
"S–s...SUAMI KATAMU?!"
Suaranya membuat seluruh Desa yang tadinya penuh tawa dan keramaian saat ini dibuat sepi dan hening seketika.
...
"E—eh, Sylvia? Kenapa kau ada disini?"
Ucap Shoji
"Maaf! Aku tidak sengaja, bukan.. maksudku, aku reflek saja.." jelas Sylvia dengan nada yang panik dan wajahnya yang memerah.
Kemudian setelah itu para warga dan semuanya yang berada dibawah bersorak gembira
"Tuan memiliki Nyonya!"
"Ahahaha, Tuan mendapatkan jodohnya!"
"Semangat Nona Sylvia! Jangan menyerah!"
Mendengar teriakan mereka, Sylvia kembali berteriak mengatakan.
"BERISIK KALIAN!! Humph..!"
Yang tadinya ramai kini dibuat tenang kembali hanya dalam satu teriakannya, dia hebat!
Dari dalam hati, Sylvia sebenarnya juga ingin mengatakan hal yang sama seperti hal yang dikatakan oleh ibunya Rara dari jauh-jauh hari, namun sampai saat ini dirinya hanya memendam perasaan itu, bermaksud untuk menunggu waktu dan momentum yang pas.
Tentu saja hal yang barusan dipikirkan Sylvia saat ini, telah diketahui oleh Shoji melalui sihir pembaca pikirannya.
Mendengar perkataan hati dari Sylvia yang seperti itu, Shoji merasa tidak enak
Shoji tiba-tiba tidak tahu harus berbuat apa, dia meminta saran kepada Astaroth.
"Hei Astaroth, apa yang harus kulakukan?"
"..."
Dia tidak menjawabnya.
Abaddon yang menyaksikan dari jauh sedang duduk meminum segelas anggur berkata.
"Anggur yang cukup unik, aku menyukainya."
Itu tidak ada hubungannya dengan situasi ini!
..
Kembali, Shoji menatap mata Eris dan Sylvia, dia mengatakannya bermaksud agar tidak menyakiti hati seorang pun dari mereka.
"Ibu Ra– ekhm. Maksudku Eris dan kau, Sylvia. Aku sungguh tidak tahu harus menjawab apa di situasi saat ini.."
"Iya, tuan?"
"I–iya, ada apa Tuan Shoji??"
Dirinya mulai memegang tangan kanan Eris dan tangan kiri Sylvia sambil berkata dengan wajahnya yang serius, dia menjelaskan sebagian tujuannya kepada mereka berdua.
"Sejak awal aku datang di dunia ini, aku memiliki sesuatu yang harus aku capai apapun yang terjadi, aku memiliki tujuan yang egois, aku bisa dipastikan adalah orang yang egois yang membuang segala macam urusan lain untuk mencapai satu tujuan, aku adalah pria yang buruk, dan ini adalah pertamakali nya dalam hidupku aku mendapatkan pernyataan cinta, jujur, aku tidak tahu harus mengatakan apa.. aku yang egois ini tidak dapat melakukan hubungan yang kalian bayangkan, setelah melalui banyak peristiwa, aku menyadari bahwa peran ku di dunia ini hanya sebagai simbol, entah sebagai simbol kekuatan ataupun yang lainnya, tujuanku hanya ingin bertemu kembali dengannya, kembali bersama dan bercanda, jadi..."
Disini, Sylvia menundukkan kepalanya, begitupun dengan Eris, itu adalah ekspresi wajah yang murung, Shoji takut perkataannya barusan telah menyakiti hati mereka.
"?! E–eh? Maafkan aku, aku tidak tahu jika akan seperti ini, sungguh.." diapun menundukkan badannya dan memegang pundak mereka.
Yang sebenarnya saat ini, baru saja sedang dipikirkan oleh Eris dan Sylvia adalah..
"Jadi begitu.. tuan sudah memiliki kekasih.."
Itu yang dipikirkan oleh mereka!
Shoji mendengarnya dan ia kembali menjelaskan.
"T–tidak, emm.. maksudku..."
Belum selesai menjelaskan, Eris dan Sylvia mengangkat kepala mereka dan memasang wajah penuh pengharapan, terlihat dari pupil mata mereka yang membesar.
Dalam hati, Shoji mengatakan.
"Oh ya ampun, betapa payahnya adikmu ini untuk merangkai kata, kak.."
Dia berkata.
"Seseorang itu adalah Kakak ku, saat ini dirinya sedang berada di suatu tempat yang sangat jauh, sangat jauh sampai tidak dapat dipikirkan oleh akal sehat, dia sedang kesepian, dia menungguku disana padahal itu adalah sesuatu yang mustahil, aku bahkan tidak ingin membayangkan apa ekspresi yang dia tunjukkan sekarang, yang kuingat hanyalah dia adalah kakak yang tomboi, perhatian, dan jago bermain game, aku yang kalian kenal kuat ini bahkan bisa dikalahkan olehnya,... "
Melihat itu, Sylvia mengusap air mata diwajahnya, disambung dengan Eris yang melakukan hal yang sama.
