We Just Broke Up

We Just Broke Up
47



" kamu harus makan, bayi kita butuh gizi yang sangat baik, kalau kamu tak mau makan apa yang akan terjadi pada anakku nanti " kata bagas dengan nada angkuhnya.


Anakku.. Anakku. Selalu saja bilang anakku, dia bukan anakmu bagas.. Bukan.. Rasanya aku ingin meneriakinya dengan kata seperti itu, aku benci jika harus setiap hari melihat pria ini...


" ayo makan "


Bagas menyodorkan makanan padaku, dan kini aku mulai menerimanya, kalau bukan karena aku ingat kalau aku sedang menyusui aku tidak akan pernah menerima makanan darinya.


" anak pintar" bagas mengelus rambutku dengan lembut.


Kadang aku berfikir dia orang baik, tapi kadang dia juga sering bersikap kasar padaku, aku hanya ingin bersama inov lagi itu saja tapi rasanya segala hal menjadi sangat sulit saat aku harus bersamanya.


Tanpa sadar aku sudah menghabiskan makananku, aku memang sangat lapar tapi gengsiku terlalu gedde rasanya.


" kau sangat kelaparan, tapi kau selalu pura pura tidak lapar " kata bagas yang kini sudah mengambil piringku.


Lalu dia duduk di sampingku setelah meletakkan kembali piring bekasku.


" kau masih ingin bercerai? " tanya bagas, aku pun mengangguk dengan mantap, dan sudah jelas wajah pria itu berubah menjadi sangat menyeramkan, bukankah tadi dia bertanya apakah aku masih ingin bercerai? Tapi kenapa matanya seakan akan ingin keluar dari tempatnya setelah melihat pengakuanku.


" apakah pria itu sudah kembali? Aku tau kau sudah mulai berhubungan dengannya " kata bagas.


Jantungku seperti berhenti berdetak saat dia sudah mengetahui hubunganku dengan inov.


Tapi aku masih ingat saat aku tak sengaja berciuman dengannya, hahaa. Bagaimanapun inov adalah satu satunya orang yang aku cintai.


" kalau sampai aku tau kau tidur dengannya, kau akan tau akibatnya. " ancam bagas yang kini sudah meremas keras daguku, aku bisa merasakan tusukan dari kuku jari bagas.


Rasanya aku ingin berontak, dia bahkan juga sudah tidur dengan wanita lain saat sudah menikah denganku, ini tidak adil kan?


Bagas sudah keluar dari kamarku dan kini aku merasakan ketenangan yang amat sangat menghampiriku, bagaimana pun aku harus mencari cara agar aku bisa keluar dari sini dan pergi dari kehidupan bagas.


Kupencet nama Natalia di kontak teleponku aku bahkan sudah hampir sebulan tidak menghubungi natalia.


" hallo sabrina, bagaimana kabarmu? Apakah bagas bersikap kasar lagi padamu? " tanya natalia dari sebrang sana, aku sudah tak tahan ingin menangis mendengar pertanyaan natalia, felling dia selalu saja benar.


" aku baik baik saja " jawabku, dan aku pura-pura,


" inov.. Dia sangat khawatir padamu, kau bahkan sudah tak bisa bersamanya lagi gara gara pria jahat itu " kata natalia,


Aku tersenyum perih, entah kenapa aku seperti berada di ambang kematian.


" sampaikan padanya, berhenti berharap tentang aku, aku tak akan pernah bisa pergi dari neraka ini " kataku yang kini sudah menangis, natalia mencoba menghiburku dia berkata semua pasti akan baik baik saja, ah.. Apakah masih ada kata baik baik saja saat aku harus bersama orang yang tidak pernah aku cintai sama sekali?