
" Braaakkkk...! "
Suara pintu di tutup dengan kasar membangunkan tidur sabrina, ia tertidur saat menemani eros di dalam kamarnya.
Sabrina melihat jam weker mungil di meja, jam sudah menunjukkan jam 11 malam, sepertinya bagas baru saja pulang.
Sabrina bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar bagas, dan ia bisa melihat bagas sudah tidur tengkurap di atas ranjangnya, Sabrina mengecilkan matanya agar bisa melihat dengan jelas seseorang yang berdiri di samping ranjangnya, dan kini mata sabrina terbuka lebar saat melihat seorang wanita cantik juga tidur di atas ranjang yang sama.
Beraninya bagas membawa seorang wanita kedalam rumah ini...
beraninya dia mabuk bersama seorang wanita
Batin sabrina, rasanya ia ingin mendorong pintu itu dan meneriaki bagas dengan sekerasnya, tapi ia sadar semua itu hanya akan menimbulkan sebuah pertengkaran.
Baiklah... biarkan saja dia hidup dengan kehidupannya, semua bukan urusanmu sabrina...
Dan itu sudah tak penting lagi untukmu, biarkan saja dia seperti itu..
semua akan semakin memudahkanmu untuk pergi darinya.
Dengan sekuat hati sabrina meninggalkan kamar bagas.
Meskipun ia tak mencintai bagas, entah kenapa rasanya ada yang sakit di bagian dadanya, rasanya ada yang sesak dan membuatnya susah untuk bernafas.
Sabrina bersyukur karena tidak membuka hatinya untuk bagas, sabrina bersyukur tak pernah berusaha untuk mencintai bagas.
Dan ternyata.. inilah jawaban dari doanya tadi, salah satu jalan sudah terbuka untuk dirinya.
Sabrina berjalan dengan riang menuju dapur, tanpa ia sadari laura melihat dirinya menuju dapur, dan itu membuat laura penasaran dengan wanita yang ternyata malah girang saat melihat suaminya bersama wanita lain.
Laura pun berjalan mengikuti sabrina menuju dapur, dan disanalah ia bisa melihat wanita cantik dan kurus itu duduk sendiri di meja.makan.
Laura terus memperhatikan sabrina yang memakan makan malamnya di jam 11 malam.
tapi kenapa bagas menyukai wanita itu? bahkan ia tak cemburu sedikitpun saat melihat aku berada di kamar suaminya.
sepertinya aku harus menyelidiki wanita ini
Batin laura.
Lalu ia berjalan masuk menuju dapur, seperti biasa laura bersikap angkuh di hadapan sabrina.
" tolong dong.. buatin aku makanan, rasanya aku capek banget seharian bersama bagas " pinta laura tanpa peduli kepada sabrina yang masih mengunyah makanannya.
Sabrina mengerutkan keningnya, dan dengan cepat sabrina memberikan ekspresi tak suka terhadap wanita yang seenak jidadnya saja memerintah dirinya.
" Anda bisa membangunkan pembantu untuk memasakkan sesuatu untuk kau makan " jawab sabrina yang tak peduli dengan laura.
Sabrina bisa melihat dengan jelas kalau wanita itu merasa sangat kesal padanya.
" aku pikir kau pembantu disini.." ucap laura dengan sinisnya.
sabrina langsung membanting sendok yang ia pegang sejak tadi hingga menimbulkan suara keras dari meja makan.
" Oh ya? apa aku terlihat seperti pembantu? lalu kau? apakah kau terlihat seperti majikan? hahaha tidak.. kau lebih terlihat seperti *******.." balas sabrina dengan penuh keberanian.
" kau tau... akulah tuan rumah disini, kau tak berhak memerintahkan aku melakukan apapun disini, kau lakukan saja apa yang kau ingin lakukan, tapi jangan pernah memerintahkan aku.... Kau bahkan bisa menjadi ******* suamiku asal jangan memerintahkan aku..." ucap sabrina penuh dengan penekanan, dan itu mampu membuat laura terdiam dan merasa sedikit takut pada sabrina.
Sabrina pun pergi meninggalkan dapur dengan perasaan kesal, bahkan sepanjang perjalanan ia ngedumbel seenaknya saja.
Laura pun tertawa setelah melihat sabrina sudah pergi dari hadapannya, ada rasa puas dalam hatinya kareba bisa melihat watak wanita yang kini menjadi saingannya.
" gue suka nih cewek kayak gini, gila pedes banget mulut tuh cewek. " ucap laura sambil membuka pintu kulkas.