"E..eh? Ada apa?"
Eris tersenyum dan berkata.
"Kakakmu aku yakin dia adalah kakak yang baik, kamu bukan anak yang egois, aku berbicara sebagai seorang ibu... kamu adalah anak yang baik, Shoji..."
Tiba-tiba Eris memeluk Shoji seperti memeluk Rara, Eris berbicara sebagai seorang ibu.
"E-Eris?"
Kemudian Sylvia juga mengatakan sambil memegang tangan Shoji dan menempatkan tangan Shoji di pipi sebelah kanannya.
"Dari semuanya, setelah semua yang kau lakukan, setiap kebahagiaan yang kau berikan kepada mereka-mereka yang kau tolong termasuk aku, aku tidak menganggap dirimu adalah seorang yang buruk, bahkan tidak sedikitpun, Tuan Shoji... aku cukup yakin bahwa aku adalah orang pertama yang mengagumi mu sejak berada di pegunungan Roll, saat itu kamu membuka mataku, kamu bahkan membawa ku keluar dari zona nyaman yang bahkan aku tidak mengetahuinya sama sekali, aku ingin berterimakasih namun aku tidak memiliki cukup hal untuk melakukannya, oleh karena itu... izinkan aku membantumu dan bawalah aku bersamamu, tidak peduli apapun yang terjadi, kumohon."
"Sylvia...."
Sylvia berbicara dengan nada yang serius, Eris melepaskan pelukannya dan dia berkata.
"Shoji, maaf jika terasa lancang, namun aku hanya ingin tahu, apakah kedua orang tua kalian telah tiada?" Eris memberanikan diri untuk mengatakan topik yang sensitif!
".... benar, mereka telah tiada sejak aku SD.. mungkin SMP? Maaf sepertinya aku lupa.."
Mendengarnya, Mata Eris menatap Shoji dengan tatapan yang halus sambil berkata.
"Kalau begitu, jadikanlah aku ibu kalian berdua, setelah kalian bertemu.. aku ingin merawat kalian dan berkumpul bersama sebagai keluarga, kalian terlalu cepat untuk merasa sendiri.. sebagai seorang ibu, aku tidak dapat menahan diri jika melihat anakku menangis, dan kau tahu? kalian juga akan memiliki seorang adik, hihihi.."
Shoji merasa nyaman dengan perkataannya dan dia merasa tenang dalem pelukannya, Shoji kembali menggenggam tangan Sylvia dan Eris sambil berkata.
"Maafkan aku telah berperilaku seperti seorang pecundang! Sebagai kekasih... atau bahkan sebagai seorang ibu, apapun... Aku akan menjaga kalian dalam hidupku! Aku akan membawa kalian, melindungi kalian dan menyayangi kalian selama aku hidup! Kalian berdua, apakah kalian menginginkannya?"
Eris dan Sylvia saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.
Setelah itu mereka berdua memeluk Shoji dan berkata.
"Tentu, Anakku!"
"Tentu saja Tuan!"
..
"Terimakasih, Sylvia.. Eris"
..
Dalam momen yang menghangatkan itu, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak, itu adalah...
"Yey, akhirnya Kak Shoji menjadi ayahku! hahahaha"
Itu adalah Rara.
Melihat itu, Eris mengelus kepala Rara dan berkata.
"Maaf ya Anakku, jika itu yang kau katakan berarti aku telah merebut kakakmu.."
Rara mengatakan.
"Itu masih belum! Rara akan tumbuh menjadi wanita yang lebih kuat dan tidak lebih cantik dari ibu tapi cukup cantik, lalu setelah itu Rara akan menikahi kak Shoji."
Didalam hati, Shoji yang mendengar ini merasa heran.
"Apakah dia benar-benar seorang anak kecil? Pemikirannya terlalu terbuka, kau benar-benar membingungkan, Rara."
....
Situasi tanpa disadari masih menjadi sunyi, Shoji, Eris, dan Sylvia menjadi pusat perhatian semuanya bahkan para jenderal iblis hingga Abaddon itu sendiri!
Tiba-tiba dari jauh ada seseorang yang berteriak menghidupkan kembali suasana yang mati, dia adalah Roxxie!
"Wwouushhhoiy! Tuan memiliki ibu muda Ahahahah! Apa yang kalian tunggu para orang-orang bodoh? Ini adalah PESTA BESAR UNTUK NYONYA SHOJI DAN .... YA, ITULAH! HAHAHAHAH.."
Dapat dipastikan dia sedang dalam kondisi mabuk.
"Dia tidak menyebutkan namaku? Hmm!!!???"
Sylvia akan memukulnya dengan keras.
....
Sekali lagi, Shoji beserta rekan-rekannya melaksanakan pesta besar untuk yang terakhir kalinya...