TWO VOID: Timeline Shoji

TWO VOID: Timeline Shoji
Takdir Demi-Human, Rara adalah anak yang baik.



" apakah aku sebegitu menyeramkan nya untuk di lihat?.."


Shoji tidak mengetahui bahwa Avidite telah muncul dan berterbangan di langit atas kepalanya.


".. jadi begitu, Ini adalah tempat mu bersembunyi ya, Vide.., tuan ku berjalan menuju ke tempat kematian mu, sampai saatnya tiba aku akan menjadi zirah dan pedang bagi tuanku, kalian para Dewa sebaiknya waspada, Hahaha,.."


Avidite kembali terbang jauh ke atas langit dan menghilang.


Astaroth merasakannya, merasakan sesosok kuat yang mengintai Shoji dari kejauhan.


".. Hmmph...."


Ia tidak berniat untuk memberitahu Shoji, tidak. Ini seperti dia tertahan dan tidak bisa memberitahukannya.


Saat ini, seluruh bangsawan di kerajaan Durui telah mengalami kelumpuhan yang tidak diketahui sebabnya.


Shoji melihat itu dari atas sambil menjaga sang bocah Beastman.


Bocah itu terlihat ketakutan akan ketinggian.


Dia gemetaran.


" Apa kau tidak apa-apa? "


Tanya Shoji untuk menenangkannya.


".. uhm...mm.."


Beastman itu mengangguk.


Tidak nyaman juga untuk selalu memanggilnya Beastman, Shoji bertanya kepada nya..


".. em, siapa nama mu?..."


".. aku, Rara... Aku Rara.."


".. Rara, Terimakasih atas perasaan mu yang ingin menyelamatkan ku sebelumnya, aku senang..."


Shoji mengelus kepala Rara.


Rara merasa nyaman bersama dengan Shoji.


Namun di tengah-tengah itu, Rara teringat akan ibu nya yang sedang dalam kondisi sakit.


".. k.kakak, ibu..... Maaf, Turunkan aku, ibu pasti menunggu ku kembali..."


".. oh iya.."


Shoji mengingat bahwa ibunya Rara sedang dalam kondisi sakit.


Kemudian ia turun dan sampai pada permukaan tanah.


".. Rara, bisa beritahu aku dimana tempat tinggal mu?.."


Shoji merasa dia harus membantu Rara, ia tidak dapat mengabaikannya lebih lama lagi, karena sudah terlanjur kelepasan, jadi Shoji akan terima apapun hasil yang dihasilkan.


Disini Rara sepertinya sedikit ragu untuk mengatakannya.


Itu ditandai dengan tatapan matanya yang tiba-tiba mengarah ke bawah.


" Ada apa? Jika kau tidak nyaman maka aku tidak akan memaksa.."


"..B..bukan begitu, hanya saja...."


Setelah itu Rara menceritakan semua tentang ibunya, pada saat bersamaan para bangsawan masih saja dalam kelumpuhan.


".. aku tidak percaya... Ini begitu menyakitkan untuk mu..."


Kata Shoji.


Apa isi dari penjelasan Rara? Berikut.


Rara bercerita kepada Shoji bahwa ibunya sedang dalam keadaan sakit yang tidak bisa disembuhkan, berbagai obat telah ia berikan, makan dan minum telah ia laksanakan kepada ibunya, tetapi ibunya masih tetap belum membuka matanya, dalam kasus ini sepertinya ibunya Rara mengalami koma.


belum selesai, Rara juga menceritakan segala hal yang ibunya alami sebelum ibunya sakit.


