
Ya Tuhan... Sabrina sangat cantik saat sedang serius, aku masih ingat saat dia masih bekerja di kantorku, dia sangat berbakat dan selalu berhasil dalam hal promotion produk kami, dia adalah gadis Yang sangat sempurna.
Tubuhnya masih sangat bagus meskipun sudah melahirkan bayi.
Lihat dia sudah mengikat rambutnya, ooh ya Tuhan... Dia sangat cantik.. Aku semakin ingin memeluk tubuhnya.
Dia sangat wangi dan aku sudah tak sabar ingin menciumnya.
Sabrina menolak saat ingin kucium, dan aku tau dia memang tak pernah menerima aku sampai saat ini, aku tau kejadian di masalalu masih belum bisa dia lupakan, tapi aku sudah berubah...
Dan aku sudah mulai tertarik dengan mu, dan sepertinya aku juga sudah mulai jatuh cinta padamu sabrina.
Lagi lagi... Dia menolakku, padahal aku sudah berhasil memeluk tubuhnya, dia selalu saja sewangi ini.
" Bagas.! Hentikan..!!! "
Dia sudah mendorong tubuhku, dan menjauhiku, ya.. Aku tau aku bersalah karena sudah bernafsu saat melihatnya.
" ayo.. Makan siang.. " katanya sambil terus berjalan meninggalkan aku,
Kadang aku berfikir dia masih sangat perhatian padaku, dan aku juga selalu salah paham dengan perhatiannya, kadang dia terlihat sangat menyukaiku dan kadang dia terlihat sangat benci diriku, entah kapan kau akan mencintaiku sabrina, dan aku akan tetap menunggu hingga kau benar benar mencintaiku.
Aku membawa sabrina makan diluar, dan aku juga meminta natalia menjaga baby eros dulu, hahaha aku hanya ingin makan berdua saja dulu dengan sabrina.
Aku sudah memakan makan siangku, dan sambrina memilih udang udang yang ada di piringku, aku tak tau apa yang dia lakukan, kenapa dia malah mengambil semua udang yang ada di bagianku.
" hei... Kau pikir aku tak suka udang? "
" Hei. Jangan menangis, ambillah sesukamu aku hanya bercanda barusan, "
Dan akhirnya aku mengalah, dan dia sudah memakan udangku dengan wajah yang sangat cerah, dia sangat manis kalau sudah seperti itu.
Sepertinya dia sangat suka udang dan aku harus menyetok udang segar dirumah mulai sekarang.
Setelah selesai makan siang kulihat sabrina menjadi sangat sedih, entah apa yang terjadi dengan wanita ini, kenapa moodnya selalu saja berubah seperti bunglon, dia selalu membuat aku kaget karena sikapnya yang berubah begitu cepat, sepanjang perjalanan kembali ke kantornya dia menjadi sangat murung dan sesekali aku melihatnya menangis,
Ayolah sabrina.. Lihat aku.. Apakah kau begitu ingin mengabaikan aku di sebelah mu ini? Atau kau memaksa aku untuk menurunkanmu dari mobilku?
Hei sabrina... Kau mengacuhkan aku selama makan siang tadi, dan kau tak bicara apapun selama makan siang tadi.
Apakah kau tak suka dengan makanan yang aku pesan? Atau kau sedang datang bulan hingga kau kadang sedih kadang marah secara tiba tiba...
Ayo jelaskan semuanya sabrina... Kau membuatku merasa sangat terabaikan, aku benci diperlakukan seperti ini.
" sabrina... Bisakah kau tak menekuk wajahmu seperti itu? Cepat katakan.. Apa yang kau tak suka dari makanan tadi? Atau kau tak suka dengan restoran tadi? Cepat katakan... Aku tak suka kau mengabaikan aku seperti ini, aku hanya ingin makan siang bersamamu, tapi wajahmu merusak semuanya "
Aku sudah tak tahan, aku mengatakan semuanya secara terang terangan, den entah kenapa malah membuatnya semakin menangis.
Ahh.. Sialan...
Kenapa kau menjadi sangat cengeng setelah punya anak... Kau sangat aneh sabrina.