
Mereka berempat melanjutkan perjalanannya menuju ke kerajaan Durui..
".. sudah cukup dekat dengan pintu masuk kerajaan Durui, tuan.. dan kupikir sudah saatnya pengintai kerajaan Durui yang berada di depan bisa melihat kita, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?..."
Ryzen baru saja menjelaskan bahwa mereka kini telah masuk kawasan kerajaan Durui, beberapa jam setelah penangkapan Tiger King sebelumnya, mereka sudah melanjutkan perjalanannya cukup lama dan telah sampai di titik pasukan pengintai dapat melihat mereka ..
".. hmm... ( Aku sudah merasakan sesuatu yang hebat muncul di depan sana, seperti menunggu? Ini bukan sesuatu yang baik ).." ucap Shoji..
Astaroth merasakan keraguan di dalam diri Shoji, ia berkata
".. jadi, apa?.. aku tidak berpikir setelah sejauh ini kau akan mundur bukan? Dewa Vide berada di dalam kerajaan Durui.."
".. Astaroth..."
....
".. tuan, ada apa? Perlu istirahat sebentar?.." Sylvia melihat Shoji berjalan sambil memegangi dagunya..
".. terimakasih Sylvia, benar, aku merasakannya...."
" Merasakan apa?..." Tanya Sylvia..
".. Tiga dari mereka yang menunggu kita, aura membunuh mereka entah kenapa aku sudah dapat menciumnya... Sylvia, mungkin akan terjadi sedikit pertarungan, apa kau sebaiknya tidak tunggu di sini saja?..." Jelas Shoji yang sebelumnya masih berjalan didalam hutan kini dirinya telah keluar dari Hutan dan sudah kelihatan dinding besar kerajaan Durui, Shoji khawatir dengan Sylvia.
...
...
..
Dengan mata yang penuh percaya diri, Sylvia berjalan dan berhenti didepan Shoji untuk mengatakan..
".. maaf aku harus menolaknya, tuan,... Mohon hentikan melihatku sebagai wanita lemah, setelah semua yang terjadi..aku ingin bertarung disamping mu dengan segenap kekuatan!..."
Sylvia memiliki Tekad yang kuat untuk bertarung bersama Shoji..
".. Sylvia......"
Shoji tersenyum..
".. kalau begitu, bagaimana menurutmu, Roxxie?..." Ucap Shoji
".. kau benar tuan, jarak ini sekitar dua pu... Delapan belas kilometer dari sana dan mereka semua benar-benar memusuhi kita ! Apa-apaan ini?! Padahal kami belum melakukan apapun!.."
Didalam hati, Ryzen berkata ...
".. kau salah, Roxxie... Setelah Avidite dikalahkan olehnya, karena itu adalah kerajaan dan pemukiman terdekat, kekuatan tuan telah menciptakan Aura Shock yang mencapai pada radar kerajaan Durui.. dan lagi...... Aku daritadi merasakan sesuatu yang aneh di atas langit"
Kemudian Ryzen berkata..
".. pasti ada sesuatu yang terburu-buru..."
Disini mereka berempat berhenti berjalan dan Shoji berkata..
".. terburu-buru? Apa maksudmu?..."
".. aku mengatakan ini sebagai seorang Crusader, para Crusader cenderung sensitif dan terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu yang berhubungan dengan aura jahat, mereka menyimpulkan anda sebagai ancaman dan bersiaga untuk menghadapi ancaman tersebut, pada titik ini seharusnya mereka hanya cukup mengirim pasukan pengintai untuk melihat keadaan, tapi kenapa mereka sampai bersiap seperti itu, situasi berubah serius... seakan ingin berperang besar..."
..
".. Perang besar? Bodoh sekali, berperang tanpa mengetahui alasan peperangan terjadi... Aku ingin menyebut itu sebagai Pembantaian..." Kata Roxxie sambil mengeluarkan pedangnya..
