa koperku lalu mengeluarkan semua isi koper yang sejak tadi dengan susah payah kucoba untuk merapikan.
Bagas semakin terlihat menakutkan, aku bahkan sangat takut kalau dia nekat menyiksaku lagi,
" kau tidak mendengarkan aku..? Selama kau masih istriku kau tidak akan bisa sesuka hati untuk pergi, ingat sabrina.. Kau sudah menyerahkan dirimu padaku dan kau tak akan mudah untuk pergi dariku.. Ingat itu "
Tubuhku terasa sangat lemas mendengar perkataan bagas barusan, dan kini bagas sudah mengurungku disini, di kamar ini...
Tapi kenapa kenyataan mempermainkan aku?
Aku bahkan tak tau apa yang akan aku lakukan selanjutnya...
Tetap tinggal atau aku harus berusaha pergi tapi terus di teror oleh bagas..
Ah..
Kenapa..? Kenapa harus serumit ini.?
****
Pov Bagas
Beraninya, beraninya kau akan pergi dariku..! Aku belum puas menyiksamu setelah berkali kali kau menolakku, ini hukuman sabrina... Ini hukuman,
Bahkan kau tetap pada pedirianmu yang tak bisa jatuh cinta padaku, lalu apa balasan atas semua yang aku lakukan padamu..?
Bahkan selama kau hamil aku merawatmu dengan baik, bahkan saat melahirkanpun aku menjadi satu satunya pria yang sangat peduli padamu,
Kau tau sabrina, tak ada satu pun wanita yang membuatku bersusah payah ingin ku bahagiakan, tapi kau.. Tapi kau membuatku lupa siapa diriku, aku lebih mendahulukan dirimu dari pada diriku sendiri, aku bahkan sudah lupa dengan wanita wanita yang dulu mengejarku..
Dan sepertinya.. Aku sudah jatuh cinta padamu sabrina..
Kau harus tau itu.