We Just Broke Up

We Just Broke Up
49



Mungkin semua ini menjadi hal paling berat dalam hidup inov, semua hal yang ia anggap akan baik baik saja ternyata tak pernah benar benar baik saja.


Rencana awal yang dia buat agar Sabrina hamil adalah hanya untuk membuatnya bisa kembali dengan mudah kedalam pelukan sabrina. Lalu siapa sangka wanita itu akan menerima pernikahan yang di ajukan bagas hanya untuk sebuah pertanggung jawaban.


Cinta itu rumit, Cinta itu sakit...


Dan inov juga harus tau, bahwa tak semua hal akan sesuai dengan rencana.


Cintanya sudah hilang di rebut orang, bahkan kekuatan yang ia miliki tak akan sebanding dengan kekuatan yang perebut itu miliki.


Inov masih duduk sendiri di dalam apartemen milik Doni, ia masih belum bisa menemukan cara yang tepat untuk merebut kembali sabrina. Sebenarnya bisa saja ia mengatakan dengan mudahnya kalau bayi yang saat ini mereka rawat adalah putranya, Namun inov tak ingin mengambil resiko yang hanya akan menyulitkan sabrina.


Haruskah? haruskah ia merelakan saja sabrina bahagia bersama putranya? haruskah ia biarkan saja sabrina bersana pria yang tak punya etika itu?


Inov tak yakin, pria jahat itu berprilaku baik terhadap sabrina.


Entah kenapa inov yakin saat ini sabrina sangat tertekan dengan kehidupannya yang sekarang.


" Sabrina... apa yang saat ini kau lakukan? apakah kau baik baik saja disana? apakah dia baik terhadapmu? apakah dia tak menyakitimu sabrina? " tanyanya dengan lirih.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


kali ini.. Inov benar benar merasa frustasi.


********


Laura sedang duduk di hadapan meja bagas, ia sedang menikmati wajah tampan bagas yang sedang serius.


Entah kenapa pria ini menjadi sangat tampan saat sedang serius.


" Sudah cukup melihatku, kau bisa membuat wajahku berlubang karena melihatku dengan sangat berlebihan " kata bagas yang menyadari kalau sedang di perhatikan.


" Hahaha... entah kenapa Tuhan sangat baik padamu.... memberikan wajah tampan, dan kaya raya.. aku sangat iri " jawab laura dengan senyumannya.


Bagas tak menjawab apapun, dia bahkan masih saja fokus dengan pekerjaannya.


" kau tak perlu terburu buru bagas, proyek ini pasti akan selesai sebelum 1 tahun.. mari kita bicarakan hal yang menyenangkan saja " Ucap laura lagi.


Bagas pun berhenti setelah mendengar ucapan laura barusan.


" apa yang menyenangkan?" tanya bagas.


Ia pun sudah beranjak dan duduk di sofa di dalam kantornya, tentu saja laura ikut duduk disana.


" haha... aku masih penasaran dengan wanita cantik yang tinggal dirumahmu, apakah dia istri yang kau ceritakan dulu?" tanya laura, tentu saja ia tak tahan saat melihat pria yang selama ini ia sukai diam diam memilih wanita yang sederhana menjadi istrinya.


Bagas tersenyum mendengar pertanyaan laura barusan.


" jadi itu yang kau bilang menyenangkan? hahahaa... itu sama sekali tidak menyenangkan laura, ayolah kita bahas yang lain saja..." jawab bagas seakan tak ingin membahas wanitanya.


" aku hanya ingin tahu saja, kenapa kau memilih wanita itu menjadi istrimu? bukankah selera mu tak pernah buruk? wanita itu terlihat sangat polos dan sederhana, dia bahkan tak peduli saat aku datang dan langsung memelukmu begitu saja, aku benar benar sangat penasaran, bagaimana bisa dia tak peduli terhadap dirimu.." tanya laura penuh dengan penasaran.


Seumur hidup, yang dia tau bagas tak pernah di abaikan, bahkan banyak sekali wanita yang melakukan apa saja agar bisa hidup bersama bagas.


Bagas tersenyum sinis, ia bahkan tak habis pikir dengan wanita itu. Malah kali ini wanita itu sangat ingin meninggalkannya.


" sepertinya aku kalah kepada wanita itu laura... sepertinya aku sudah benar benar jatuh cinta pada wanita itu..." ucap bagas tanpa sadar. Dan kali ini sepertinya bagas sudah tidak tahan dengan apa yang ia rasakan.


Laura tersenyum penuh dengan arti, dan entah kenapa kali ini ia merasa puas karena bisa melihat kelemahan pria yang selama ini sangat mengganggu pikirannya.