".. jangan terlalu berlebihan, Roxxie... lihat, punggung mu sepertinya sedikit kesakitan, aku akan menyembuhkannya bahkan sampai ke titik sel-sel..."
Ucap Sylvia yang tersenyum sambil berjalan maju dan posisinya berdiri di samping Roxxie.
Shoji tersenyum tipis ke arah Ryzen, ia menepuk pundaknya dan berkata..
".. kau lihat itu Ryzen? Tenang saja, selama kita tidak melakukan kesalahan maka kita akan selalu benar... Jika ini yang mereka lakukan maka kita hanya perlu menjelaskannya, meskipun itu harus sedikit menggunakan kekerasan.."
Shoji berjalan ke depan dan berdiri di tengah-tengah Roxxie dan Sylvia, mereka benar-benar serius dengan ucapannya, disisi lain Ryzen merasa dia tertinggal, Ryzen berkata dida. Hati nya..
".. mereka semua..... Apa-apaan ini? Naluri ku mengatakan untuk mundur, tetapi intuisi mereka adalah maju dan menang... Aku yang seperti ini terlihat menyedihkan, jika seperti ini...."
Ryzen berjalan menuju ke-tiga rekannya dan berdiri disamping Sylvie... Ryzen tersenyum tipis sambil berkata...
".. jika seperti ini bukankah akan menarik? ..."
Formasi Shoji, Sylvia, Roxxie dan Ryzen yang hanya berjumlah lima orang berdiri di atas bukit kecil untuk melawan tiga anggota Sanzein dengan tiga ribu pasukan khusus yang berada jauh di depan..
..
Di dalam hati, Shoji tiba-tiba merasakan kegelisahan... berpikir apakah ini yang seharusnya ia lakukan..
".. semenjak aku tiba di dunia ini, pertarungan demi pertarungan telah terjadi, aku sering bertanya-tanya apa peran ku di dunia ini? Sebagai penjahat? atau disisi kebaikan? Jika mereka menyembah Dewa meskipun dewa tersebut tidak menganggap umatnya, maka itu hanya urusan pribadi mereka... Apa yang kulakukan? Sebagai penjahat? Jika begitu maka alasan apa yang membuat ku berbuat kejahatan? Apakah kekerasan selama ini begitu berarti? Kerajaan Durui... Mereka terlihat tidak ingin bernegosiasi dengan normal, jika seperti ini cara yang mereka lakukan, aku hanya perlu mengikuti permainan mereka.. apa menurutmu soal ini, Astaroth?..."
".. bertanya kepada ku mengenai perasaan manusia, apa kau benar-benar kehilangan akal? entahlah, yang sudah jelas adalah mereka yang menyembah para Dewa di dunia ini tidak mengetahui apapun tentang apa yang sebenarnya terjadi, tugasmu hanya memberikan mereka sebuah fakta sebenarnya meskipun itu akan merenggut beberapa nyawa..." Jelas Astaroth..
Shoji pun bergumam..
".. meskipun begitu, tujuan utamaku disini adalah untuk bertemu dengan kakak ku, jika dengan membunuh mereka ( para dewa ) akan mempertemukan ku dengan kakak ku.... Itu tidak buruk..."
Shoji memasang ekspresi wajah yang menyeramkan, senyum tipis itu adalah senyum pembunuh, Ryzen Roxxie dan Sylvia tidak mendengar apa yang sebelumnya Shoji gumam-kan...
".. T..tuan, apa kau baik-baik saja??.."
".. ah.. tidak, tidak apa-apa... Kalau begitu, kita sebaiknya cepat selesaikan ini..." Ucap Shoji..
Ryzen, Roxxie dan Sylvia bersama mengatakan..
".. baik!..."
..
Dari depan gerbang kerajaan Durui, Divisi ketiga milik Shamp telah bersiap, salah satu dari pengintai mereka berkata kepada Shamp..
".. Tuan, mereka berjumlah sekitar empat orang dan sedang berdiri tegak di sana.. apa anda memiliki perintah?..."
