We Just Broke Up

We Just Broke Up
Empat belas



Sudah lama sekali bagas tak menanyakan informasi tentang sabrina, mungkin karena dia sangat sibuk atau memang sudah tak ingin mengingat wanita itu lagi.


Hari ini dia harus bertemu klien nya yang meminta untuk bertemu di sebuah cafe yang lagi terkenal sekarang, katanya kafe ini menjadi tempat nongkrong dan makan paling enak jadi klien meminta bertemu di kafe itu saja.


Bagas berjalan memasuki kafe itu, pintu terbuka otomatis, bagas melihat sekeliling, dia tersenyum.. Benar saja.. Tempat ini memang sangat simple dan nyaman sekali, suasana yang sangat menarik dengan berbagai lukisan di dinding kafe, warna putih, abu abu, dan coklat mendominasi kafe ini..


Setelah puas menikmati ruangan kafe ini, kini matanya melihat seorang wanita yang melambaikan tangan padanya, wanita itu adalah kliennya, sekaligus teman lama saat dia sekolah di inggris.


" hai.. Bagas.. " sapa wanita itu, bagas langsung tersenyum dan mendatangi wanita itu.


" hai.. Laura apa kabar.. "


sapa bagas sambil mencium pipi kanan kiri laura.


Wanita itu tersenyum sangat senang.


" gue baik banget... Elo gimana? Wah.. Semenjak sukses elo jadi sombong dan angkuh " ucap laura,


Bagas hanya tersenyum mendengar ucapan wanita itu.


" kita pesan minuman dulu ya... Elo mau apa..? Kopi atau jus..? " tanya laura


" gue kopi aja.. " jawab bagas.


" oke... Hai permisi.. " laura melambaikan tangan kepada pelayan, dan pelayan itu berjalan mendekati mereka.


" gue pesan kopi 2 ya... Kopi capuccino.. Dan.. Elo kopi apa gas.? " tanya laura yang tak tau dengan selera bagas


" gue kopi hitam aja, gula sedikit aja.. " pesan bagas, lalu karyawan itu pergi.


" jadi... Kita mau lanjut bisnis Hotel di bali itu..? " tanya laura to the point..


" iya lanjutlah.. gue juga udah lama banget pengen punya hotel di bali "


" jadi nih.. Kita harus lanjutkan kerja sama kita "


" sip.. "


Mereka terus asik merencanakan bisnis mereka di bali, sesekali mereka tertawa bernostalgia masa sekolah mereka dulu, sampai mereka tak sadar kalau sudah hampir 2 jam berlalu.


" hahaha.. Sumpah.. Udah lama banget kita gak ketemu lagi.. Jadi sekarang elo udah punya cewek atau mungkin sudah menikah..?"


Kali ini laura membahas lebih pribadi lagi.


" gue masih belum punya pacar.. Kalo elo mau.. Gue bisa jadi pacar elo sekarang.. "


Bagas mulai merayu laura, dan kini laura sudah tertawa.


" haha.. elo masih aja suka ngerayu cewek cewek.. Dan kayaknya lo tetep sama sering gonta ganti cewek "


" yah.. begitulah.. Nasib jadi cowok ganteng "


Ucap bagas, sangat bangga


" haha itu bukan nasib... "


" tapi anugrah.. " potong bagas


Dan kini mereka tertawa lagi, sudah lama rasanya bagas tak tertawa seperti ini. Dan laura datang tiba2 saat pesta ulang tahun pernikahan sahabat papanya.


Wanita di hadapannya ini juga masih sama seperti yang dulu, dia sangat ceria dan lincah, apalahi wajah imutnya.. Dia tidak terlihat kalau sudah berusia 24tahun.


" ya udah gue ke toilet dulu.. "


pamit laura, yang di jawab dengan anggukan kepala oleh bagas, dan kini bagas menyandar kan bahunya di kursi, lalu dia kembali menikmati suasana di kafe ini, benar saja sangat nyaman,


tempat ini seakan menghipnotisnya, mungkin karena ada laura jadi dia merasa sangat nyaman,


Dan sekarang, matanya tertuju pada seorang wanita hamil yang sedang tertawa dengan dua orang pria, jantungnya seperti berhenti berdetak, entah kenapa rasanya ada yang sesak saat melihat wanita itu, ya.. Itu sabrina, wanita itu sedang tertawa, dan bagas bisa melihat dengan jelas pria di sampingnya itu mengelus perut sabrina, dan sabrina tertawa sambil memukul bahu pria itu,


Tunggu dulu.. Apakah wanita sombong ini sudah menikah...? Kenapa bisa gue gak tau? Beraninya dia menikah dengan orang lain saat dia hamil anak gue.


Rahang bagas mengeras, rasanya dia ingin marah sekarang, tapi otaknya berfikir lagi..


Tentu saja dia sangat tenang kan..? Bukankah wanita itu pantas di siksa karena ke sombongannya.


Tapi, bagas merasa tidak tenang saat para pria itu memperlakukan sabrina sangat baik,


Entah kenapa dia menjadi sangat emosi, mungkinkah karena gen nya harus berada di tangan pria lain..?


" bagas.. Lo liatin apa..? " suara sabrina mengagetkannya, dengan terpaksa bagas mengalihkan pandangannya,


Sungguh dalam hatinya sangat tidak rela melihat sabrina begitu bahagia.