".. waktu itu... Ibu mengajak ku berjalan-jalan di taman kota pada sore hari, kami sambil memakan Roti sisa.. kami bergandengan tangan bersama, ayah kami telah meninggal sejak aku masih didalam kandungan kata ibu, sampai akhirnya ada seorang bangsawan yang tertarik dengan ibuku, dia terus menggodanya didepan mata ku, aku... Aku tidak menyukainya, aku berusaha untuk mendorong bangsawan itu untuk menjauh dari ibuku, tetapi aku justru ditendang dan terjatuh, ibu ku menangis, Bangsawan itu membawa ibu ku ke rumah ku, aku ditinggalkan di taman... Setelah itu .. setelah aku sampai dirumah ..... Itu......"


Didalam hati, Shoji merasa sangat sesak.


".. setelah itu?......"


".. Setelah itu aku melihat ibu ku pingsan dengan baju nya yang berantakan, bangsawan itu pergi sambil berkata wanita bau yang lemah, kepala ibu ku juga banyak bekas pukulan, padahal ibu ku sangat baik.... Tetapi kenapa..... {Hikksss}}}... Sejak saat itulah ibuku tertidur dengan sangat lama,... Tapi ya... Tapi, dia belum... Ibuku masih bernafas!..."


Shoji terdiam.


".. k..kakak???.."


Shoji merasa sangat sakit di dada, perasaan itu tidak dapat ia tahan, Shoji berdecik.


" Tck!..."


".. ada apa, kak?... Kalau begitu, Aku akan pergi, ibu butuh aku...."


Rara ingin segera pergi namun Shoji menahan tangannya dengan keras.


".. s..sakit, kakak, lepaskan aku..."


Shoji sadar tindakannya itu menyakiti Rara, dan ia melepaskannya.


".. m.. maaf, hanya saja, bawalah aku bersamamu menuju ibu mu..."


Rara tidak tahu apa yang dibicarakannya, padahal hanya sekedar budak, tetapi mengapa ada yang peduli kepada mereka? Itu yang dipikirkannya.


" Emm..."


Rara kebingungan, ia cemas apakah Shoji akan menyakiti ibunya.


".. jangan khawatir, kumohon, bawalah aku .. sepertinya aku dapat membantu menyembuhkan penyakit nakal ibu mu, dengar! Aku akan menghancurkan penyakit itu dan membuat kalian bersama kembali, ya... Sepertinya itu lebih baik.."


Setelah itu Shoji tersenyum tulus kepada Rara..


".. ehmmm... Tapi..."


Rara merasa takut akan tatapan dan ancaman para bangsawan kepadanya.


".. percaya padaku!..."


"..em..... B-baiklah, kakak.. ikuti aku..."


Berjalan dengan kaki yang gemetaran seperti itu, Rara adalah anak yang baik, dia harusnya bermain dan tertawa... Tetapi tempat ini menghancurkan semuanya...


Rara sudah berjalan didepan Shoji, dibelakang ia melihat langkah kecil Rara itu menenangkan..


".. Rara..."


Saat ini, sebuah fakta besar telah tercipta, pasalnya.. seluruh Bangsawan di kerajaan Durui telah lumpuh tanpa sebab.


Shoji dan Rara berjalan melewati mereka.


Ketika ada salah satu bangsawan yang memaki Rara di perjalanan, reaksi Shoji menjadi menyeramkan.


".. ini pasti ulahmu dasar budak iblis!!!"..


"... Mm..ehmm....."


".. hei! Jawab aku! Berani sekali kau berjalan memandang rendah kami!.."


Bangsawan tersebut memegang kaki kiri Rara hingga ia terjatuh.


".. A..aduh, s..sakit.!!!..."


Ketika bangsawan tersebut murka dan ingin segera menusuk kaki Rara dengan pisau di tangannya.


Pada detik inilah Shoji menghancurkannya.


Shoji menatap mata bangsawan tersebut dengan tatapan dingin, dan dengan sekejap tubuh bangsawan tersebut terpotong-potong.


Seperti bilah angin yang memotong.


".. diam lah, sampah..."


Ucapnya dengan suara rendah merendahkan.


Bangsawan di sekitar merasa sangat ketakutan, seharusnya mereka sedang dalam kondisi tidak bisa sombong, tetapi sorakan demi sorakan terdengar.