".. tidak, tidak untuk sekarang... Bagaimana perintah mu, Dabehon?..."
Disampingnya, Dabehon sedang menatap jauh dan terfokus kepada Shoji, Dabehon benar-benar mengunci targetnya kepada Shoji, ia kemudian berkata..
".. sepuluh menit dari sekarang, kita akan melakukan penyerangan... Di depan adalah Medan perang, para warga juga telah di Evakuasi.. iblis yang sedang berdiri disana adalah yang harus dihancurkan!..."
Tannala berkata..
"..hanya tiga ribu? Ku pikir ini terlalu berlebihan.. sepuluh menit yang kau ucapkan sebelumnya sekarang tersisa tujuh menit, maka...."
Tannala berteriak memberikan perintah kepada seribu pasukannya..
".. Divisi dua, Tannala Pogratt.. memerintahkan kalian untuk bersiaga, bersiap akan serangan dan majulah hingga titik darah penghabisan!..."
Tepat setelah mengatakannya, suara teriakan semangat pasukan yang berjumlah seribu prajurit itu terdengar menggema!..
"..Ka..kalau begitu, untuk semua prajurit Divisi tiga, Shamp.. dengan ini diriku mengizinkan kalian semua untuk menyerahkan segalanya! Bunuh apa yang harus dibunuh! Apa kalian siap, huh!!!???..."
"..SIAP!!!..."
Teriakan pasukan divisi Shamp terdengar lebih keras daripada pasukan Tannala...
Sementara pasukan khusus milik divisi utama yaitu divisi Dabehon sendiri hanya diam dan memfokuskan segala pandangannya kepada Shoji serta rekan-rekannya, hal ini mereka lakukan karena pelatihan Dabehon yang melatih agar memfokuskan pandangan kepada buruan utama, hilangkan suara di pikiran dan satukan hati mu dengan alat-alat perang mu..
...
......................
......................
......................
......................
......................
Sepuluh menit telah berlalu, suasana mencekam yang mereka ciptakan membuat aura disekitarnya menjadi tegang! Aura itu sempat dirasakan oleh Shoji, hingga ia berkata..
".. mereka semua benar-benar memusuhi ku, jika begitu maka....."
Tepat setelah mengatakannya, Shoji kembali memasuki mode sok kuatnya, dia berdiri dengan menyilang kan tangannya!
...****************...
...****************...
"... T..tuan, ini....."
Roxxie merasakan, sensasi yang sama seperti sebelumnya ketika mereka menghadapi Avidite, Tekanan berat dan panas berwarna hitam yang dikeluarkan Shoji membuat Ryzen serta Sylvia menelan ludah..
...**Glekkk*...
Benar! Saat ini Shoji mulai terbiasa dengan kekuatannya, dirinya sudah bisa mengendalikan diri...
Kekuatan Shoji telah sampai pada seluruh anggota Sanzein...
"... Yang satu itu, sesuai dengan yang kupikirkan..."
Ucap Dabehon sambil menutup matanya..
".. ini berbahaya ya.. dia yang berdiri di tengah, aku yakin dia adalah pemimpin mereka! ******* sialan!! Aura mu mencekam sekali brengsek!..."
Kata Shamp sambil mengangkat pedangnya ke arah Shoji, dia berbicara dengan keadaan sedikit gemetar..
..
Sementara reaksi Tannala...
".. uwahh~.."
ucap Tannala sambil memegang dagu nya dengan kedua tangannya, Wajahnya memerah tersipu-sipu!
Para bawahannya sadar akan suara Nyonya Tannala yang biasanya dikenal menyeramkan kini berubah menjadi sangat imut!
Ketika mereka semua dan Shamp menoleh ke arah Tannala, dengan cepat Tannala membalasnya dengan tatapan yang lebih tajam!
".. kenapa dengan mata kalian, huh? Ku bunuh kau!...."
Kondisi hatinya berubah drastis dengan sangat cepat!..