
Pria itu kaget saat melihatku, dan tentu saja sama kagetnya denganku, sepertinya dia semakin kaget saat melihat tubuhku yang sudah berbadan dua seperti ini.
" kau hamil? " tanyanya dengan wajah yang tak yakin dengan apa yang sudah dia lihat, dan aku hanya menagguk saja.
Dia adalah Bastian kakak kandung inov, yang aku ingat dulu dia adalah satu satunya orang yang sering menggoda inov, dia selalu berkata jangan terlalu sering ketemu nanti bosan, dan aku tak pernah suka dengan perkataan itu, sebnarnya Aku sangat menyegani kak bastian, karena dia terlihat sangat berwibawa, mungkin karena dia sudah menjadi presedir di perusahaan, jadi wajah tegasnya sangat terlihat.
Dan aku yakin.. Pria tampan yang karyawan tadi bicarakan adalah kak bastian, tentu saja dia sangat tampan.
" Tunggu.. Apakah inov tidak menghubungimu lagi? " tanyanya, dan aku menggeleng lagi, dan aku tau dialah orang yang tak mau memberikan kabarku pada inov, mungkin bisa di katakan aku sangat kesal padanya, tapi aku masih saja menyeganinya.
" inov sudah menikah " katanya lagi, dan aku bisa melihat ekspresi kak bastian yang mungkin sebenarnya ingin mengatakan, inov sudah menikah, kau jangan coba coba untuk menganggunya.
Aku tau kau tak sebaik yang aku kira. Kau jahat, kau yang mencoba memisahkan aku dengan inov kan?
" aku sudah tau kak " jawabku aku mencoba tak peduli padanya, karena aku tau dia tak pernah menyukai aku.
" bayi itu.. Bayi di perutmu itu apakah hasil hubunganmu dengan inov? " tanyanya.
Dan pertanyaan itu membuatku tersenyum kecut, awalnya aku berharap bayi ini adalah milik inov, tapi kenyataan membuatku ingin mati saja.
" cepat katakan..!! Aku takut kau akan datang lagi dalam kehidupan inov! " katanya dan dia sudah mengeraskan suaranya, dan dia masih memegang bahuku.
Dan aku yakin hanya itulah yang ada didalam otak kak bastian, dan kau beruntung kak, bayi ini bukan milik inov.. Tapi bagas.
" kau tenang saja, aku juga sudah menikah kataku "
Aku sudah menjauh dari kak bastian, dan mataku berhenti pada sosok bagas yang sudah melotot disana, sepertinya dia sudah melihat apa yang kak bastian lakukan.
" apa yang kau lakukan pada istriku " tanya bagas, dia sudah menarik tubuhku kedalam pelukannya.
" jadi kau suaminya.. " tanya bastian, seakan dia meremehkan sosok bagas ini, dia tak tau kalau bagas bisa melakukan apa saja saar dia sedang marah.
" bagas.. Ayo kita pulang " ajakku, dan aku mencoba untuk menghindari pertengkaran antara mereka.
" siapa dia..? Apakah dia mantan pacarmu? " tanya bagas, dan dia juga terlihat berfikir keras.
" tapi.. Bukan dia yang memukul aku saat kejadian itu " katanya,
Sepertinya dia mengingat wajah inov yang menolongku saat kejadian kemarin.
" hmm baiklah.. Kau bukan dia "
Dan aku lega karena bagas sudah menarik tanganku dan membawaku pergi dari sana, entah kenapa aku menjadi sangat takut saat bagas bersikap sangat dingin.
Padahal aku belum bertemu natalia dan juga sahabatku yang lainnya, tapi bagas sudah menjemputku siang ini, aku sudah berjanji akan nongkrong di kafe sampai jam makan malam tiba.
" bagas... Kita mau kemana? Aku belum bertemu natalia hari ini " kataku, dan seperti biasa dia tak peduli.
" aku tak peduli, yang pasti aku sudah mengijinkanmu keluar hari ini "
Dan kau maha benar bagas, kau tak akan pernah membiarkan aku hidup damai kan..?