We Just Broke Up

We Just Broke Up
Enam belas



Sekali lagi menjadi pertemuan yang tak bisa di hindari, sekarang sabrina bertemu lagi dengan bagas,


Dan ini bukan kebetulan, tapi bagas telah mengawasi sabrina setiap harinya, makanya saat sabrina berada di taman sorang diri seperti ini di jadikan kesempatan bagas untuk bicara dengannya.


Bagas menjadi sangat peduli kepada sabrina setelah melihat sabrina perutnya semakin besar seperti itu, dan entah kenapa dia menjadi sangat tidak tenang setiap harinya, mungkinkah karena dia mulai merasa bersalah..?


Bagas berjalan mendekati sabrina yang duduk di kursi putih sendirian,


Kini bagas sudah duduk di samping sabrina, dan jelas saja sabrina sangat shock dengan kehadiran bagas yang sangat tiba tiba ini.


Bagas langsung menarik tangan sabrina,, yang sudah bersiap untuk pergi.


" tolong lepasin tangan gue.. "


Sabrina mencoba melepaskan cengkraman tangan bagas, tapi bagas tidak memperdulikannya.


" gue cuman mau nanyak sebentar saja " kata bagas.


" baiklah.. Cepat bicara sekarang.. "


Kata sabrina yang masih saja mencoba melepaskan tangannya.


" bisa kita bicara dengan santai..? " tanya bagas, sambil menepuk kursi meminta sabrina untuk duduk di sampingnya,


Seakan di hipnotis, sabrina menurut saja..


Kali ini rasa takutnya sedikit berkurang hanya saja dia merasa sangat emosi saat melihat wajah pria ini.


" Sabrina.. Apakah benar yang di dalam perut elo itu anak gue..? " tanya bagas hati hati..


sabrina menjadi sangat marah sekarang, bagaimana bisa dia bertanya hal seperti ini..? Bukankah ini sudah sangat jelas kalau bayi didalam perutnya adalah miliknya..


" Plaaakk..!! "


Bagas mendapat tamparan keras dari sabrina, pipinya terasa panas, tapi entah kenapa.. Bagas tak melakukan apapun.


Bagas juga bingung sekarang, kenapa dia malah merasa sangat pantas untuk di tampar.


" Gue minta maaf.. " ucap bagas,


Kini bagas benar benar sudah sadar, betapa dia menyesali semua perbuatannya, mungkin semua ini karena rasa kasihan saat melihat sabrina hamil besar, tapi hanya seorang diri..


" gue.. Gak akan pernah maafin elo... "


Ucap sabrina dengan menekan perkataannya, sabrina pergi meninggalkan bagas disana sendirian..


Apa ini..? Gue bagas.. Kenapa gue menjadi seperti ini di hadapan seorang wanita..? Bukannya gue sudah bertekad ingin memberi pelajaran saja kepada wanita ini..


Tapi kenapa.. Gue malah merasa kasihan saat ngeliat dia berjalan saja sangat susah, dan.... Aaakh...itu bukan gue banget..


Siaaall,..!!!!


Bagas menarik rambutnya sendiri dengan kasar, dan sekarang.. Dia sangat bingung dengan perasaannya sendiri.


********’


Natalia membuka hapenya, dia menscroll aplikasi sosmed di hape nya, lalu melihat lihat history teman yang ada di berandanya,


Pandangan tertuju pada pakaian bayi perempuan yang sangat lucu.


Dia tersenyum..


Anehnya.. Kenapa dia yang sangat menantikan kehadiran seorang bayi.


Kadang dia merasa geli sendiri dengan dirinya, kenapa tak kau saja yang hamil natalia...


Seseorang sedang berdiri memperhatikan kelakuan lucu natalia yang senyum senyum sendiri...


Itu doni.


Doni sudah berjalan mendekati natalia,


Natalia tersenyum melihat doni yang sudah duduk di sofa bersamanya.


Malam ini natalia menginap di apartemen sabrina, tapi sabrina belum juga pulang saat bilang ingin ke taman sebentar, jadi natalia meminta doni untuk menemaninya sebentar saja.


" lo liat apaan..? " tanya doni, sambil kepoin hape natalia, dan natalia sudah memamerkan gambar gaun bayi perempuan,


Doni langsung menggelengkan kepalanya,


" kenapa jadi elo yang gak sabaran..? " tanya doni, natalia masih saja memainkan hapenya sambil menjawab.


" karena gue suka banget bayi perempuan.. " jawabnya santai.


" kenapa gak elo aja yang hamil..? "


Tanya doni, natalia cemberut mendengar perkataan doni,


" lo pikir gampang bisa hamil..? gue gak akan bisa hamil kalo belum dapet pasangan... Elo mah enak... Udah punya pasangan.. " kata natalia.


Natalia kini terdiam, dia kembali mengingat perasaannya yang bertepuk sebelah tangan ini.


Doni hanya tersenyum mendengar perkataan natalia tadi, mungkin natalia berfikir dia bahagia bertunangan dengan angela, padahal dalam hatinya, doni sangat ingin memberontak semua keinginan keluarganya,


Sebenarnya dia sangat ingin mengatakan perasaannya kepada natalia, tapi entah kenapa lidahnya seperti tak bisa berkata apapun saat bersama wanita ini.