
Inov masih duduk menunggu doni yang sejak tadi keluar bersama natalia, karena saat ini natalia sedang hamil inov harus merelakan waktu sahabatnya yang sangat sedikit kali ini.
Inov menyandarkan tubuhnya kebagian belakang sofa, matanya terus menatap keatas atap, pandangan kosong dan otaknya kembali mengingat semua memori tentang wanita yang menjadi cinta pertama baginya, entah kenapa semuanya menjadi sangat rumit karena kebodohannya, andai saja waktu itu dia tidak meniduri sabrina, andai saja dia tak setuju dengan permintaan kakeknya, andai saja dia tak perlu pergi meninggalkannya... akkhh.. entah kenapa semuanya benar benar menjadi kesalahannya, dia bahkan dengan susah payah mencoba untuk tak tidur dengan istri sahnya karena masih sangat mencintai sabrina, dia bahkan menolak dengan amat sangat saat harus tidur se ranjang dengan mantan istrinya itu, namun apa yang dia dapat? bahkan kali ini dia sudah tak bisa menyentuh sabrina lagi, bahkan dia merasa menyesal karena dulu terlalu setia pada sabrina, aah.. egois.. ya inov menjadi egois karena kali ini dia sudah tak lagi bisa bersama sabrina.
mungkin seharusnya aku tetap di luar negeri dan tak usah kembali lagi kesini, mungkin seharusnya aku tak usah bercerai saja dengan wanita itu kalau aku masih tak bisa mendapatkan sabrina lagi, apalagi yang bisa aku lakukan sekarang? sabrina sudah menikah, dan dia adalah tipe wanita yang sangat setia.. dia tak akan bisa berpisah dengan pria sialan itu...
inov menggertakkan giginya, demi apapun semua itu.. kali ini dia benar benar sangat menyesal dengan kebodohannya ini.
dalam hati paling dalam... dia masih sangat mencintai sabrina, itu masih tetap sama dan tak berubah... setidaknya dia harus berusaha lagi kan? meskipun sabrina sudah menikah seharusnya dia masih bisa merebut sabrina lagi, lagian.. bagas tak akan pernah mencintai sabrina seperti apa yang di rasakan sekarang.
" Ceklek.. "
" hei.. maaf.. gue tadi masih ke rumah sakit dulu, periksa kehamilan natalia " kata doni, lalu dia duduk di sebelah inov dan langsung meminun bir yang ada di meja, dan itu bir yang saat ini inov minum.
" lo udah bisa hubungi sabrina? " tanya doni , dia juga merasa sangat kasihan dengan kisah cinta sahabatnya ini, bagaimana dia tak kasihan saat sahabatnya malah semakin menjauh dari kekasihnya, entah kenapa saat kisah cinta doni sudah hampir berhasil tapi kisah cinta sahabatnya malah semakin berada dalam ambang perpisahan.
" sepertinya sudah tak ada jalan " jawab inov yang kini sudah semakin menyerah dengan cintanya aah tidak.. harusnya dia tidak menyerah saat harus merebut cintanya kan..?
" tunggu kabar dari natalia.. harusnya sabrina sudah menghubungi natalia kan? mereka sangat akrab.. tak mungkin sabrina tak mengetahui tentang keadaan sabrina " kata doni, sebisa mungkin dia mencoba untuk terus memberi semangat kepada inov, walaupun sebenarnya doni sudah bisa memastikan tak akan ada jalan saat dia harus bersaing dengan seorang bagas, bagas adalah pria yang memiliki kuasa penuh di kota ini, bahkan mungkin bisa di bilang tak ada yang bisa melawan seorang bagas, semua orang mengenal bagas adalah pria berkepala dingin dan sangat jahat, segala hal akan di lakukan asal dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
" elo harus tenang dulu, jangan gegabah.. gue akan bantu elo sampai selesai.. meskipun sangat sulit melawan pria sialan itu.. kita harus tetap yakin semuanya pasti bisa di selesaikan " hibur doni, dan sepertinya itu mampu membuat perasaan inov sedikit lebih tenang.