Tidak lain dan bukan adalah hinaan untuk Rara, mereka mengecap Rara sebagai Beastman pemuja iblis.


Karena Rara sudah biasa mendapatkan perlakuan buruk seperti ini, Rara bisa mengabaikannya.


Ini adalah hasil dari tidak menahan diri, Shoji sudah tidak memiliki perasaan kasihan kepada seluruh bangsawan kerajaan Durui.


Rara melihat kejadian non normal tersebut dengan mata kepalanya sendiri, hal yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata telah membungkam mulutnya..


"..i..itu..."


".. sekarang berdirilah, pegang tangan ku dan mari kita lanjutkan..."


Shoji menjulurkan tangannya untuk membantu Rara berdiri.


".. i..iya..."


Rara memegang tangan Shoji dan mereka menuju ke rumah Rara.


( untuk cerita selanjutnya, Ras Beastman akan disebut sebagai Demi-Human )


Sementara itu suasana didalam istana kerajaan Durui.


Raja Karo terlihat marah, dia berkali-kali mencengkram kuat pegangan singgasananya.


Nampaknya Raja Karo sedang berbicara kepada Deraies mengenai siapa orang yang sedang membuat keributan di pusat kota.


".. Dera! Jelaskan padaku siapa orang yang berani berbuat onar di wilayah ku!.."


Deraies menjawab dengan posisi tegak hormat.


". Baik, sepertinya penyebab utamanya itu adalah orang luar, bisa dikatakan sebagai *******..."


".. BERANI SEKALI!!!!..."


Raja Karo melempar cangkir bernilai tinggi hingga pecah membentur lantai.


".. PERINTAHKAN DABEHON!!! AKU YAKIN DIA DAPAT MENYELESAIKAN INI DENGAN CEPAT!!!..."


Terdiam...


Tidak ada respon...


".. HAH? Ada apa?! Hei Dera!! Katakan sesuatu!..."


Dera menjawab dengan gugup.


" B..begini y..yang mu...-.."


Sebelum Dera menyelesaikan ucapannya, Tannala maju ke hadapan Raja Karo untuk menjelaskan semua yang terjadi di Medan pertarungan.


".. kau pasti memiliki penjelasan ya, Tannala .. katakan!.."


".. maaf sebelumnya Raja, langsung pada intinya aku mengatakan Dabehon saat ini telah tiada..."


Suasana tiba-tiba hening.


".. J...jangan berbicara omong kosong dihadapan ku Tannala!! Tidak ada yang memberitahukan kepada ku sebelumnya!..."


Raja Karo tidak, sangat tidak mempercayainya.


".. maaf tetapi itulah kenyataannya..."


".. kau berbohong! Lantas ledakan besar apa yang saat itu terjadi di depan kerajaan ini?! Lebih dari itu, Siapa yang dapat menahan serangan besar itu selain Dabehon?! Kuharap kau memiliki penjelasan kuat kepada ku.."


Raja Karo menginginkan penjelasan.


".. Baiklah, mohon dengarkan aku baik-baik...."


Tannala sedang memberikan sebuah penjelasan terhadap keadaan yang terjadi sebelumnya di medan perang.


.........


...........


..........


........


...Setelah 1 jam berlalu, situasi didalam ruangan sang Raja berubah drastis....


"... A.. apa apaan orang itu?! B... bagaimana cara mengalahkannya!..."


Raja Karo penuh dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya.


Deraies juga memiliki reaksi yang sama, dirinya gemetaran dan tidak percaya para Sanzein bisa di kalahkan.


Setelah selesai dengan penjelasannya, Tannala langsung pergi berjalan keluar dari ruangan Raja dan meninggalkan sang Raja dalam kecemasan.


...


" Kakak, hanya beberapa saat lagi untuk sampai kerumah ku, etto..... Emm...."


