We Just Broke Up

We Just Broke Up
37



Aku berjalan menuju apartemen Doni, aku harus mengatakan kalau natalia sedang merasa tak enak badan, ya.. Ini sudah persetujuan natalia sendiri, dia takut untuk mengatakan kalau dia sedang hamil.


Kupencet tombol bel apartemen doni, tak lama kemudian pintu sudah terbuka, dan kulihat Angela disana sedang menangis, dan aku yakin doni sudah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati wanita ini.


" sabrina.. " katanya setelah melihatku sudah berdiri di hadapannya.


Sebenarnya aku merasa kasihan saat melihat angela seperti ini, dan aku juga sangat yakin angela sudah sangat menyukai doni, bagaimana tidak, jika dia sudah bertemu dengan pria ganteng dan juga mapan, semua wanita pasti akan jatuh hati padanya.


" jadi.. Wanita ini yang sudah membuatmu ingin pergi dariku? " tanya angela, aku sangat kaget karena dia sudah salah paham sekarang.


" Angela.. Sepertinya kamu sudah salah paham " kataku, tapi kali ini angela tak peduli, dia sudah datang dan menarik rambutku, oh ya Tuhan.. Ini salah paham


" tak mungkin aku salah... Kau sudah merebut doni, dan kau sudah tidur dengannya kan.. " dia masih menarik rambutku, sedangkan doni mencoba menarik angela agar menjauh dariku, apa apa an ini.. Kenapa dia malah curiga padaku.


Angela sudah melepaskan tangannya ya Tuhan.. Ini sakit sekali sepertinya rambutku sudah lepas semua.


" Bukan dia.. Kau.. Jangan bodoh angela.. Kita memang tak pernah saling suka sejak awal.. " kata doni lagi, tapi angela tak menggubris dan dia masih saja mencurigai aku adalah wanita yang doni sukai, lalu doni menarik paksa angela keluar dari apartemennya.


Aku sudah terduduk lemas, aku tak percaya mendapat hadiah jambakan saat aku datang kesini, sebenarnya aku ingin mengatakan kalau natalia sedang hamil, tapi sepertinya bukan hari ini.


Kudengar pintu apartemen doni terbuka lagi, tapi kali ini bukan doni, jantungku sepertinya sudah berhenti berdetak saat melihat seorang pria yang juga sudah sama kagetnya saat melihatku,


Perasaan ini tak bisa aku jelaskan, sepertinya aku sudah sangat lelah hingga akhirnya aku merasa pria yang membuka pintu adalah inov, tapi... apakah dia benar benar inov..? Atau pandanganku sudah kabur karena di jambak wanita tadi? bagaimana bisaa di saat seperti ini aku memikirkan inov..?


Tunggu.. Apakah dia benar benar inov..?


" Sabrina... "


Suara inov, ini benar benar inov... Dia sudah kembali kan? Dia sudah kembali untuk mencariku kan? Ya Tuhan... Ini benar benar inov...


Aku sudah berlari dan memeluk tubuh yang sudah lama aku rindukan, aku sangat merindukannya hingga aku tak bisa tidur dengan nyenyak saat memikirkannya...


Inov sudah kembali...


Inov membalas pelukanku, dan aku tak ingin melepaskan pelukan ini untuk beberapa menit atau beberpa jam saja...


Aku rindu... Sangat rindu...


Waktu.. Bisakah kau berhenti sejenak? Biarkan aku tetap dalam pelukannya untuk kali ini saja... Aku mohon... Hentikan waktu untukku....


Betapa aku sangat merindukan pria ini, di setiap detik aku masih selalu mengingatnya, bahkan perasaan ini masih tak pernah berubah...


Aku masih sangat mencintai pria ini, dan aku akan tetap mencintai pria ini....


Meskipun semua ini sudah terlambat.. Tapi Tak bisa kah aku perbaiki semua ini sekarang..?


Aku ingin egois pada takdirku, aku ingin hidup bersamanya meskipun aku harus berkorban hidupku ini....


Waktu... Tolong berhentilah....