***Suara perut lapar..


"..M..maaf, aku tidak bermaksud...."


Rara berhenti berjalan dan dia seperti gugup akan sesuatu sambil memegangi perutnya.


Setelah melewati banyak kejadian aneh, bagi seorang anak-anak tentu saja itu adalah tanda bahwa mereka sedang merasa lapar.


Shoji tersenyum kepada Rara.


"... Ingin memakan sesuatu dulu? "


..


Setelah menemui toko yang menjual makanan, Shoji dan Rara masuk ke dalam sebuah Restoran sederhana untuk memesan makanan.


Walaupun di dalam restoran tersebut hanya ada mereka berdua, Rara nampak tidak nyaman karena ini kali pertama dirinya untuk memakan makanan normal.


".. ada apa, Rara?..."


".. e..enggak.."


Dan Shoji berjalan menuju tempat seorang pelayan untuk memesan makanan.


Sebelum memesan, Shoji melihat daftar makanan yang tersedia di papan besar yang tertulis di belakang.


".. t..tunggu! Apa itu ayam bakar?!..."


Shoji terkejut dengan salah satu daftar yang ada.


".. benar, nak.. ada apa dengan itu?..."


".. t..tidak, aku ingin itu sa,-.. dua! .."


".. baiklah, silahkan duduk terlebih dahulu.."


Didalam hati, Shoji merasa pelayan ini berbeda dengan para bangsawan.


Dia tidak merasakan rasa diskriminasi terhadap Rara, seperti... Mereka diperlakukan normal sama rata.


..


.


Shoji berjalan menuju tempat duduknya, setelah menemukan tempat yang cocok, dia pun duduk.


".. Rara, jangan berdiri saja, cepat kesini.. "


"..B..Baik!.."


..


Setelah menunggu beberapa menit, pesanan mereka telah sampai!


".. silahkan ayam bakarnya.."


" Ffwoahh!!..."


Rara nampak menyukainya.


".. maaf, apa ada minum? Karena aku tidak melihatnya di papan itu..."


".. kami menyediakannya, namun hanya jus jeruk dan teh saja.."


".. baiklah, aku teh 1 dan kau ingin apa, em.... Rara-san?.."


" !!Fwwuaahhhh~~~"


Shoji melihat Rara begitu memandangi ayam bakarnya dengan mata yang menyala-nyala!


".. Rara, kau ingin Teh atau jus jeruk?.."


". Eh?!! Maafkan aku!... aku jadi mengabaikan kakak..."


".. sudah tidak apa, jadi, apa yang kau mau??..."


"... emm.. aku ingin jeruk, tapi apa bisa dimakan? "


".. tentu saja, memangnya kau belum pernah memakan jeruk?.."


". Aku pernah melihatnya ketika sedang berjalan-jalan dan melihat ada benda oranye yang anak-anak bangsawan itu sebut dengan Jeruk, mereka tidak memakannya tapi melemparkan jeruk.."


".. Begitukah... Yasudah, kalau begitu Aku Teh satu dan Rara jus jeruk satu..."


".. baiklah, silahkan ditunggu..."


...


Sembari menunggu pesanan minumannya datang, Rara masih belum berani untuk memakannya begitu saja tanpa perintah Shoji.


".. jangan dilihat saja, kau bisa memakannya sekarang..."


".. ba..baiklah..."


Kemudian Rara memakannya dengan bahagia.


".. wuaahh~~ apa ini???? enak sekali~.."


Melihat Rara sedang makan dengan suasana bahagianya, membuat Shoji merasa apakah ini yang dirasakan Kakaknya ketika melihat Shoji memakan masakannya dengan senang?


Didalam hati, Shoji berkata.


".. Rara adalah anak yang baik dan ceria, walaupun begitu kenapa takdir berkata ras Demi-Human adalah menjadi Budak? Omong kosong, mereka bertindak layaknya bidak catur dan pemainnya adalah para dewa,.."